Minggu, 27 Januari 2013

CINTA TAK TERBALAS





Senang melenggang
Di tepi riak-riak ombak
Berkejaran tiada lengang
Cahaya keemasan berteriak
Memantulkan suara-suara pada dahan yang bergoyang riang
Masih sama pada cerita ini
Hati masih terpatri
Pada kisah-kisah suram di ujung  pulau
Nestapa itu masih tak berujung
Titik-titik Kristal masih membasahi dedaunan hijau yang melekat erat. Dibalik jendela terlihat sinar cahaya mentari bermunculan terang benderang, memamerkan senyum sumringah yang dibaluti gincu berwarna keemasan.
Gadis manis itu sibuk mengotak atik hpnya. Ia terlihat sedang menungggu seseoraang yang akan menjemputnya. Rambut yang terbalut jilbab berwarna pink soft, tampat indah. Wajahnya berseri, pipinya chabi. Bajunya berwarna hitam membalut seluruh tubuhnya. Ia adalah Noni. Noni sepertinya akan pergi ke suatu tempat. Pakaiannya saja terlihat rapi sekali. Dia tampak gelisah. Dari tadi memperhatikan arlogi yang terletak disebelah tangan kirinya.
Detik demi detik ia menghitung jam, terlihat pria tinggi membawa motor kesayangannya berteriak memanggil Noni. Noni bergegas menuju luar. Dan mengatakan “bentar ya, aku pakek sepatu dulu”. Pria tersebut mengangguk. Pria itu bernama jojo. Jojo adalah teman Noni waktu SMA. Hanya saja dia dibawah Noni satu tahun, sehingga Noni memanggil Jojo  dengan sebutan “adik”. Mereka tampak akrab, karena satu sama lain menggap kakak dan adik.
Senyum yang terpancar dari wajah Jojo sungguh membuat hati Noni senang. Mereka melewati jalan berliku, bergelombang untuk sampai ke tempat tujuan.. entah berapa kilometer yang mereka tempuh. Di perjalanan mereka asik bercanda. Menceritakan berbagai ilmu dan kebahagian. “dek, kamu kok makin gemuk sih ?”celetuk Noni.”masa sih kak ? tapi bagus kan kalau adek gemuk, daripada kurus kayak dulu ?” ia sih, tapi ya segini aja  uda bagus kok, gak usah diapa-apain lagi” sahut Noni. Jojo pun mengangguk dan berterima kasih bahwa kakaknya begitu perhatian padanya.
Cuaca sore itu cerah sekali. Burung-burung tampak riang, bertengger di atas pohon cemara. Bercengkrama di balik ilalang-ilalang tinggi. Indah kuasamu ya Tuhan. Aku merasa bahagia berada di dunia ini. Apalagi bila berada di dekatnya setiap hari. Setiap hari Tuhan. Berada di dekat dia. Dia yang selalu  aku anggap lebih dari seorang adik.”ucap Noni dalam hati”. Ketika sampai ke tujuan, mereka langsung duduk, meneguk minuman dingin dan satu buah kelapa muda. Terbayarkan rasa haus dari teriknya matahari di perjalanan tadi. Saat semilir angin menyentuh pori-pori kulit, rasanya sungguh menakjubkan ini memang masih berada dalam kuasa Tuhan. Subhanallah.
Semut berjalan mondar-mandir. Suara ayam tak terdengar lalu, tetapi suara lolongan anjing mulai berisik, meraba-raba telinga. Maklum, orang yang tinggal di pantai tersebut mayoritas orang cina dan flores. Pasir putih yang terdampar luas bak mutiara yang diciptakan untuk seluruh makhluk hidup di muka bumi ini. Kian senja kian syahdu. Sungguh syahdu, terpaku malu pada matanya yang hitam, bulat, dan alis yang tebal, indah sekali.
