Jumat, 10 Mei 2013

Surat Untuk Mama Bagian 2


Semuanya berjalan lancar. Citra berhasil menggugurkan kandungannya. Selang beberapa hari saat kejadian itu berlangsung, Citra langsung bergegas pulang ke Bandung. Orang tua Citra yang sudah seminggu pulang, akhirnya bisa memeluk kembali buah hati yang sangat mereka banggakan tersebut. Semuanya kelihatan baik-baik saja. Citra sangat-sangat bisa menutupi semua kesalahannya. Sungguh manis bibir Citra di depan kedua orangtuanya. Orangtua Citra merasa ada yang aneh dengan anaknya. Kemudian mereka bertanya : “Wajah kamu kenapa pucat seperti itu nak? Kamu sakit ya?, jawab jujur ya, mamah dan papa gak mau kamu kenapa-kenapa,” tanya mama Citra penuh rasa khawatir. “Gak pa pa kok mah, Cuma agak pusing dan kurang tidur aja, terlalu banyak kegiatan disana,” jawab Citra gugup. Mama dan papa Citra pun mengangguk dan langsung kembali ke kamar.
**
Di suatu tempat, tak begitu besar. Dihiasi dengan bunga-bunga kecil tepat di meja tempat bernaung bersama buku dan pena. Kemudian sebuah dinding kokoh yang dibaluti warna pink ketuaan mewarnai seluruh kediaman Citra. Ya disitulah Citra berkeluh kesah dan bercerita. Dengan memandangi langit-langit di kamarnya, Citra terbayang wajah Roy. Roy pacarnya yang ia tinggali beberapa waktu lalu. Terlalu lama Citra meninggalkan Roy. Apakah Roy masih mau menerimanya? Apa Roy tahu satu hal tentangnya? Gak Roy pasti gak tahu. Citra sesekali menatap frame poto yang berada tepaat disampingnya. Memandang pria lugu, yang selalu dipermainkannya. Roy itu baik banget kan? Dia baik banget sama aku. Kenapa sih aku selalu mainin dia? Jahat banget ya aku?, gemuruh didadanya masih saja berkobar-kobar. Ia takut dan ia pasti malu jika Roy tahu apa yang terjadi dengannya di Bali. Apalagi jika ia ingat dengan laki-laki brengsek yang telah mencoreng nama baiknya.. laki-laki itu bernama Tomy. Tomy melarikan diri dan sengaja ingin mencoreng nama baik Citra. Citra sesekali menangis jika teringat akan perbuatan bejatnya bersama Tomy. Sedangkan Tomy hanya bersantai tanpa ingin tahu bagaimana keadaan Citra.
**
Gemericik kristal membaluti hari ini. Sang surya tak tampak sama sekali. Hewan-hewan kecil sibuk mencari makan di daerahnya. Tak berani keluar dari sarangnya. Lebah-lebah dan kupu-kupu tak berani menuai basah dibahunya. Mereka sibuk dengan cadangan makanannya saja. Cukup dengan menghisap madu yang masih tersisa disela-sela tangkai mawar yang tak terkena percikan krital. Suasana haru sepertinya masih menyelimuti kediaman Roy. Tepat di kamar tidurnya, dari kejauhan terlihat sebuah meja kecil yang menghadap ke jendela. Dengan dilengkapi kursi kayu yang unik dan baik untuk bersantai. Roy yang masih duduk dan menatap jauh kesebrang luar mencoba melupakan rasa sakitnya. Di dinginnya suasana, ia masih ingin merubah pemikirannya tentang Citra, dan tak ingin mendengar apa kata Retno. Ia masih bimbang untuk percaya kepada siapa. Kecintaannya kepada Citra membuat ia tak percaya lagi dengan Retno yang memberi informasi tak jelas kepadanya hari itu. Ternyata di luar ada yang berteriak memencet bel rumah Roy. Roy dengan gontai membuka pintu. Ia pun bingung, siapa yang sebenarnya datang. Dengan harapan yang baik, ia buka pintu perlahan. Ternyata yang datang adalah kekasihnya, Citra. Roy spontan langsung memeluk Citra. Citra diam setengah mati dan tak bisa berbuat apa-apa. Roy sesunggukan. Baju yang Citra kenakan basah seketika. “Lo gak kenapa-kenapa kan Cit? Lo baik-baik aja kan? Lo gak sakit kan? Lo juga gak hamil kan?,” ujar Roy dengan mata berkaca-kaca. “Gueee? Gue baik-baik aja kok Roy, lo kenapa sih? Lihat nih buktinya gue baik-baik ajakan? Gue masih Citra yang dulu Roy, yang lo kenal beberapa tahun silam. Gue gak berubah kan? Gue Cuma terlalu sibuk dengan urusan karier gue, lo ngerti gue kan Roy?, “ jawabnya dengan wajah yang menyimpan banyak rahasia.”Syukurlah, ternyata yang gue pikirin selama ini gak bener kan? Yang penting lo baik-baik aja gue udah seneng banget kok. Masuk yuk ibu masak sup tuh,” ajak Roy.
**
Keduanya masuk ke rumah. Citra yang masih berbohong kepada Roy sangat-sangat bersyukur bahwa Roy tak tahu tentang hal kehamilannya waktu di Bali. Citra tersenyum kepada Roy, dan Roy tetap memandangi wajah Citra yang sangat ia rindukan sejak beberapa bulan ini. Wajah Roy tak bisa berbohong. Tatapannya yang tulus, kasih sayangnya yang ikhlas, membuat ia tetap berharap bahwa Citra cinta terbaiknya. Citra juga kembali memandangi wajah Roy. Ia merasa bersalah sekali jika harus berbohong kepada Roy. Sampai kapan ini akan terjadi? Citra hanya diam, dan menyimpan rasa bersalahnya. Suatu saat Roy pasti tahu kok. Citra yakin suatu saat ia akan membuka semua kesalahannya dan meminta maaf kepada Roy.
**
Esoknya, di kampus tercinta. Keduanya mesra sekali. Pergi kemana-mana berdua dan selalu berdua. Mobil butut kesayangan Roy yang selalu setia menemani dan mengantarkan mereka kemanapun mereka mau. Hari-hari Roy kembali seperti semula. Ceria dan tanpa adanya tangisan. Roy mulai bangkit dari keterpurukannya semenjak ia tahu akan keadaan Citra yang sebenarnya baik-baik saja. Citra tak berubah sama sekali. Ia masih Citra yang dulu, keras kepala dan tak mau mengalah. Tapi Roy tetap saja cinta dan sayang bagaimanapun keadaan Citra. Baginya, dengan cara menerima kekurangan Citra lah ia bisa menutupi semua. Cinta itu dari hati, bukan masalah fisik atau sifat. Keduanya mampir di tempat kesenangan mereka. Sungai merapi. Mereka duduk di tempat mereka pertama kali jadian. Moment indah itu tak akan pernah terlupakan dibenak mereka. Ukiran nama yang terpampang jelas di kedua pohon yang mengapit kursi tersebut, menjadi saksi bisu terikatnya cinta antara Roy dan Citra. Semuanya kembali seperti semula. Semuanya senang dan semuanya pasti akan berakhir indah.
**
Roy yakin dengan semua yang ia rasakan beberapa hari ini. Citra tak akan pernah meninggalkannya lagi. Citra pasti tetap bersamanya disini. Tiba-tiba, ketika Roy asik menghayal dengan frame ditangannya, handpone Roy berbunyi. Pesan itu dari Citra. Roy langsung membuka pesan tersebut. “Roy, beberapa hari ini aku lihat kamu seneng banget, aku udah ngomong sama mama dan papa, aku siap untuk menikah dengan kamu. Kamu siap kan? Besok, aku dan keluargaku akan datang. Semoga semuanya akan baik-baik saja, tertanda: Citra.” Roy langsung terperanjat. Ini tidak mimpi kan? Menikah? Tidak segampang itu Citra mengatakan kata menikah dengan aku. Apa yang harus aku katakan pada ibu dan bapak. Aku anak bungsu, pasti mereka menginginkan aku sekolah sampai selesai barulah menikah. Tapi jika menikah karena Allah dan tak ingin timbul yang bukan-bukan. Aku harus siap dan harus bisa membujuk ibu dan bapak supaya menyetujui ini,” Gumam Roy dalam hatinya.
**
Hari yang ditunggu-tunggu Roy telah sampai pada waktunya. Roy menunggu keluarga Citra datang ke rumah. Ibu dan ayah Roy telah siap dengan kedatangan calon menantunya. Dibalut dengan pakaian berwarna hijau muda, ibu dan ayah Roy lebih terlihat muda dari sebelumnya. Mereka bersemangat, mereka sangat mendukung apa yang Roy lakukan. Selagi itu masih dalam batas yang baik dan yang terbaik untuk anaknya, ibu Roy setuju-setuju saja. Dari kejauhan telah tampak mobil sedan berwarna merah yang gagah berani menghampiri kediaman Roy. Semuanya dipersilahkan masuk. Bincangan demi bincangan pun telah dilakukan dengan semangat. Semuanya setuju. Tetapi tiba-tiba Citra mengajak Roy untuk berbicara empat mata di taman dekat rumah Roy. Citra ingin mengatakan yang sebenarnya ke Roy. Roy mengikuti Citra. Ia menikmati perjalanan menuju taman. Wajahnya terlihat berseri-seri. Kesenangan yang ia rasakan hari itu tak dapat ia gambarkan lagi dengan kata-kata. Citra mencoba membuka celah berbicara.
**
“Roy, kalau aku ngomong jujur tentang apapun, kamu masih mau jadi suami aku kan?, “tanya Citra dengan gugup. “Kok kamu gitu sih ngomongnya, emang ada masalah ya? Atau ada cowok lain,” wajah Roy mulai berubah. “Gak bukan itu, aku Cuma mau bilang, akuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu,” Citra semakin gugup. “Aku apa Cit? ngomong dong, aku gak mau jika kita sudah menikah, kamu masih menutupi semuanya,” pinta Roy tegas.
**
Dengan pelan Citra membisikan kata singkat ketelinga Roy. “Akuu udah gak perawan lagi, aku sudah pernah melakukan itu dan aku menggugurkan kandunganku sendiri, demi kamu dan demi keluargaku, aku bukan bermaksud nyakitin atau bohongin kamu, aku Cuma takut kehilangan kamu,” Citra menangis atas kesalahannya. Suasana kemudian hening. Roy hanya diam, ia tak merespon apa-apa. Ia menunduk dan matanya berkaca-kaca. “jadi selama ini benar. Apa yang aku dengar dari Retno itu benar? Kamu sudah hamil dan menggugurkannya? Kamu gila ya Cit!!!! itu anak kamu, darah daging kamu. Kamu tega , sumpah kamu tega Cit, aku kecewa sama kamu,” Roy meninggalkan Citra. Kemudia Citra berlari mengejar Roy dan menangis sejadi-jadinya. Roy yang terlalu sayang kepada Citra akhirnya memutuskan untuk memaafkan Citra dan menikah dengan Citra secepatnya. Ia tak ingin melihat Citra menanggung malu. Biarlah Allah yang menghukum ia. Roy hanya ingin membimbing Citra ke jalan yang benar.
**
Semuanya berjalan lancar. Rumah tangga Roy dan Citra sungguh harmonis. Keduanya saling mengisi satu sama lain. Kebiasaan Roy bekerja dan Citra di rumah masih sama tetap harmonis. Citra yang sudah berubah, kini menjadi ibu yang muslimah. Ia mengenakan hijab dan banyak belajar agama di majelis taklim dan dengan suaminya sendiri.
**
Cerita-cerita indah pasangan pengantin baru ini sungguh berkesan. Setiap malam, suasana dihiasi dengan membaca Al-Quran. Roy mengajarkan Citra membaca Al-Quran. Walau masih terbata-bata, Roy sabar membimbing istrinya. Roy yakin istrinya pasti bisa menjadi istri yang baik. Kesederhanaan yang dimiliki Roy dan Citra membuat mereka ingin cepat memiliki anak. Citra selalu sedih jika Roy menasehatinya, mengatakan bahwa Tak ada manusia yang sempurna. Apapun yang terjadi Citra adalah wanita terbaik yang Roy punya saat ini. Masa lalu Citra membuat Roy sadar, bahwa Jodoh yang baik ternyata berawal dari yang jahat dahulu. Tak selamanya mereka mendapat yang baik pula.
**
Bulan berganti bulan. Musim penghujan telah meninggalkan kota Kembang dan kembali menghirup musim panas. Sang surya tampak gagah dengan gaun berwarna kuning keemasannya. Burung pun terbang bebas di angkasa. Menikmati terangnya surya di pagi nan cerah itu. Roy yang bekerja di sebuah toko elektronik sangat piawai dalam menjualkan barang elektroniknya ke konsumen. Bakat berjualannya memang tumbuh saat ia masuk ke ITB jurusan ekonomi. Roy hobi dalam hal memasak juga. Tak ayal, setiap hari libur Roy memasak untuk istrinya. Setiap malam, ketika Roy belum pulang, Citra menunggu Roy. Ia celingak celinguk kejendela. Suatu hari Citra sudah tak kuat lagi untuk menopang matanya sendiri. Mata Citra sudah benar-benar mengantuk. Akhirnya malam itu ia terlelap dengan cepat. Citra bermimpi aneh, ia bertemu dengan gadis kecil, cantik, mirip sekali dengannya. Gadis itu memberikan sepucuk surat. Kemudian Citra membaca surat tersebut. Ini isi suratnya.
**
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Teruntuk bundaku tersayang
Dear bunda ..
Bagaimana kabar bunda hari ini? Semoga bunda baik-baik saja. Nanda juga disini baik-baik saja bunda. Allah sayang banget deh sama Nanda. Allah juga yang menyuruh nanda menulis surat ini untuk bunda, sebagai bukti cinta nanda kepada bunda.
Bunda, nanda ingin sekali menyapa perempuan yang telah merelakan rahimnya untuk nanda diami walaupun hanya sebentar. Bunda sebenarnya nanda ingin sekali lebih lama berdiam diri dirahim bunda, ruang yang kata Allah paling kokoh dan paling aman di dunia.
Tapi rupanya bunda tak menginginkan kehadiran nanda, jadi sebagai anak yang baik, nanda pun rela menukarkan kehidupan nanda, demi kebahagiaan bunda. Walaupun dulu waktu bunda meluruhkan nanda, sakit banget bunda, badan nanda rasanya seperti tercabik-cabik. Dan keluar sebagai gumpalan darah yang menjijikkan. Apalagi hati nanda, nyeri seperti merasa aib yang tidak dihargai dan tidak diinginkan. Tapi nanda tidak kecewa kok bunda, dengan begitu, bunda telah mengantarkan nanda untuk bertemu dan dijaga Allah bahkan nanda dirawat dengan penuh kasih sayang di dalam syurgaNya.
Bunda sayang ..
Nanda mau cerita nih.. dulu nanda pernah menangis dan bertanya kepada Allah..mengapa bunda meluruhkan nanda disaat nanda masih berupa wujud yang belum sempurna dan membiarkan nanda sendirian disini?.... apa bunda tidak sayang sama nanda, dan bunda tak ingin mencium nanda? …atau jangan-jangan takut nanda rewel dan ngompol sembarangan nantinya?...
Lalu Allah menjawab : bunda kamu malu sayang …..kenapa bunda malu? Karena dia takut kamu dilahirkan sebagai anak haram.. anak haram itu apa ya Allah? Anak haram itu anak yang dilahirkan tanpa seorang ayah..
Nanda bingung dan bertanya lagi sama Allah.. ya Allah, bukannya setiap anak itu pasti punya ayah dan ibu? Kecuali Adam dan Isa?
Allah yang maha tahu menjawab bahwa bunda dan ayah memproses nanda bukan dalam ikatan pernikahan yang Allah Ridhoi.
Nanda semakin bingung, dan akhirnya nanda memutuskan untuk diam. Bunda sayang, nanda malu terus-terusan nanya sama Allah. Walaupun setiap nanda tanya, pasti Allah selalu menjawab semua pertanyaan nanda. Sekarang nanda mau nanya sama bunda aja. Bunda oh bunda pernikahan itu apasih bunda?. Kenapa bunda tidak menikah saja dengan ayah?. Kenapa bunda membuat nanda menjadi anak haram? Dan mengapa bunda mengusir nanda dari Rahim bunda dan tidak memberi kesempatan nanda hidup didunia untuk berbakti kepada bunda?....... hehe maaf ya bunda nanda bawel banget, nanti saja nanda tanyakan bunda kalau kita ketemu.
Bunda sayang
Suatu hari malaikat pernah mengajak jalan-jalan nanda ke suatu tempat bernama neraka. Tempat itu sangat menyeramkan dan sangat jauh berbeda dengan tempat tinggal nanda di Syurga. Disitu banyak orang yang dibakar pakek api loh bunda.. minumnya juga pakek nanah dan makannya buah-buahan aneh banyak durinya, yang paling parah, ada perempuan yang ditusuk dan dibakar kayak sate gitu, serem banget deh bunda..lagi ngeri-ngerinya tiba-tiba malaikat bilang sama nanda. “Nak, jika kelak ibu dan ayahmu tidak bertaubat, maka disitulah tempatnya, disitu  jugalah orang yang berzina akan tinggal selama-lamanya.” Seketika itu nanda menangis berteriak-teriak memohon agar bunda dan ayah tidak dimasukkan ke situ.
Bunda sayang
Nanda sayang banget sama bunda, nanda ingin bertemu dengan bunda….nanda ingin merasakan lembutnya tangan bunda, dan nanda ingin bunda dan ayah tingggal bersama nanda di syurga. Nanda takut bunda dan ayah kesakitan seperti orang-orang itu.
Lalu dengan lembut malaikat berkata, “Nak jika kamu sayang dan mau bertemu serta ingin ayah dan bundamu tinggal di syurga, tulislah surat untuk mereka. Sampaikan berita baik bahwa kamu tinggal disyurga dan ingin mereka ikut. Ajaklah mereka bertaubat dan sampaikan juga berita buruk bahwa jika mereka tidak bertaubat, mereka akan disiksa di neraka seperti orang-orang itu.
Mendengar itu segera saja nanda menulis surat ini untuk bunda. Menurut nanda Allah itu baik banget bunda. Allah akan memaafkan semua  kesalahan makhlukNya, asal mereka mau bertaubat nasuha. Bunda taubat ya? Ajak ayah juga, nanti biar kita bisa kumpul bareng disini. Nanti nanda jemput bunda dan ayah di Padang Mahsyar deh. Nanda janji mau bawain payung dan minuman buat ayah dan bunda. Soalnya kata Allah di sana panas banget bunda. Antriannya juga panjang, semua orang sejak zaman nabi Adam akan kumpul di situ. Tapi bunda jangan khawatir, Allah janji walaupun ramai kalau bunda dan ayah mau bertaubat dan jadi orang yang baik, pasti nanda bisa ketemu kalian. Bunda kasih kesempatan buat nanda ya?. Biar nanda bisa merasakan nikmatnya bertemu dan berbakti kepada orang tua. Nanda juga memohon sama bunda, jangan sampai adik-adik nanda mengalami nasib yang sama dengan nanda. Biarlah nanda saja yang merasakan sakitnya ketersia-siaan itu. Tolong ya bunda, kasih adik-adik kesempatan untuk hidup di dunia, menemani dan merawat bunda sampai bunda tua kelak.
Bunda sayang ..
Sudah dulu yaa , nanda mau main-main di syurga nih.. nanda tunggu kedatangan ayah dan bunda disini. Nanda sayang banget sama bunda J
**

Citra kemudia terbangun. Ia kaget setengah mati karena baju yang ia kenakan basah semua. Ternyata ia menangis dari tadi. Ia menangis mendengar keluh kesah gadis tersebut. Ia yakin gadis itu adalah anak yang ia aborsi dua tahun lalu. Citra menangis sejadi-jadinya. Roy yang kecapean langsung memeluk istrinya. Tanpa bertanya apa yang terjadi. Citra yang masih dalam pelukan Roy berkata bahwa ia bertemu dengan anak yang ia aborsi dua tahun silam. Citra menceritakan semuanya panjang lebar. Roy tetap memeluk erat dan merasakan bagaimana hati istrinya. Roy mengusap air mata istrinya dan berkata : JANGAN SEDIH SAYANG, SEMUA YANG KAMU LAKUKAN AKAN DIMAAFKAN OLEH ALLAH, JIKA KAMU MAU BERTAUBAT DAN MENGAKUI KESALAHANMU. KITA SAMA-SAMA BINA RUMAH TANGGA INI YA. KITA BERDOA SUATU SAAT NANTI PASTI KITA AKAN BERTEMU DENGAN GADIS KECIL ITU, JANGAN SEDIH, AKU SELALU DISAMPINGMU, AKU SAYANG KAMU KARENA ALLAH.
***
THE AND

Tidak ada komentar:

Posting Komentar