Sabtu, 04 Mei 2013

Surat Kecil Untuk Mama Bagian 1


Angin membelai lembut rambut pepohonan yang terurai bak sungai yang mengalir deras di ufuk timur. Diantara pohon-pohon yang berdiri gagah ini terdapat kursi-kursi berjajar rapi mengarah ke timur jua. Embun-embun juga masih berhamburan dibeberapa daun-daun yang hampir terjatuh jika disentuh oleh angin-angin lalu yang berhembus. Sungai merapi yang dijuluki oleh anak-anak muda setempat sungguh menjadi favorit yang paling unggul di kota Kembang ini. Kota yang penuh tanda tanya kehidupan dan penuh suka duka percintaan bagi para remaja disana.

**

Pagi-pagi sekali terlihat anak-anak muda mulai berekspresi di tepi-tepi sungai dengan memancing, sekedar duduk-duduk sambil menyantap cemilan, berburu burung yang berkeliaran, bahkan sambil berjalan-jalan ditepian sungai. Sungguh indah tapi penuh tanda tanya. Dari pagi hingga malam. Semua orang, khususnya remaja rajin sekali berbondong-bondong datang untuk berkencan, ngumpul seraya menikmati malam yang mempesona.
**
Memang di sungai ini  aroma suasananya berbeda sekali, hampir tiap remaja asik sampai tak sadarkan diri oleh waktu. Citra dan teman-temannya juga sering datang kesini. Citra senang dengan suasana tempat ini.
Citra adalah Mahasiswa Universitas Padjajaran bandung, jurusan Farmasi. Ia anak yang pintar. Dalam segi kebiologian ia ahlinya. Citra anak ke 4 dari 5 bersaudara. Ayahnya seorang pengusaha besar di Bandung. Sedangkan ibunya adalah seorang wanita karier yang sibuk menanggapi konsumen kesana kemari. Abang dan kakak Citra sudah lama di luar negeri. Mereka memang sudah sukses semua. Citra sering ditinggal oleh papa dan mamanya. Ia sering ditinggal bersama adik dan pembantunya. Tak ayal, setiap yang Citra minta kepada mama papanya, selalu diberikan. 
**
Keseharian Citra sungguh patut dikagumi. Walau hidup dengan kurangnya perhatian, ia tetap menjalani hari-harinya dengan suka cita. Ia aktif dibidang keolahragaan. Dari tingkat sekolah dasar Citra telah mahir bermain volley. Badannya yang semampai dan parasnya yang manis, membuat ia berkesempatan untuk menjadi model iklan keolahragaan. Kerja  kerasnya didunia keolahragaan itu berkat kegigihan dan doa orang tuanya.
**
Cerita Citra yang hampir punah selalu saja di semangati oleh teman-temannya. Citra memang anak yang banyak omong, dan selalu ceplas ceplos. Tak pernah mau diam. Dia juga suka bolos kuliah daripada masuk kuliah. Maklum kedua orangtuanya yang kurang memperhatikannya membuat ia semakin masa bodoh dengan pendidikannya.
Cit, kenapa lo semalam gak masuk? Pak Bob nyariin lo tuh, udah hampir 5 kali pertemuan lo gak masuk, lo gila ya Cit, mau lo di Drop Out dari kampus ini,” tegur teman sebangkunya.

Eh Retno, mending lo diam aje deh, lo tu gak  bakalan ngerti kalaupun gue jelasin, lo semua tuh gak berhak ngomong gini ke gue. Mending lo lo pada urusin hidup lo sendiri deh,” celetuk Citra sambil meninggalkan Retno.

Retno geleng-geleng kepala melihat tingkah Citra yang akhir-akhir ini sudah kelewat batas. Perasaan Retno sebagai teman sebangkunya sangat prihatin melihat tingkah Citra yang seperti itu. “Citra terlalu keras kepala dan terlalu keenakan hidup kaya raya. Apa jadinya jika suatu saat nanti dia menjadi miskin,” Retno bergumam dalam hatinya. Tiba-tiba dari arah jendela terdengar suara teriakan memanggil Retno.

No, woi No , aduh nih anak gak denger apa ya gue udah manggil beberapa kali gini.” Retno yang tadinya melamun memikirkan Citra, tersentak mendengar suara teriakan Roy. “Apaan sih Roy, biasa aja dong manggilnya,” Tegas Retno.

“Eh lu ini, gue kan manggil lu dari tadi, tapi lu nya aja yang gak ngegubris gue, gue mau nanya nih, si Citra kemana ya ? kok gak keliatan, sms gue udah dua hari ini gak di replay, telfon gue juga gak diangkat!,” cerita Roy panjang lebar.

“Gue gak tau deh Roy, emang gue emaknya si Citra. Lo kan pacaranya, lo pasti lebih tau dong kenapa Citra kayak gitu.” “Kayak gitu gimana maksud lo Ret? Kalo ceita jangan setengah-setengah dong Ret,” Sambung Roy.

Gini, si Citra itu udah lima hari gak masuk kampus. Pak Bob dosen pembimbing dia, udah nyariin dia Roy. Pas ketepatan, tadi dia masuk sebentar, terus gue tanyain deh, kenapa dia gak masuk. Eh tau gak apa yang dia jawab, dia malah balik nyolot ngomong ke gue. Yaudah, gue mah bodo amat, yang penting gue udah nyampein salamnye pak Bob. Kalo sampe dia gak ngadep pak Bob besok, bisa-bisa dia di DO dari kampus ini Roy!,” Papar Retno.

Yaa ampun, gue juga bingung mau ngomong apa sama tuh anak. Kepalanya udah kayak batu, keras banget. Gak bisa dikasih tau, sekarang aja dia udah agak menjauh dari gue, dia suka  keluar malam, ke club-club malam bareng temen modelnya. Gue gak bisa apa-apa No, gue cuma bisa lihat dia dari jauh. Gue memang pacarnya, gue sayang sama dia, tapi dia aja gak pernah ngehargain gue, selalu gue dijadiin pelarian dan supir pribadinya. Uang udah ngebuat Citra lupa diri No,” Wajah Roy langsung berubah murung.
**
Perbincangan pun menjadi panjang lebar. Roy dan Retno bertekad untuk menghubungi orang tua Citra. Kesekoan harinya, Roy mencoba menanyakan kabar Citra ke pembantunya. Mobil yang siap dikendarai Roy, sepertinya baik-baik saja. Dengan mengucap bissmillah Roy bergegas ke rumah Citra. Di perjalanan, Roy berhenti sejenak, memandang satu kursi dengan diapit oleh dua buah pohon Rindang. Roy terhipnotis untuk berhenti dan berjalan menuju kursi itu. Kursi itu adalah tempat Roy pertama kali bertemu dengan Citra. Dan disitu pulalah Roy menyatakan cintanya kepada Citra. Roy melihat jauh berkhayal sampai menembus awan. Cerita cinta yang ia ukir bersama Citra bertahun-tahun, hanya membuahkan hasil yang menuju kesengsaraan. Tapi ketulusan hati Roy terhadap Citra membuat Roy tetap tegar dan percaya bahwa Citra adalah wanita sempurna yang Allah berikan untuknya.
**
Sosok Roy yang pendiam dan penyabar, membuat ia masih tegar menghadapi gejolak cintanya dengan Citra. Citra yang keras kepala kerap kali membuat Roy gusar. Hal itu tak selalu dinampakkan Roy secara langsung. Roy terlalu memanjakan Citra, sehingga Citra mudah saja mempermainkannya. Roy masih diam melihat tingkah Citra. Ia hanya berserah diri kepada Allah agar Citra cepat sadar dengan perbuatannya. Tapi apalah daya, Roy hanya bisa berdoa dan tak bisa berbuat apa-apa. Uang yang telah membuat  Citra buta dengan kedaannya sekarang ini.
**
Lamunan Roy yang sudah jauh membuat ia lupa  bahwa ia akan pergi ke rumah Citra. Sesampainya di sana, rumah Citra kosong, tapi Roy mencoba mememncet bel yang hanya berteriak-teriak ditelinganya. Tapi setelah beberapa menit Roy di sana, datang seorang perempuan paruh baya mengampirinya.
“Cari siapa yaa dek?,” Tanya wanita paruh baya tersebut. “Saya mau cari Citra bu, ada gak?.”
“Neng Citra udah dua hari gak pulang den, katanya sih liburan ke Bali, ketempat temannya. Saya juga kurang tahu den.” Yaudah terimakasih yah bik, Roy pulang dulu, kalau Citra pulang, suruh hubungin Roy ya, Roy permisi, Assalamualaikum.”
**
Roy pun berlalu dengan mobil bututya. Ia diperjalannan ia masih memikirkan Citra, kemana sebenarnya Citra pergi. Tanda tanya besar yang mengantui pikirannya masih saja tentang Citra. Roy masih tak percaya jka Citra begitu mudah meninggalkannya tanpa alasan yang jelas. Hari-hari Roy semakin buruk. Roy banyak diam, tugas jarang dikerjakan, ia masih memikirkan sosok Citra yang sangat ia sayangi. Kasih sayang Roy ke Citra terlalu tulus, sehingga Roy sulit untuk melupakan bahkan marah ke Citra.
**
Rentetan cerita antara Roy dan Citra dijawab dengan kepulangan mama dan papa Citra. Citra masih saja tak diketahui keberadaannya. Mama dan papanya pun tak begitu khawatir, karena menurut mereka Citra sudah besar dan sudah waktunya untuk mengambil jalan hidupnya. Didikan orangtua Citra yang terlalu bebas, membuat Citra menjadi keenakan dan tak ingat pendidikan serta untuk pulang. Orangtua Citra rupanya sudah mengetahui masalah Citra di kampus. Tapi lagi-lagi uang yang membuat semuanya baik-baik saja. Mengapa hanya uang yang bisa berbicara? Inilah hukum Negara, rakyat makmur dengan sedikit uang hasil penyelewengan yang di lakukan dengan sengaja.
**
Roy yang sejak semalam bimbang hatinya, langsung menemui mama dan papa Citra. Roy datang dengan hati yang penuh rasa penasaran. Jantungnya berdegup kencang. Ia pasti diusir habis-habisan, karena mama dan papa Citra sangat tidak setuju Citra berhubungan dengan Roy. Roy anak yang terlalu sederhana. Ayah Roy hanya seorang Pengusaha batu bata, sedangkan ibu Roy seorang Ibu rumah tangga. Sungguh Roy tak cocok disandingkan dengan Citra yang cantik dan kaya raya.
**
“Ngapain kamu kesini? Kamu tau kan Citra gak ada, kenapa kamu masih mengejar-ngejar dia? Kamu itu Cuma laki-laki miskin yang tak punya apa-apa! Kamu gak sadar ya dengan diri kamu itu,” Cerca mama Citra kepda Roy dengan mata yang mengerikan.

Maaf tante, saya hanya ingin mengetahui keberadaan Citra, apakah dia baik-baik saja, itu saja kok tante, gak lebih, tante boleh menghinna saya, saya rela tante, asal tante memberitahukan dimana Citra dan bagaimana keadaanya,” ungkap Roy dengan tulus.

Dengar ya anak muda! Anak saya baik-baik saja, dia sedang di Bali mengikuti pemotretan dan menjalani iklannya, kamu anak muda, tolong jangan mendekati anak saya lagi, dengar kamu! Sekarang kamu pergi dan jangan ganggu anak saya lagi.”
**
Ibu Citra mengusir Roy dengan gampangnya. Roy langsung menggas mobilnya dengan kencang. Hati Roy bergetar, ia ingin menangis jika mendengar kata-kata mama Citra tadi. Semua kata-kata hina yang dilontarkan oleh mama Citra masih bergelantungan dipikirannya, terngiang-ngiang ditelinganya. Roy menyetir dengan lambat. Suasana haru merasuk tubuh Roy didinginnya malam saat itu. Roy berhenti disalah satu tempat. Tempat para anak muda berkumpul untuk meluahkan keluh kesahnya. Roy menyendiri diantara kursi yang diapit kedua pohon. Yah, masih pada kursi yang sama. Roy duduk termenung. Memikirkan keadaan Citra yang katanya baik-baik saja. Roy menyimpan rindu yang mendalam kepada Citra, kekasihnya. Tapi apakah Citra juga memikirkan dan merindukannya. Roy yakin Citra merindukan ia. Ia selalu meyakini hatinya sendiri, tanpa tahu apa yang sebeneranya terjadi. Roy pulang dengan tangan hampa. Tapi apalah daya, kebahagiaan yang ia miliki belum tertutup rapat. Karena dengan ia mengetahui keberadaan Citra, ia sudah cukup bahagia, walau sesungguhnya pahit lah yang ia telan setiap hatinya mengingat Citra.
**
Beberapa bulan kemudian, terdengar kabar buruk ketelinga Roy. Roy mendengar bahwa Citra hamil. Citra hamil ketika ia masih di Bali. Roy tak percaya, ia yakin pacar yang ia anggap sempurna, pasti tak akan pernah mengecewakannya. Roy menangis. Menangis sesunggukan. Ia masih tak percaya. Apakah ini takdir Tuhan. Tidak.. Tuhan tidak akan pernah memberi cobaan di luar batas kemampuan manusianya. Roy percaya itu. Roy masih saja sibuk menelpon Citra. Tapi gagal dan terus menerus gagal. Hati Roy hancur berkeping-keping. Mengingat apa yang telah terjadi saat itu. Purnama  pun tak muncul malam itu. Mendung bberdetak-detak petir menyambut keadaan ini. Tak seorang pun membelai Roy dengan kata-kata motivasi. Roy terhimpit sendiri. Bak orang gila yang berada diantara gang-gang sempit. Roy menangis disudut-sudut titik Kristal malam itu. Apakah ini cobaan Tuhan? Apa yang harus aku lakukan? Aku terlalu sayang padanya. Tetapi mengapa ia setega itu kepada dirinya sendiri dan kepada aku?
**
Suasana yang haru menyeruak hebat malam itu. Burung pun enggan bernyanyi merdu hingga fajar datang. Kemudian kembali ke senja pula. Masih sama haru itu masih menggrogoti sisa hari-hari Roy. Rindu yang Roy pendam berhari-hari bersama purnama lalu pecah berkeping-keping. Kepercayaan itu sekarang sudah retak dan hampir hancur. Roy seperti orang gila yang haus akan doa-doa sang Khalik. Roy masih saja menangis di tempat ia pertama kali bertemu dengan Citra.
**
Sepoi angin membawa Retno kecerita Citra. Ternyata Retno sudah mengetahui hal itu sejak beberapa hari sebelum Roy tahu. Retno sengaja bungkam dan tutup mulut. Karena ia tak ingin dituduh sebagai pengadu domba. “Lebih baik Roy tahu sendiri masalah ini, aku yakin lama kelamaan Roy akan tahu siapa Citra yang sebenarnya. Citra yang ia anggap baik dan setia, ternyata terjawab sudah bahwa ia seorang yang keras dan tak tahu etika,” Papar Retno geram. Sekarang nasib Citra sudah diujung tanduk. Citra yang ditemui Retno beberapa hari lalu itu mengatakan bahwa ia akan menggugurkan kandungannya. Ia tak mau oranng lain dan media tahu akan kandungannya itu. Lagi pula ia juga tak tahu siapa ayahnya.
**
Di ruangan apartement Citra, Retno datang. Kemudian kedua wanita itu berbincang serius. Ternyata benar dugaan Retno bahwa Citra ingin mEnggugURkan kandungannya. Karena laki-laki yang menghamili Citra lari entah kemana. “lo gila yah Cit, itu anak lo, darah daging lo, masak lo tega ngebunuh anak lo sendiri. “bukan gitu Ret, gue udah terlanjur malu, gue gak mau sampai orang tahu, apalagi papa dan mama, bisa dibunuh gue Ret,” ujarnya dengan wajah yang panic. “Ya Allah Cit, dimana sih perasaan lo? Dimana rasa keibuan lo? Lo berani berbuat, berarti lo harus bertanggung jawab atas semuanya! Cit, sadar dong, pikir lagi apa yang lo bicarain tadi,” Tegas Retno penuh amarah. “Tekad gue udah bulat Ret, besok pagi lo temenin gue ke dokter kandungan, dan gue mohon sama lo, jangan kasih tahu siapapun, apalagi ke Roy, gue gak mau sampe Roy dan keluarga gue tahu, plisss Ret, pliisss tolong gue sekali ini aja,” rengek Citra kepada Retno. Retno tak berkata apa-apa, ia hanya mengangguk.
***

APAKAH CITRA AKAN NEKAT MENGGUGURKAN KANDUNGANNYA? BAGAIMANA SIKAP ROY KEPADANYA? APAKAH LAKI-LAKI YANG MENGHAMILI CITRA AKAN DATANG ? TUNGGU YA TEMAN-TEMAN :)


  




Tidak ada komentar:

Posting Komentar