Kami berjalan menyelusuri pantai. Berlari-larian ombak di depan kami. Nyiur seolah menari menyambut kedatangan kami. Tapi sayang, sampah dari laut berhamburan kedaratan. Tak mengenakkan mata. Kami berjalan, tiba-tiba Jojo memegang tangan Noni. Noni lantas terkejut, tapi difikiran Noni mulai jauh, dadanya terasa bergetar, getaran itu aneh sekali. Jantungnya berdegup kencang, tak seperti biasanya. Noni gugup, tangannya berkeringat, pelan-pelan ia lepaskan genggaman Jojo. Noni mengalihkan pandangaan Jojo. Ia cepat-cepat melepaskan tangan yang di genggam erat oleh Jojo. Jojo tersenyum melihat tingkah Noni. Sepertinya ia tahu sesuatu, tapi mencoba tidak mengungkapkannya kepda Noni. Maklum takut, kalau-kalau kakaknya itu menjadi malu.
Senja yang dari tadi hampir menjemput alam, kini telah hilang diperaduan.warna kuning keemasan tadi tak tampak lagi, malam berganti gelap gemerlap, mendung, awan hitam tampak satu persatu melangkahkan kaki ke parmadani langit. Langit yang mula biru berubah menjadi kelabu bercampur merah jambu. Sudut-sudut pantai tampak lampu-laampu serongkeng minyak tanah, dan lampu-lampu diesel sudah dihidupkan. Dari kejuahan terlihat indah kelong-kelong ikan yang banyak sekali. Aku menatap ke langit luas, berbicara pada rembulan digeluti riak-riak ombak yang menghantam karang di ujung pantai. Aku masih berharap rasa ini bukan rasa cinta, tapi rasa sayang terhadap seorang adik. Jangan, jangan, itu saja yang terbesit dalam benakku.
Tiba-tiba dari kejauhan Jojo mengagetkan lamunan Noni. Jojo duduk di samping Noni. Ikut serta melihat ke arah pantai. Ia berkata “Seandainya saja yang ada di sampingnya saat ini bukan kakakku, pasti sudah kumanjakan dia”celetuk Jojo dalam hati. Noni kemudian mengatakan sesuatu kepada Jojo.” Jo, kamu tahu gak kenapa bumi ini bulat ?”tidak kak, emang kenapa ?”jawab Jojo singkat,”karena ALLAH memang adil, dan itu kuasanya, coba kalau ALLAH menciptakan bumi itu cekung, pasti kita udah menjadi manusia-manusia pipih. Hahahah .. sontak Jojo tertawa…”apaan sih kamu kak? Gak lucu tahu, garing ..”sahut Jojo lagi. Noni pun mengejar Jojo. Mereka saling kejar-kejaran. Wajah keduaanya senang sekali. Apalagi wajah Noni. Tampak sumringah sekali.
Malam mulaai menutupi siang. Cahaya bulan memantulkan sinar-sinar jingganya ke laut, hingga air berubah menjadi bening-bening rindu, dan rindu meretas menjadi kelabu. Jojo dan Noni bergegas pulang. Kenangan di pantai itu, senyum lepas itu, pegangan tangan itu, arti sebuah kerinduan yang membunuh itu, tak akan pernah aku lupakan. Jojo mebelokkan motornya dan Noni duduk di belakang Jojo.”oh ya dek, kita mampir dulu ya ke rumah teman kakak, mau kan ?”iya kak, tapi temennya cewek atau cowok ?”Tanya Jojo.. cewek kok dek, emang kalau cowok kenapa dek?”males aja kak, ilfil adek kalau sama cowok!”, ohh , gak kok dek, cewek teman kakak tuh.
Perjalanan pun di mulai. Pohon-pohon rindang seolah mengucapkan selamat tinggal. Angin semakin dingin, menusuk ke ulu hati. Ilalang-ilalang tersenyum bak anak kecil yang hidup dan memberi hormat kepada kami. Aku senang melihat itu semua. Aku senang, senang sekali hari itu.
Setibanya di rumah Leni, kami menunggu untuk di bukakan pintu. Aku memanggil-manggil Leni, kemudian Lenipun keluar. Leni adalah sahabat Noni. Ia tinggal tak jauh dari pantai yang kami kunjungi tadi. Leni anak yang baik. Ia sosok wanita yang anggun, cerewet, humoris, pecicilan, dan suaranya yang khas membuat aku ingat waktu masih semester 3, suatu kejadian yang lucu ..
Waktu itu Leni dan aku diundang disebuah acara. Tepatnya di Universitas Poltek Raja Haji. Aku diundang mengaji dan Leni diundang untuk membaca gurindam. Kami duduk di kursi nomor tiga paling tengah. Setelah selesai mengaji, masih banyak lagi di lanjutkan dengan sambutan-sambutan yang lain. Leni bertanya-tanya mengapa bagian ia selalu di belakang ? aku tertawa saat ia berbicara seperti itu. Leni kemudian menjadi murung “sudahlah Len, usah kau fikirkan, sebentar lagi namamu pasti dipanggil. Selang beberapa menit aku berbicara seperti itu, nama Leni langsung dipanggil. Senyum manis dibibirnya begitu mempesona. Leni maju dengan penuh percaya diri. Leni langsung melantunkan ayat-ayat gurindam dengan fasih. Aku yakin, siapapun yang mendengarnya pasti langusng terpesona. Lihat saja, burung-burng dan para semut sangat menikmati. Parasnya yang manis membuat siapa saja yang melihatnya langsung klepek-klepek. HAHAHA …
Aku tertawa jika mengingat cerita itu. Leni sangat malu ketika aku menceritakan kejadian itu kepada Jojo. Aku berinisiatif untuk solaat magrib. Selesai solat, ku panjatkan doa untuk kedua orang tuaku, dan yang terakhir untuk jodohku nanti. Aku selalu ingin mendapat yang terbaik di dunia maupun di akhirat. Amin …
Terlihat di luar kedua sahabatku asik mengobrol. Aku menghampiri mereka. Senang bisa tertawa bersama mereka. Aku juga senang jika Leni dan Jojo akrab. Malam itu Leni tak dijemput oleh pacarnya. Karena pacar Leni kerja. Hari mulai gelap, aku bergegas pulang ke rumah. Motorpun dihidupkan dan melaju dengan cepat. Di perjalanan aku yang membawa motor, karena aku ingin belajar membawa motor kopling, maklum motor si Jojo kopling. Jadi sambil berenang minum air gitu. Hahaha ..
Malam semakin larut, bintang gemintang semakin tinggi. Rembulan tampak berbicara pada daun-daun hijau yang dipantulkan oleh sinarnya. Jangkrik-jangkrik bergumam syahdu diantara ilalang-ilalang kering. Badanku menggigil. Tapi Jojo tak menghiraukanku. Ia asik dengan lagu-lagi yang ia putar, sedangkan aku sibuk mengendalikan sepeda motor yang tak terlalu aku mengerti. Aih .. sungguh kejama dikku itu. Gak lihat apa kakaknya sudah kedinginan, sesak nafas lagi. Jojo kaget ketika aku tiba-tiba memberhentikan motor.”kenapa kak?”kakak capek dek, gantian ya ?”jawabku..”yauda ga papa kak, biar adek aja yang bawa motornya” jawabnya lembut …
Motor itu dibawa dengan kecepatan yang begitu tinggi. Mulutku komat kamit seperti dukun yang hendak mengobati pasiennya. Sesekali aku terkejut dan tak sengaja menepuk pundaknya. Ia terkaget-kaget. Aku tertawa cekikikan di belakangnya. Kecepatan ditambah lagi. Aku bingung mengapa begitu cepat ia membawa motornya. Aku takut mengganggu waktunya. Walau ini baru jam 8 takut saja ia ada keperluan lain. Inikan malam minggu. Aduh aku ini bodoh banget sih? Aku memaki-maki diriku sendiri. Padahal aku hanya kakaknya, kenapa aku harus bertanya, biasa aja dong Noni.. aku mengalihkan pikiranku ke yang lain, tapi tetap saja aku masih penasarn. Berfikir positif dong Noni, yakin kalau dia itu tidak apa-apa, dan hanya ingin cepat sampai, makanya bawanya ngebut gitu. Aku gelisah sendiri di belakang. Tapi aku tak menampakkan wajah gelisah itu ke arah Jojo. Ingat Noni, dia itu adik kamu. Gak boleh kamu mengharap lebih ke dia. Dia itu gak pernah ngasih sayang yang lebih, kalaupun lebih, sayang itu hanya sebatas sayang adik kepada kakak. Mendengar suara-suara aneh yang berdenging ditlingaku, air mataku merembes deras di pipi kiri dan kananku. Aku cepat-cepat mengusap, takkut ketahuan sama Jojo. Aku sampai, dan Jojo langsung buru-buru pamit pulang.
Aku mengirimkan sebuah pesan singkat, yang berisikan ucapan terima kasih, karena udah mengajak aku jalan-jalan. Tapi pesan itu tak dibalas oleh Jojo. Aku hanya diam di dalam kamarku. Perasaan ku malam itu senang tak trhingga. Bunga-bunga yang ada di luar rumah seolah merasuk ke dalam kamar dan berhamburan ditempat tidurku. Aku serasa terbang, terbang kelangit ketujunh. Ku tampar-tamparkan wajahku, dan aaku berbicara.. “ini gak mimpi kan? Sumpah romantic kejadian seromantis ini tak pernah aku alami sebelumnya.
Aku masih penasaran atas hati adikku itu. Aku jadi teringat waktu aku menceritakan sosok pria yang aku kagumi di kampus. Responnya gak enak banget, dia ngomong gini” kak, cewek itu gak pantes ngejar-ngejar cowok, bagusnya itu dia yang ngejar kakak, bukan kakak yang ngejar dia” itu sih saran adek”. Aku langsrdiam seribu bahasa. Akku berung Tanya-tanya, apa arti dari semua ini ? apa ini memang sebuah saran dari seorang adik kepada kakaknya ? ya ALLAH, aku semakin bingung. Perasaanku campur aduk. Ku buang jauh-jauh perkataanya. Aku yakin ia hanya ingin yang terbaik buat aku, buat kakaknya, bukan buat siapa-siapa.
Aku masih kepikiran dia. Suara, tingkah, senyum, sorot matanya, semua masih tentang dia. Aku rindu. Terkadang aku merasa, rindu itu menyakitkan. Kasih sayang itu membunuh perlahan. Tapi aku butuh, butuh semua itu. Semua yang berhubungan dengan cinta. Tapi apakah mungkin ? aku bagaikan musafir di padang tandus.pasir-pasir putih tadi berubahh menjadi debu-debu gurun pasir yang menyelimuti tubuhku. Aku kepanasan jikalau siang, dan kedinginan jika malam menjelang. Aku musafir cinta, tetap haus akan cinta. Aku tak ingin seprti Qays yang gila karena cinta. Aku akan membagi cintaku terhadap ALLAH dan dia. Dia yang menjadi kekasihku nanti.
Cerita ini masih menjadi kenangan terindah di dalam hidupku. Hati masih berharap ia menganggap aku lebih dari seorang kakak. Air mataku jatuh, saat tinta-tinta ini kugoreskan pada secabik kertas. Aku masih menunggumu dik ….

Cerita ini ku ukir lagi
Pada rona-rona misteri
Masih terjebak dalam satu makna perih
Lirih apakah akan berujung sedih ?

Noni menatap wajahnya dalam di layar kaca. Tampak kusut, bak baju yang belum distrika. Ia masih santai menghadapi hari-hari yang penuh dengan sesak. Baik itu sesak hidup, kuliah, tugas, dan pekerjaan. Semuanya ia lalui dengan keikhlasan. Berharap semua yang ia jalani dan hadapi memiliki makna. Ia selalu berpegang teguh pada semboyan “semua masalah pasti ada jalan keluarnya” that’s true .. haha .. ia ketawa cekikikan. Tak ada yang mendengarnya. Ia terasa aneh berada terus-teerussan di depan layar cermin. Aih gak bakalan berubah juga sinar wajahnya.”gumamnya sekali lagi”.
Noniiiiiiiiiiiii .. buruan bangun, mandi. Kok kamu itu kayak anak kecil aja, yang tiap pagi harus diteriakin gini. Kakak Noni sibuk berteriak. Ia tak menyadari bahwa adiknya telah bangun sejak subuh tadi. Hanya saja selesai sholat, Noni tak beranjak dari kamar, dan malah merenung di depan sebuah cermin.”ia bentar kak, aku lagi beresin kamar nih” sambung Noni singkat.
Kegiatan pun dimulai. Noni sibuk merapikan jilbab dan bajunya. Ia harus selalu tampak rapi. Seolah-olah sudah seperti orang penting dan sibuk saja. Baju berwarna coklat menyelelimuti tubuhnya. Jilbab rapi sekaligus dengan bros bunganya, aih Nampak anggun sekali wanita itu. Kontras kehidupan semasa ia kecil dulu sungguh sangat mudah terbalik dengan Noni yang sekarang. Noni yang sekarang telah menjadi wanita dewasa yang cukup disegani banyak orang. Tapi, kisah percintaannya selalu saja rumit dan kandas di tengah jalan. Lebih-lebih lagi bila ia yang mengejar, selalu saja pria itu berlari entah kemana. Noni semakin hari semakin baik, tapi kenapa kisah percintaannya semakin pahit ? sontak ia pun tak mengerti dengan keadaannya itu. Walau terkadang ia bahagia bersama rekan kerja dan teman sejawatnya, tetap saja hatinya berkisah tentang seorang adik yang sedang menuntut ilmu nun jauh di kampung sebelah. Kampung yang sama sekali tak pernah ia jejaki kaki di sana. Suatu saat, ya suatu saat nanti aku pasti akan ke sana, hanya karena ingin melihatnya diwisuda, dengan toga yang membaluti kepalanya dan ijazah yang digenggamnya.”hati Noni berbicara”
Khayalan demi khayalan selalu membuat hati Noni sakit. Sakit yang berujung bahagia itu baik, tapi bila sakit hanya berujung sakit kembali, itu adalah sia-sia. Sampai saat ini Jojo masih menggantungkan sikap yang sama. Sikap sayang seorang adik terhadap kakak. Sepertinya Jojo punya cara tersendiri untuk membahagiakan Noni. Noni sendiri hampir tiap hari harus menelan ludah dengan balasan dan pesan yang dikirim oleh Jojo lewat via sms. Misalnya : “dek, kamu jangan lupa sholat ya”, sontak Jojo membalas,”iyaa sayang ..”aih apa gak berbunga-bunga hati Noni. Padahal hanya kata sayang. Sayang itu bisa banyak arti. Bisa aja ssayang untuk kakak, adik, atau pun pacar. Sampai sekarang Noni masih menggaap itu semua gaantung. Tidak punya makna apa-apa bagi Jojo, dan memiliki makna yang berarti bagi Noni. Mungkin itulah kenyataannya.
Komunikasi dijalankan dengan sempurna oleh Noni dan Jojo. Meski tak setiap hari, satu sms selalu Noni kirimkan terlebih dahulu. Apalagi untuk mengingatkan sholat, pasti ia tak segan lagi memencet tombol dan mengirimkannya kepada Jojo. Ia tak berfikir lagi apa respon Jojo. Yang terpenting ia selalu mengingatkan, dan tak ingin dianggap menghilang oleh Jojo.
Lamunan Noni tersentak tiba-tiba, ketika kakaknya yang sedang menyapu di halaman mengagetkan pundaknya. “Hayyoo .. pagi-pagi udah bengong aja. Liat tuh jam berapa ? gak mau ngajar apa ?”. Noni kaget tak terhingga. Ia langsung menghidupkan sepeda motor, dan melaju cepat kearah tujuan. Noni mengajar dengan hati yang masih bimbang. Hanya saja ia selalu professional dalam bekerja. Bila ada masalah sekalipun ia tetap tenang dan santai menghadapi anak-anak muridnya. Noni tetap saja manusia yang tegar, penuh pengorbanan dan selalu optimis dan ambisius dengan apa yang dicita-citakannya. Noni ingin menjadi guru yang professional. Tidak hanya guru bagi anak-anak muridnya di sekolah, tapi ia juga ingin menjadi guru professional di rumah tangganya kelak.
Kehidupan Noni berubah sepeninggalan ibunya. Ia belajar mandiri semenjak ibunya meningggalkan Noni. Sejak itulah ia mulai mencari uang. Baik itu untuk jajan, dan untuk membeli buku. Kehidupan Noni sungguh rumit. Apalagi soal keunggan, ia pasti sedih bila disinggung-singung masalah itu. Dulu masih ada ibu, hidup aku gak rumit-rumit gini kok. Aku mau ini diberi, mau itu diberi, apa yang aku mau pasti ibu membelikannya. Aish, aku jadi serba salah. Seolah-olah aku menentang hidupku sendiri.. bersyukur dong Noni, bersyukur masih diberi kebahagian oleh Allah. Jangan ngeluh terus, yakin bahwa Allah selalu bersama kita. Bukan masalah berprasangka yang gak-gaak gini.” Telinga Noni setengah berdenging, serasa ada yang membisikaannya dari dalam kalbu Noni. Noni sontak terkejut dan menyadari, bahwa selama ini Noni salah akan pembelaan terhadap dirinya sendiri. Noni nyengar-nyengir sendiri. Kelas yang di ajarnya pun usai seketika saja. Noni cepat-cepat bergegas ke rumah Maya. Ia akan segera menjemput Maya. Maya adalah sahabat karibnya di kampus. Mereka selalu berdua, kapanpun dan dimanapun. Sesampai di teras rumah Maya, Noni berteriak, karena hari itu mereka ujian, jadi Noni tak ingin mereka terlambat sampai ke kampus.
Cuaca hari itu benar-benar tak mendukung. Langit mendung, angin menusuk-nusuk ulu hatiku. Tetapi tak seperti biasanya pula, burung-burung wallet beterbangan di angkasa. Bersenda gurau saling tertawa satu sama lain. Penuh dengan kejutan hari itu. Kuasa ALLAH memang tak pernah bisa di pungkiri. Satu persatu warna langit berubah dari biru, menjadi putih, kemudian biru lagi dan seketika berubah kemerah-merahan

Celetuk teman
Aku masih tetap bertahan
Pada detik-detik yang memudar
Lihat sekelilingku bimbang
Gencar mengerjakan tugas
Panutan untuk ujian
Itulah harapan

Sinar mentari tak secerah yang dibayangkan. Riak-riak air dari selokan depan tampak lancer. Titik-titik Kristal, ternyata telah jatuh sekitar sejam yang lalu. Tampak wanita dan pria duduk memenuhi serambi depan kampus Noni. Noni telah sampai sejak tadi, dan bergabung bersama pria wanita yang disebutkan tadi. Bangunan tuua itu tampak terlihat sumringah, karena dibalik wajah-wajah tuanya, ia masih dinikmati dan dinaungi oleh para rakyat yang kehausan akan ilmu. Termasuk Noni. Noni adalah Mahasiswa Universitas Erlangga. Ia mengambil jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Tak ayal, jika Noni rajin menulis puisi dan sebagainya. Nonimasih menunggu detik-detik yang menegangkan. Menunggu saatnya ujian tiba. Rekan-rekan sekelasnya sibuk. Ada yang berkumpul, kemudian tertawa terbahak-bahak, pasti mereka sedang menertawakkan anak-anak bau kencur yang lalu lalang di depan mereka. Tabiat mereka memang begitu, selalu saja menertaakan hal-hal yang aneh, apalagi bila hal aneh itu muncul dari caramerka berbicara ataupun berpakaian. Ada juga yang sibuk mengotak-atik hape, yakinlah bahwa orang-oranng seperti mereka bisa saja terkena virus dunia maya, virus kegalauan, atau mungkin membuat contekan? Ah, gak mungkin, ujian kali ini kan openbook, terus tentang statistika lagi. Ada juga yang sibuk membolak-balik catatan, ini calon-calon guru masa depan. Wajah mereka kusut, tampak dari wajah satu persatu tersebut memancarkan kebingungan. Mereka tak mengerti, tapi mencoba mencari-cari referensi untuk belajar mengerti akan ujian yang akan mereka hadapi. Yaah.. Noni berada tepat di kelompok tersebut. Walau kadang Noni sering menyendiri dengan kegiatannya, tapi ia tetap bersih kukuh untuk bergabung dengan mereka. Teman sejawatnya itu memang rajin-rajin. Mereka sibuk mengotak atik kalkulator, mencoba mencari jalan keluar dari catatan dan angka-angka yang tak dimengerti itu.
Alarm di hp Maya berbunyi. Pertanda tepat pukul 16:00 WIB. Mereka semua berhamburan ke dalam kelas. Dengan kemeja putih, rok hitam, dibalut dengan almamater berwarna kuning. Mereka semua tampak gagah. Semangat yang berkobar-kobar tampak dari wajah mereka. Pelajaran yang dihadapi Noni dan teman-temannya sungguh rumit, baik dari segi teori maupun itung-itungan. Semua teman Noni tampak gelisah. Ada yang menggigit ujung pena, ada yang menggaruk-garuk dahi, ada yang wajahnya kusut. Begitu banyak beragam model wajah pada hari itu.  Soal-soal itu membuat hati teman-teman Noni bimbang. Hingga pukul 19:00 WIB pekerjaan itu selesai. Semuanya pada mondar mandir gak jelas, ada yang sibuk mau pulang, tpi belum selesai. Karena sebagaian dari mereka ada yang naik bis kampus. Cuaca di luar kelas sungguh tragis. Awan gelap, tak ada siapapun kecuali kami. Sunyi , senyap , hanya terdengar suara teriakan jangkrik diujung-ujung mushola.  Dengan cepat semuanya berangsur pulih. Kendaraan dinaiki dengan kecepatan yang tak begitu tinggi. Gelap perjalanan Noni dari kampus menuju rumah. Di pertengahan jalan,  mega memuntahkan kemarahannya. Titik-titik Kristal itu berjatuhan tanpa pamit. Langsung menyerbu dan membasahi almamater kebanggaan kami. Kami berteduh, tertawa, karena kami merasa itu adalah pengalaman terindah yang tak akan pernah kami lupakan. Semua bergegas pulang. Hanya suara klakson yang terdengar menejerit-jerit ditelinga Noni saat itu.

Ceritaku bersambung lagi
Goresan-goresan tinta telah terukir indah
Bersama suka dan dukanya rasa
Kali ini cukup berbeda
Aku memulai cerita sang pujangga
Dari 6 bulan berlalu kami bertemu

Enam bulan telah berlalu. Ujian telah usai. Waktunya liburan. Liburan kali ini Noni masih biasa saja. Karena kegiatannya masih sama. Mengajar dan mengajar. Hanya saja ada yang berkurang. Ia sudah tak disibukkan dengan tugas kuliah. Kisah percintaan Noni dan Jojo masih berlanjut. Hanya saja Noni agak sedikit kecewa. Jojo telah memiliki pendamping hidup dalam kesehariannya. Dengan kata lain, Jojo sudah memiliki pacar baru.
Wow … Noni terkejut setelah sekian lama Jojo tak menghubunginya. Ternyata ia sudah mencoba menumbuhkan benih-benih cinta di hati orang lain selain Noni. Noni hanya terdiam dan tertawa ketika mengetahui hal tersebut dari mulut Jojo sendiri. Noni akan selalu bahagia, jika Jojo bahagia. Noni tak pernah memaksakan perasaan adiknya untuk bisa sayang yang berlebihan terhadap dia. Rasa sayang yang Jojo berikan hari ini dan seterusnya, itu sudah lebih dari cukup untuk mengobati perasaan yang sedikit terluka di benak Noni.
Waktu pun berlalu begitu cepat. Perjalanan cinta Jojo bersama pasangan barunya mulai berkembang dan makin berkembang. Benih-benih cinta itu sudah semakin tumbuh dengan kejujurannya dan dengan keikhlasannya. Jojo libur kuliah. Ia pulang ke kampung halamannya. Noni senang mendengar berita itu. Karena pasti ada cerita baru yang ia ukir bersama Jojo di sempitnya masa liburan ini. Tak heran lagi dentang jam yang berbunyi mengisyaratkan mereka berdua untuk pergi berlibur. Tak heran dan tak di khayalkan , semua yang Noni rindukan kembali terukir di sudut-sudut pantai pasir putih itu. Noni dan Jojo kembali dekat dan kembali kemasa silam, bahwa keduanya masih saling merindukan.


Umur memang tak pernah disangka. Noni  yang sudah menginjak umur yang ke-20, semakin minder bila berada didekat Jojo. Jojo saja masih 19  tahun. Noni semakin patah semangat untuk tetep memepertahankan rasa itu. Apakah aku masih pantas berada di sampingnya dan masih pantaskah aku untuk bisa mendapatkan hatinya?” pertanyaan itu bergulir-gulir ditelinga Noni dari ia pergi sampai ia pulang. Kegelisahan hati Noni membuat Noni gugup dan putus asa. Noni hampir tak bisa memepertahankan rasa yang ia pendam selama bertahun-tahun itu.
Riak-riak ombak bekejar-kejaran kian kemari. Anak-anak kecil berteriak menikmati dahsyatnya ombak yang kian memikat. Noni dan Jojo tak pernah ingin melepaskan moment terindah dan moment berlibur mereka. Semua kenangan itu berada dalam satu potret dan satu genggaman. Semua kegiatan yang dialami Noni dan Jojo telah terekam dalam sebuah potret kecil, potret itu menggambarkan dua orang remaja yang sedang merasakan kesenangan yang mendalam. Kerinduan itu terbalaskan sejenak dengan senyuman dan kebahagiaan. Mungkin inilah jawaban dari kisah seorang kakak dan adik. Tetap saja seorang adik tak pernah menyayangi kakaknya secara berlebihan. Ia hanya sekedar menyayangi tak lebih sebagai seorang kakak yang memiliki perhatian lebih untuknya. Tapi Noni tetap sabar menanti dan menunggu jawaban dari apa yang ia rasakan. Mesik cinta Noni tak terbalas, Noni selalu sadar, bahwa Cinta ALLAH yang paling indah, dan cinta kepada makhluk ALLAH tak selamanya bisa terbalaskan. Cinta tak harus memiliki, keihklasan hati akan selalu menyelimuti kesedihan. Jangan menyerah, tetap semangat, ALLAH telah menentukan yang terbaik buat Noni.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar