Sabtu, 13 April 2013

DIARY MERAH JAMBU BAGIAN 3


Sesampainya di  sekolah, Selly berlari menghampiri Sinta yang sudah duduk di ruang tunggu peserta. Keduanya langsung berpelukan dan tertawa bersama. “Eh Sell, tumben lama, cie pasti persiapan buat lomba udah mateng banget dong ya?,” rayu Sinta. “hahaha, iya dong, aku udah yakin banget kalo aku bisa  Sin, aku bisa nemuin Kevin dan jalan-jalan bareng Kevin ke Manado. Tapi kok akhir-akhir ini Kevin gak pernah ngehubungin aku ya Sin? Aku jadi binngun, dia udah lupa  ya sama aku?,” Tiba-tiba saja wajah Selly berubah. “Hmm, gak kok Sell, tenang aja, mungkin Kak Kevin laggi sibuk sama ujian akhirnya. Ngerti aja ya,” Tanggap Sinta memberikan semangat.
Langit yang tebentang luas diangkasa, dengan dibalut kapas-kapas mungil berwarna putih membuat sang Raksasa jagat raya terlihat tampan di atas sana. Mengintip dibalik tirai-tirai putih, dengan paancaran sinar yang meliuk indah ddibarisan para mahkotra-mahkota pohon. Suara teriakan bell menandakan bahwa Selly dan teman-temannya siap bertanding dan masuk keruangan. Satu kertas kosong berada tepat dihadapan Selly. Dag dig dug dag dig dug, suara dada SASelly bergetar hebat hingga jari jemarinya ikut terkontaminasi oleh alunan suara itu. Selly menarik nafas panjang dan mulai menulis. Dengan berdoa khusuk sekali, Selly berharap bahwa ia bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik. Bait bait kata , paragraph demi paragraph ia selesaikan dengan baik.
Beberapa waktu yang disediakan telah lewat begitu saja, bagai anak ayam yang laari dikejar elang. Tak terasa detik detik itu menjadi sedikit doigrogoti oleh raksasa alam. Raksasa alam mulai condong sedikit kearah tenggelammnya, waktu yang Selly punya tak banyak, tinggal 15 meenit lagi, tanda yang hampir mati. Selly selesai sebelum waktu itu habiss. Tapi ia mencoba memeriksa kembali tulisan yang ia buat.. Selly senang bisa menyelesaikan tugasnya dengan bik. Tak ada satupun yang cacat menurut pandangan Selly, tapi menurut juri? Entahlah hanya pengumuman besok yang bisa membawa Selly ke hadapan teman-temaannya.
“Hmm , udah siap kan Sell, yuk kita pulang, mata pelajaran kan udah gak ada lagi hari ini.” Ajak Sinta. “iyaa Sin, aku juga uda males di sekolah, tapi aku pulang sendiri aja ya? Kamu duluan aja, ada yang mau aku beli di toko buku.” Tegas Selly. “oke deh kalau gitu, aku duluan yaa Sell, daaaaaaa.” Sinta pun berlalu bersama Honda kesayangannya. Selly yang tampak tak bersemangat mencoba memulai hari-harinya dengan pergi ke toko buku. Di sana ia celingak celinguk sendirian. Ia masih menunggu balasan sms yang ia kirm ke Kevin. tapi sampai ia pulang ke rumah, pesan singkat itu tak dibalas oleh Kevin. Selly sangat sedih, apakah ia bisa bertemu dengan Kevin , ketika ia lolos ke Manado? Entahlah, iaapun masih bingung, masih gundah gulana hatinya. Ia merasa Kevin sudah jaauh dan melupakkannya. Sedangkan ia masih berharap Kevin menjadi orang yang dulu pertama kali ia kenal.
Temaram yang indah bersinar terang menggantikan lampu-lampu taman yang hampir padam ditelan malam. Berlian-berlian masih berkedap kedip diangkasa luas. Selly duduk ditepi jendela kamarnya, menatap jauh sekali, pandangannya tetap pada satu objek, kemudian dia menulis beberapa kata di akhir buku DIARY merah jambunya. Ia menulis bahwa buku itu akan sampai ke tangan yang lebih berhak daripada ia. Isinya masih menjadi rahasia ia dan Kevin. hanya Kevin yang boleh membuka dan mebacanya. Dari kegelapan malam, dengan samar-samar cahaya dari luar, Sellly kembali ke peraduan untuk menyambut hari esok. Ia berdoa agar esok bisa menggapai mimpi dan memeluk perasaannya.
Suara teriakan ayam mulai berterbangan dipendengaran. Semut-semut nakal pun mulai berjalan berbaris menuju rumah-rumah persinggahan untuk mencari makan. Cerita malam tadi cukup dihapus dengan senyuman Selly pagi ini. Ia bersemangat sekali ke sekolah, karena ia tak sabar menunggu hasil pengumuman juri pagi ini. Dengan kecepatan yang tinggi sampailah ia pada gerbang sekolah. Dengan gontai ia ayunkan kakinya penuh keyakinan. Wajahnya yang cuek, masih saja membuka mata teman-teman untuk menyapanya. Sapaan itupun ia tanggapi dengaan menaikkan senyumnya semanis mungkin. Ia taak ingin terlihat kaku dan tak pede hari itu. Satu persatu murid masuk kedalam ruangan juri. Mereka tak sabar menunggu juri mengumumkan siapa pemenangnya. Tapi kali ini lain. Juri hanya membagi amplop, dan didalam amplop itu ada satu nama yang akan dipanggil maju kedepan. Kemudian amplop yang berisi nama-nama itu sudah dipegang oleh juri. Juripun memanggil satu persatu diantara mereka semua. Suara yang riuh rendah membuat juri berteriak didepan microfon. Suara yang riuh rendah tadi kemudian menjadi hening dengan seketika. Dimulailah pengumuman. Nah suara itu berteriak memanggil nama Selly, Sellyy hampir tak percaya, ini gak mimpi kan ? tapi, bisa saja yang dipanggil itu juara tiga, bukan juara satu.. perasaan Selly campur aduk, Selly dengan pemegang juara ketiga. Raut wajah Selly yang kegirangan  dan penuh semangat kin layu bagai bunga yang tak terawat. Wajahnya sedih, tapi ia tak mau menampakkan itu. Dengan senyum yang dipaksakan, Selly mencium tangan ketiga juri. Ia mengucapkan terimakasih kepada semua yang telah mendukungnya. Selly bahagia, walau cita-cita yang ia impikan gagal begitu saja. Diary merah jambu yang akan ia berikan langsung kepada Kevin sepertinya tak tercapai. Apa yang harus ia lakukan? Bagaimana caranya? Selly masih bingung. Selly masih kecewa dengan hasil yang tak ia harapkan.
Ujian semester akhirpun datang. Semua siswa disibukkan dengan kegiatan dirumah masing-masing. Seminggu itu Selly fixkan untuk focus keujiann. Tapi pada hari terakhir ujian, Sinta berpamitan, bahwa dirinya akan berlibur ke Manado. Selly yang bingung menyampaikan Diary merah jambu kepada Kevin, akhirnya menemukan titik terang. Yaa diary itu iaa titipkan kepada Sinta. Sinta mengangguk dan bersedia membawa diary merah jambu itu.. sebelumnya Selly telah membungkus Diary merah jambunya dengan kotak berwarna merah dan dibalut dengan pita berwarna kecoklatan. Coklat artinya manis, wah pasti manis dong lly yang isi yang ada didalamnya,” senggol Sinta kepada miss.cuek tersebut. Selly hanya tersenyum menanggapi ejekan Sinta.
Sinta yang akan terbang besok ke Manado telah menyiapkan semuanya dengan rapi. Selly merasa sedih bercampur senang. Ia sedih karena tak bisa merayakan hari ulangtahunnya yang seminggu lagi akan dirayakan. Sedih karena Sahabatya taka da disampingnya. Ia senang y karena diary merah jambu iu akan langsung dibaca oleh Kevin.
Beberapa saat kemudian, Sinta telah sampai ditanah Manado. Tanah kelahiran orangtuanya. Tanah yang baru pertama kali ia pijak. Waahhhhh sungguh luar biasa kuasa Tuhan. Indah sekali kota Manado ini, aku tak pernah merasakan suasana yang khusuk seperti ini,” gumam Sinta dalam hatinya. Mobil yang ditumpanginya kini telah sampai tepat di depan rumah Kevin. Rumah yang akan menjadi tempat tinggalnya beberapa minggu ini.
Suasana pagi di Manado sungguh indah. Hamparan bukit yang tinggi dan sungai yang besar sungguh elok jika dilihat melalui kacamata hati. Sinta yang baru saja terbangun dalam tidurnya yang lelap langsung teringat pada sebuah bungkusan yang dititipkan Selly kepadanya.
“Ya ampun, aku hampir lupa, inikan buat Kak Kevin. ya Tuhan, kak Kevin kemana ya? Apa dia masih tidur, aku coba taruh aja deh bungkusan ini dikamarnya.” Pelan-pelan Sinta menyelinap ke kamar Kevin. kemudian dia menaruh kotak bewarna merah itu disebuah meja. Sepertinya itu meja belajar Kevin. Sebangun dari tidurnya, Kevin terkejut ada kotak berwarma merah ada di kamarnya. Punya siapa ini? Tapi tulisan di depannya bertuliskan nama Kevin. berarti ini buat Kevin dong.”gumamnya dalam hati.
Perlahan ia buka kotak berwarna merah tersebut. Dengan hati-hati ia melihat ada buku berwarna merah jambu dibalut pita berwarna coklat. Romantic sekali yang memberi ini. Siapa ya?” Tanya Kevin penasaran. Satu persatu ia buka dan ia baca buku itu. Gambar abstrak yang ia buka dihalaman pertama tak dihiraukannya, sehingga ia tak tahu bahwa itu dari Selly. Tapi ketika lembar demi lembar ia buka dengan hati-hati ia menemukan satu keganjalan. Dipertengahan buku itu ada tulisan berwarna pink, panjang sekali. Berbeda dengan tulisan yang lain. Ia kemudian membaca dengan perlahan., begini bunyi bacaannya.
DEAR DIARY
Kevin Sahabatkku
Kamu ingat aku kan? Aku sahabaatmu. Sahabat yang kau kenal tak lebih dari dua minggu. aku akan berulang tahun yang ke 17th, aku berharap, kamu bisa datang membawa pacarmu kepangkuanku, kemudian kamu perkenalkan padaku. Aku tau dia pasti sangat menyayangimu dengan tulus. Begitu juga saat kamu tersenyum membaca surat kecil berwarna merah jambu ni dariku.
Kevin Sahabatku
Jauh ketika hujan tak bisa menopang panas, dekat ketika Tuhan melambaikan tangan untuk mengaambil detik demi detik kehidupan, jangkauan waktu yang hampir erat dengan kematian, jadikan alasan bahwa berubah itu yang terbaik, jangan jadikan umur ini kesenangan, melainkan kesedihan yang tertunda.
Kevin Sahabatku
Dikala lelap menghampiriku, ruh-ruhku memanggil kau untuk datang kehadapanku. Aku hanya bisa berteriak dalam mimpiku, bisa bersamamu, memelukmu setulus kisah kasihku waktu kau berada tepat dimataku
Kevin Sahabatku
Sejak kita bertemu, aku sangat nyaman padamu, apatah lagi ketika kau menjawab semua pertanyaan yang aku bingungkan, kau sungguh smart, kau cerdas, tapi hatimu tak cerdas menilai perasaanku, perasaan yang aku bangun sendiri dan aku lawan sendiri untuk tidak mencintaimu.
Kevin Sahabatku
Lihat air mata ini, titik-titik kriput yang kamu lihat didalam buku diary merah jambu ini, adalah air mataku. Air mata seorang yang cuek, tapi sesungguhnya butuh, ya aku butuh, hingga sampai saat ini aku masih butuh kamu untuk menjadi sahabatku. Jangan kau ikut menangis dalam kesedihanku Kevin. cukup dengan kamu tau perasaanku, aku juga akan mengerti keputusanmu.
Kevin Sahabatku
Aku tak pernah menganggap kamu hilang dalam duniaku, aku tak pernah menganggap kamu melupakanku, yang aku tahu, sampai saat ini kau tetap Kevin y6ang dulu, Kevin yang aku kenal dua minggu itu.
TTD

Selly Sahabatmu
Air mata Kevin menetes begitu saja. Ia tak menyangka bahwa Selly begitu tulus bersahabat dengannya. Walau ia sekarang tahu jikalau Selly benar-benar mencintainya. Tapi itu tak mungkin, perbedaan keimanan membuat Kevin enggan dan hanya menganggap Selly sahabatnya. Sampai saat ini Selly dan Kevin tak pernah bertemu lagi. Selly sudah lega karena ia sudah mengungkapkan apa yang ia rasa. Dan Kevin juga sudah tak seperti dulu. Komunikasi tetap lancer dan mereka selalu shering tentang apa yang mereka mau. Semuanya kembali seperti dulu. Kembali semangat, kembali ceria dan kembali menjadi diri sendiri.
Note: KETIKA SAHABATMU MELUPAKANMU, ITU BUKAN KARNA IA TAK SAYANG, MUNGKIN SAJA IA SIBUK DENGAN PEKERJAANNYA. BERFIKIR POSITIF KARENA DENGAN BEGITU KAMU AKAN MERASA LEBIH BAHAGIA. SO KEEP SMART, KEEP SPIRIT, N KEEP CALM MY FRIENDS J
THE END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar