Senang melenggang
Di tepi riak-riak ombak
Berkejaran tiada lengang
Cahaya keemasan berteriak
Memantulkan suara-suara
pada dahan yang bergoyang riang
Masih sama pada cerita ini
Hati masih terpatri
Pada kisah-kisah suram di
ujung pulau
Nestapa itu masih tak
berujung
Titik-titik Kristal masih
membasahi dedaunan hijau yang melekat erat. Dibalik jendela terlihat sinar
cahaya mentari bermunculan terang benderang, memamerkan senyum sumringah yang
dibaluti gincu berwarna keemasan.
Gadis manis itu sibuk
mengotak atik hpnya. Ia terlihat sedang menungggu seseoraang yang akan
menjemputnya. Rambut yang terbalut jilbab berwarna pink soft, tampat indah.
Wajahnya berseri, pipinya chabi. Bajunya berwarna hitam membalut seluruh
tubuhnya. Ia adalah Noni. Noni sepertinya akan pergi ke suatu tempat.
Pakaiannya saja terlihat rapi sekali. Dia tampak gelisah. Dari tadi
memperhatikan arlogi yang terletak disebelah tangan kirinya.
Detik demi detik ia
menghitung jam, terlihat pria tinggi membawa motor kesayangannya berteriak
memanggil Noni. Noni bergegas menuju luar. Dan mengatakan “bentar ya, aku pakek
sepatu dulu”. Pria tersebut mengangguk. Pria itu bernama jojo. Jojo adalah
teman Noni waktu SMA. Hanya saja dia dibawah Noni satu tahun, sehingga Noni
memanggil Jojo dengan sebutan “adik”.
Mereka tampak akrab, karena satu sama lain menggap kakak dan adik.
Senyum yang terpancar dari
wajah Jojo sungguh membuat hati Noni senang. Mereka melewati jalan berliku,
bergelombang untuk sampai ke tempat tujuan.. entah berapa kilometer yang mereka
tempuh. Di perjalanan mereka asik bercanda. Menceritakan berbagai ilmu dan
kebahagian. “dek, kamu kok makin gemuk sih ?”celetuk Noni.”masa sih kak ? tapi
bagus kan kalau adek gemuk, daripada kurus kayak dulu ?” ia sih, tapi ya segini
aja uda bagus kok, gak usah diapa-apain
lagi” sahut Noni. Jojo pun mengangguk dan berterima kasih bahwa kakaknya begitu
perhatian padanya.
Cuaca sore itu cerah
sekali. Burung-burung tampak riang, bertengger di atas pohon cemara.
Bercengkrama di balik ilalang-ilalang tinggi. Indah kuasamu ya Tuhan. Aku
merasa bahagia berada di dunia ini. Apalagi bila berada di dekatnya setiap
hari. Setiap hari Tuhan. Berada di dekat dia. Dia yang selalu aku anggap lebih dari seorang adik.”ucap Noni
dalam hati”. Ketika sampai ke tujuan, mereka langsung duduk, meneguk minuman
dingin dan satu buah kelapa muda. Terbayarkan rasa haus dari teriknya matahari
di perjalanan tadi. Saat semilir angin menyentuh pori-pori kulit, rasanya
sungguh menakjubkan ini memang masih berada dalam kuasa Tuhan. Subhanallah.
Semut berjalan
mondar-mandir. Suara ayam tak terdengar lalu, tetapi suara lolongan anjing
mulai berisik, meraba-raba telinga. Maklum, orang yang tinggal di pantai
tersebut mayoritas orang cina dan flores. Pasir putih yang terdampar luas bak
mutiara yang diciptakan untuk seluruh makhluk hidup di muka bumi ini. Kian
senja kian syahdu. Sungguh syahdu, terpaku malu pada matanya yang hitam, bulat,
dan alis yang tebal, indah sekali.
Kami berjalan menyelusuri
pantai. Berlari-larian ombak di depan kami. Nyiur seolah menari menyambut
kedatangan kami. Tapi sayang, sampah dari laut berhamburan kedaratan. Tak
mengenakkan mata. Kami berjalan, tiba-tiba Jojo memegang tangan Noni. Noni
lantas terkejut, tapi difikiran Noni mulai jauh, dadanya terasa bergetar,
getaran itu aneh sekali. Jantungnya berdegup kencang, tak seperti biasanya.
Noni gugup, tangannya berkeringat, pelan-pelan ia lepaskan genggaman Jojo. Noni
mengalihkan pandangaan Jojo. Ia cepat-cepat melepaskan tangan yang di genggam
erat oleh Jojo. Jojo tersenyum melihat tingkah Noni. Sepertinya ia tahu
sesuatu, tapi mencoba tidak mengungkapkannya kepda Noni. Maklum takut,
kalau-kalau kakaknya itu menjadi malu.
Senja yang dari tadi hampir
menjemput alam, kini telah hilang diperaduan.warna kuning keemasan tadi tak
tampak lagi, malam berganti gelap gemerlap, mendung, awan hitam tampak satu
persatu melangkahkan kaki ke parmadani langit. Langit yang mula biru berubah
menjadi kelabu bercampur merah jambu. Sudut-sudut pantai tampak lampu-laampu
serongkeng minyak tanah, dan lampu-lampu diesel sudah dihidupkan. Dari kejuahan
terlihat indah kelong-kelong ikan yang banyak sekali. Aku menatap ke langit
luas, berbicara pada rembulan digeluti riak-riak ombak yang menghantam karang
di ujung pantai. Aku masih berharap rasa ini bukan rasa cinta, tapi rasa sayang
terhadap seorang adik. Jangan, jangan, itu saja yang terbesit dalam benakku.
Tiba-tiba dari kejauhan
Jojo mengagetkan lamunan Noni. Jojo duduk di samping Noni. Ikut serta melihat
ke arah pantai. Ia berkata “Seandainya saja yang ada di sampingnya saat ini
bukan kakakku, pasti sudah kumanjakan dia”celetuk Jojo dalam hati. Noni
kemudian mengatakan sesuatu kepada Jojo.” Jo, kamu tahu gak kenapa bumi ini
bulat ?”tidak kak, emang kenapa ?”jawab Jojo singkat,”karena ALLAH memang adil,
dan itu kuasanya, coba kalau ALLAH menciptakan bumi itu cekung, pasti kita udah
menjadi manusia-manusia pipih. Hahahah .. sontak Jojo tertawa…”apaan sih kamu
kak? Gak lucu tahu, garing ..”sahut Jojo lagi. Noni pun mengejar Jojo. Mereka
saling kejar-kejaran. Wajah keduaanya senang sekali. Apalagi wajah Noni. Tampak
sumringah sekali.
Malam mulaai menutupi
siang. Cahaya bulan memantulkan sinar-sinar jingganya ke laut, hingga air
berubah menjadi bening-bening rindu, dan rindu meretas menjadi kelabu. Jojo dan
Noni bergegas pulang. Kenangan di pantai itu, senyum lepas itu, pegangan tangan
itu, arti sebuah kerinduan yang membunuh itu, tak akan pernah aku lupakan. Jojo
mebelokkan motornya dan Noni duduk di belakang Jojo.”oh ya dek, kita mampir
dulu ya ke rumah teman kakak, mau kan ?”iya kak, tapi temennya cewek atau cowok
?”Tanya Jojo.. cewek kok dek, emang kalau cowok kenapa dek?”males aja kak,
ilfil adek kalau sama cowok!”, ohh , gak kok dek, cewek teman kakak tuh.
Perjalanan pun di mulai. Pohon-pohon
rindang seolah mengucapkan selamat tinggal. Angin semakin dingin, menusuk ke
ulu hati. Ilalang-ilalang tersenyum bak anak kecil yang hidup dan memberi
hormat kepada kami. Aku senang melihat itu semua. Aku senang, senang sekali
hari itu.
Setibanya di rumah Leni,
kami menunggu untuk di bukakan pintu. Aku memanggil-manggil Leni, kemudian
Lenipun keluar. Leni adalah sahabat Noni. Ia tinggal tak jauh dari pantai yang
kami kunjungi tadi. Leni anak yang baik. Ia sosok wanita yang anggun, cerewet,
humoris, pecicilan, dan suaranya yang khas membuat aku ingat waktu masih
semester 3, suatu kejadian yang lucu ..
Waktu itu Leni dan aku
diundang disebuah acara. Tepatnya di Universitas Poltek Raja Haji. Aku diundang
mengaji dan Leni diundang untuk membaca gurindam. Kami duduk di kursi nomor
tiga paling tengah. Setelah selesai mengaji, masih banyak lagi di lanjutkan
dengan sambutan-sambutan yang lain. Leni bertanya-tanya mengapa bagian ia
selalu di belakang ? aku tertawa saat ia berbicara seperti itu. Leni kemudian
menjadi murung “sudahlah Len, usah kau fikirkan, sebentar lagi namamu pasti
dipanggil. Selang beberapa menit aku berbicara seperti itu, nama Leni langsung
dipanggil. Senyum manis dibibirnya begitu mempesona. Leni maju dengan penuh
percaya diri. Leni langsung melantunkan ayat-ayat gurindam dengan fasih. Aku
yakin, siapapun yang mendengarnya pasti langusng terpesona. Lihat saja,
burung-burng dan para semut sangat menikmati. Parasnya yang manis membuat siapa
saja yang melihatnya langsung klepek-klepek. HAHAHA …
Aku tertawa jika mengingat
cerita itu. Leni sangat malu ketika aku menceritakan kejadian itu kepada Jojo.
Aku berinisiatif untuk solaat magrib. Selesai solat, ku panjatkan doa untuk
kedua orang tuaku, dan yang terakhir untuk jodohku nanti. Aku selalu ingin
mendapat yang terbaik di dunia maupun di akhirat. Amin …
Terlihat di luar kedua
sahabatku asik mengobrol. Aku menghampiri mereka. Senang bisa tertawa bersama
mereka. Aku juga senang jika Leni dan Jojo akrab. Malam itu Leni tak dijemput
oleh pacarnya. Karena pacar Leni kerja. Hari mulai gelap, aku bergegas pulang
ke rumah. Motorpun dihidupkan dan melaju dengan cepat. Di perjalanan aku yang
membawa motor, karena aku ingin belajar membawa motor kopling, maklum motor si
Jojo kopling. Jadi sambil berenang minum air gitu. Hahaha ..
Malam semakin larut,
bintang gemintang semakin tinggi. Rembulan tampak berbicara pada daun-daun
hijau yang dipantulkan oleh sinarnya. Jangkrik-jangkrik bergumam syahdu
diantara ilalang-ilalang kering. Badanku menggigil. Tapi Jojo tak
menghiraukanku. Ia asik dengan lagu-lagi yang ia putar, sedangkan aku sibuk
mengendalikan sepeda motor yang tak terlalu aku mengerti. Aih .. sungguh kejama
dikku itu. Gak lihat apa kakaknya sudah kedinginan, sesak nafas lagi. Jojo
kaget ketika aku tiba-tiba memberhentikan motor.”kenapa kak?”kakak capek dek,
gantian ya ?”jawabku..”yauda ga papa kak, biar adek aja yang bawa motornya”
jawabnya lembut …
Motor itu dibawa dengan
kecepatan yang begitu tinggi. Mulutku komat kamit seperti dukun yang hendak
mengobati pasiennya. Sesekali aku terkejut dan tak sengaja menepuk pundaknya.
Ia terkaget-kaget. Aku tertawa cekikikan di belakangnya. Kecepatan ditambah
lagi. Aku bingung mengapa begitu cepat ia membawa motornya. Aku takut
mengganggu waktunya. Walau ini baru jam 8 takut saja ia ada keperluan lain.
Inikan malam minggu. Aduh aku ini bodoh banget sih? Aku memaki-maki diriku
sendiri. Padahal aku hanya kakaknya, kenapa aku harus bertanya, biasa aja dong
Noni.. aku mengalihkan pikiranku ke yang lain, tapi tetap saja aku masih
penasarn. Berfikir positif dong Noni, yakin kalau dia itu tidak apa-apa, dan
hanya ingin cepat sampai, makanya bawanya ngebut gitu. Aku gelisah sendiri di
belakang. Tapi aku tak menampakkan wajah gelisah itu ke arah Jojo. Ingat Noni,
dia itu adik kamu. Gak boleh kamu mengharap lebih ke dia. Dia itu gak pernah
ngasih sayang yang lebih, kalaupun lebih, sayang itu hanya sebatas sayang adik
kepada kakak. Mendengar suara-suara aneh yang berdenging ditlingaku, air mataku
merembes deras di pipi kiri dan kananku. Aku cepat-cepat mengusap, takkut
ketahuan sama Jojo. Aku sampai, dan Jojo langsung buru-buru pamit pulang.
Aku mengirimkan sebuah
pesan singkat, yang berisikan ucapan terima kasih, karena udah mengajak aku
jalan-jalan. Tapi pesan itu tak dibalas oleh Jojo. Aku hanya diam di dalam
kamarku. Perasaan ku malam itu senang tak trhingga. Bunga-bunga yang ada di
luar rumah seolah merasuk ke dalam kamar dan berhamburan ditempat tidurku. Aku
serasa terbang, terbang kelangit ketujunh. Ku tampar-tamparkan wajahku, dan
aaku berbicara.. “ini gak mimpi kan? Sumpah romantic kejadian seromantis ini
tak pernah aku alami sebelumnya.
Aku masih penasaran atas
hati adikku itu. Aku jadi teringat waktu aku menceritakan sosok pria yang aku
kagumi di kampus. Responnya gak enak banget, dia ngomong gini” kak, cewek itu
gak pantes ngejar-ngejar cowok, bagusnya itu dia yang ngejar kakak, bukan kakak
yang ngejar dia” itu sih saran adek”. Aku langsrdiam seribu bahasa. Akku berung
Tanya-tanya, apa arti dari semua ini ? apa ini memang sebuah saran dari seorang
adik kepada kakaknya ? ya ALLAH, aku semakin bingung. Perasaanku campur aduk.
Ku buang jauh-jauh perkataanya. Aku yakin ia hanya ingin yang terbaik buat aku,
buat kakaknya, bukan buat siapa-siapa.
Aku masih kepikiran dia.
Suara, tingkah, senyum, sorot matanya, semua masih tentang dia. Aku rindu.
Terkadang aku merasa, rindu itu menyakitkan. Kasih sayang itu membunuh
perlahan. Tapi aku butuh, butuh semua itu. Semua yang berhubungan dengan cinta.
Tapi apakah mungkin ? aku bagaikan musafir di padang tandus.pasir-pasir putih
tadi berubahh menjadi debu-debu gurun pasir yang menyelimuti tubuhku. Aku
kepanasan jikalau siang, dan kedinginan jika malam menjelang. Aku musafir
cinta, tetap haus akan cinta. Aku tak ingin seprti Qays yang gila karena cinta.
Aku akan membagi cintaku terhadap ALLAH dan dia. Dia yang menjadi kekasihku
nanti.
Cerita ini masih menjadi
kenangan terindah di dalam hidupku. Hati masih berharap ia menganggap aku lebih
dari seorang kakak. Air mataku jatuh, saat tinta-tinta ini kugoreskan pada
secabik kertas. Aku masih menunggumu dik ….
Cerita ini ku ukir lagi
Pada rona-rona misteri
Masih terjebak dalam satu
makna perih
Lirih apakah akan berujung
sedih ?
Noni menatap wajahnya dalam
di layar kaca. Tampak kusut, bak baju yang belum distrika. Ia masih santai
menghadapi hari-hari yang penuh dengan sesak. Baik itu sesak hidup, kuliah,
tugas, dan pekerjaan. Semuanya ia lalui dengan keikhlasan. Berharap semua yang
ia jalani dan hadapi memiliki makna. Ia selalu berpegang teguh pada semboyan
“semua masalah pasti ada jalan keluarnya” that’s true .. haha .. ia ketawa
cekikikan. Tak ada yang mendengarnya. Ia terasa aneh berada terus-teerussan di
depan layar cermin. Aih gak bakalan berubah juga sinar wajahnya.”gumamnya
sekali lagi”.
Noniiiiiiiiiiiii .. buruan
bangun, mandi. Kok kamu itu kayak anak kecil aja, yang tiap pagi harus
diteriakin gini. Kakak Noni sibuk berteriak. Ia tak menyadari bahwa adiknya
telah bangun sejak subuh tadi. Hanya saja selesai sholat, Noni tak beranjak
dari kamar, dan malah merenung di depan sebuah cermin.”ia bentar kak, aku lagi
beresin kamar nih” sambung Noni singkat.
Kegiatan pun dimulai. Noni
sibuk merapikan jilbab dan bajunya. Ia harus selalu tampak rapi. Seolah-olah
sudah seperti orang penting dan sibuk saja. Baju berwarna coklat menyelelimuti
tubuhnya. Jilbab rapi sekaligus dengan bros bunganya, aih Nampak anggun sekali
wanita itu. Kontras kehidupan semasa ia kecil dulu sungguh sangat mudah
terbalik dengan Noni yang sekarang. Noni yang sekarang telah menjadi wanita
dewasa yang cukup disegani banyak orang. Tapi, kisah percintaannya selalu saja
rumit dan kandas di tengah jalan. Lebih-lebih lagi bila ia yang mengejar,
selalu saja pria itu berlari entah kemana. Noni semakin hari semakin baik, tapi
kenapa kisah percintaannya semakin pahit ? sontak ia pun tak mengerti dengan
keadaannya itu. Walau terkadang ia bahagia bersama rekan kerja dan teman
sejawatnya, tetap saja hatinya berkisah tentang seorang adik yang sedang
menuntut ilmu nun jauh di kampung sebelah. Kampung yang sama sekali tak pernah
ia jejaki kaki di sana. Suatu saat, ya suatu saat nanti aku pasti akan ke sana,
hanya karena ingin melihatnya diwisuda, dengan toga yang membaluti kepalanya
dan ijazah yang digenggamnya.”hati Noni berbicara”
Khayalan demi khayalan
selalu membuat hati Noni sakit. Sakit yang berujung bahagia itu baik, tapi bila
sakit hanya berujung sakit kembali, itu adalah sia-sia. Sampai saat ini Jojo
masih menggantungkan sikap yang sama. Sikap sayang seorang adik terhadap kakak.
Sepertinya Jojo punya cara tersendiri untuk membahagiakan Noni. Noni sendiri
hampir tiap hari harus menelan ludah dengan balasan dan pesan yang dikirim oleh
Jojo lewat via sms. Misalnya : “dek, kamu
jangan lupa sholat ya”, sontak Jojo membalas,”iyaa sayang ..”aih apa gak berbunga-bunga hati Noni. Padahal hanya
kata sayang. Sayang itu bisa banyak arti. Bisa aja ssayang untuk kakak, adik, atau
pun pacar. Sampai sekarang Noni masih menggaap itu semua gaantung. Tidak punya
makna apa-apa bagi Jojo, dan memiliki makna yang berarti bagi Noni. Mungkin
itulah kenyataannya.
Komunikasi dijalankan
dengan sempurna oleh Noni dan Jojo. Meski tak setiap hari, satu sms selalu Noni
kirimkan terlebih dahulu. Apalagi untuk mengingatkan sholat, pasti ia tak segan
lagi memencet tombol dan mengirimkannya kepada Jojo. Ia tak berfikir lagi apa
respon Jojo. Yang terpenting ia selalu mengingatkan, dan tak ingin dianggap
menghilang oleh Jojo.
Lamunan Noni tersentak
tiba-tiba, ketika kakaknya yang sedang menyapu di halaman mengagetkan
pundaknya. “Hayyoo .. pagi-pagi udah bengong aja. Liat tuh jam berapa ? gak mau
ngajar apa ?”. Noni kaget tak terhingga. Ia langsung menghidupkan sepeda motor,
dan melaju cepat kearah tujuan. Noni mengajar dengan hati yang masih bimbang.
Hanya saja ia selalu professional dalam bekerja. Bila ada masalah sekalipun ia
tetap tenang dan santai menghadapi anak-anak muridnya. Noni tetap saja manusia
yang tegar, penuh pengorbanan dan selalu optimis dan ambisius dengan apa yang
dicita-citakannya. Noni ingin menjadi guru yang professional. Tidak hanya guru
bagi anak-anak muridnya di sekolah, tapi ia juga ingin menjadi guru
professional di rumah tangganya kelak.
Kehidupan Noni berubah
sepeninggalan ibunya. Ia belajar mandiri semenjak ibunya meningggalkan Noni.
Sejak itulah ia mulai mencari uang. Baik itu untuk jajan, dan untuk membeli
buku. Kehidupan Noni sungguh rumit. Apalagi soal keunggan, ia pasti sedih bila
disinggung-singung masalah itu. Dulu masih ada ibu, hidup aku gak rumit-rumit
gini kok. Aku mau ini diberi, mau itu diberi, apa yang aku mau pasti ibu
membelikannya. Aish, aku jadi serba salah. Seolah-olah aku menentang hidupku
sendiri.. bersyukur dong Noni, bersyukur masih diberi kebahagian oleh Allah.
Jangan ngeluh terus, yakin bahwa Allah selalu bersama kita. Bukan masalah
berprasangka yang gak-gaak gini.” Telinga Noni setengah berdenging, serasa ada
yang membisikaannya dari dalam kalbu Noni. Noni sontak terkejut dan menyadari,
bahwa selama ini Noni salah akan pembelaan terhadap dirinya sendiri. Noni
nyengar-nyengir sendiri. Kelas yang di ajarnya pun usai seketika saja. Noni
cepat-cepat bergegas ke rumah Maya. Ia akan segera menjemput Maya. Maya adalah
sahabat karibnya di kampus. Mereka selalu berdua, kapanpun dan dimanapun.
Sesampai di teras rumah Maya, Noni berteriak, karena hari itu mereka ujian,
jadi Noni tak ingin mereka terlambat sampai ke kampus.
Cuaca hari itu benar-benar
tak mendukung. Langit mendung, angin menusuk-nusuk ulu hatiku. Tetapi tak
seperti biasanya pula, burung-burung wallet beterbangan di angkasa. Bersenda
gurau saling tertawa satu sama lain. Penuh dengan kejutan hari itu. Kuasa ALLAH
memang tak pernah bisa di pungkiri. Satu persatu warna langit berubah dari
biru, menjadi putih, kemudian biru lagi dan seketika berubah kemerah-merahan
Celetuk teman
Aku masih tetap bertahan
Pada detik-detik yang
memudar
Lihat sekelilingku bimbang
Gencar mengerjakan tugas
Panutan untuk ujian
Itulah harapan
Sinar mentari tak secerah
yang dibayangkan. Riak-riak air dari selokan depan tampak lancer. Titik-titik
Kristal, ternyata telah jatuh sekitar sejam yang lalu. Tampak wanita dan pria
duduk memenuhi serambi depan kampus Noni. Noni telah sampai sejak tadi, dan
bergabung bersama pria wanita yang disebutkan tadi. Bangunan tuua itu tampak
terlihat sumringah, karena dibalik wajah-wajah tuanya, ia masih dinikmati dan
dinaungi oleh para rakyat yang kehausan akan ilmu. Termasuk Noni. Noni adalah
Mahasiswa Universitas Erlangga. Ia mengambil jurusan Pendidikan Bahasa dan
Sastra Indonesia. Tak ayal, jika Noni rajin menulis puisi dan sebagainya.
Nonimasih menunggu detik-detik yang menegangkan. Menunggu saatnya ujian tiba.
Rekan-rekan sekelasnya sibuk. Ada yang berkumpul, kemudian tertawa
terbahak-bahak, pasti mereka sedang menertawakkan anak-anak bau kencur yang
lalu lalang di depan mereka. Tabiat mereka memang begitu, selalu saja
menertaakan hal-hal yang aneh, apalagi bila hal aneh itu muncul dari caramerka
berbicara ataupun berpakaian. Ada juga yang sibuk mengotak-atik hape, yakinlah
bahwa orang-oranng seperti mereka bisa saja terkena virus dunia maya, virus
kegalauan, atau mungkin membuat contekan? Ah, gak mungkin, ujian kali ini kan
openbook, terus tentang statistika lagi. Ada juga yang sibuk membolak-balik
catatan, ini calon-calon guru masa depan. Wajah mereka kusut, tampak dari wajah
satu persatu tersebut memancarkan kebingungan. Mereka tak mengerti, tapi
mencoba mencari-cari referensi untuk belajar mengerti akan ujian yang akan
mereka hadapi. Yaah.. Noni berada tepat di kelompok tersebut. Walau kadang Noni
sering menyendiri dengan kegiatannya, tapi ia tetap bersih kukuh untuk
bergabung dengan mereka. Teman sejawatnya itu memang rajin-rajin. Mereka sibuk
mengotak atik kalkulator, mencoba mencari jalan keluar dari catatan dan
angka-angka yang tak dimengerti itu.
Alarm di hp Maya berbunyi.
Pertanda tepat pukul 16:00 WIB. Mereka semua berhamburan ke dalam kelas. Dengan
kemeja putih, rok hitam, dibalut dengan almamater berwarna kuning. Mereka semua
tampak gagah. Semangat yang berkobar-kobar tampak dari wajah mereka. Pelajaran
yang dihadapi Noni dan teman-temannya sungguh rumit, baik dari segi teori
maupun itung-itungan. Semua teman Noni tampak gelisah. Ada yang menggigit ujung
pena, ada yang menggaruk-garuk dahi, ada yang wajahnya kusut. Begitu banyak
beragam model wajah pada hari itu.
Soal-soal itu membuat hati teman-teman Noni bimbang. Hingga pukul 19:00
WIB pekerjaan itu selesai. Semuanya pada mondar mandir gak jelas, ada yang
sibuk mau pulang, tpi belum selesai. Karena sebagaian dari mereka ada yang naik
bis kampus. Cuaca di luar kelas sungguh tragis. Awan gelap, tak ada siapapun
kecuali kami. Sunyi , senyap , hanya terdengar suara teriakan jangkrik diujung-ujung
mushola. Dengan cepat semuanya berangsur
pulih. Kendaraan dinaiki dengan kecepatan yang tak begitu tinggi. Gelap
perjalanan Noni dari kampus menuju rumah. Di pertengahan jalan, mega memuntahkan kemarahannya. Titik-titik
Kristal itu berjatuhan tanpa pamit. Langsung menyerbu dan membasahi almamater
kebanggaan kami. Kami berteduh, tertawa, karena kami merasa itu adalah
pengalaman terindah yang tak akan pernah kami lupakan. Semua bergegas pulang.
Hanya suara klakson yang terdengar menejerit-jerit ditelinga Noni saat itu.
Ceritaku bersambung lagi
Goresan-goresan tinta telah
terukir indah
Bersama suka dan dukanya
rasa
Kali ini cukup berbeda
Aku memulai cerita sang
pujangga
Dari 6 bulan berlalu kami
bertemu
Enam bulan telah berlalu.
Ujian telah usai. Waktunya liburan. Liburan kali ini Noni masih biasa saja.
Karena kegiatannya masih sama. Mengajar dan mengajar. Hanya saja ada yang
berkurang. Ia sudah tak disibukkan dengan tugas kuliah. Kisah percintaan Noni
dan Jojo masih berlanjut. Hanya saja Noni agak sedikit kecewa. Jojo telah
memiliki pendamping hidup dalam kesehariannya. Dengan kata lain, Jojo sudah
memiliki pacar baru.
Wow … Noni terkejut setelah
sekian lama Jojo tak menghubunginya. Ternyata ia sudah mencoba menumbuhkan
benih-benih cinta di hati orang lain selain Noni. Noni hanya terdiam dan
tertawa ketika mengetahui hal tersebut dari mulut Jojo sendiri. Noni akan
selalu bahagia, jika Jojo bahagia. Noni tak pernah memaksakan perasaan adiknya
untuk bisa sayang yang berlebihan terhadap dia. Rasa sayang yang Jojo berikan
hari ini dan seterusnya, itu sudah lebih dari cukup untuk mengobati perasaan
yang sedikit terluka di benak Noni.
Waktu pun berlalu begitu
cepat. Perjalanan cinta Jojo bersama pasangan barunya mulai berkembang dan
makin berkembang. Benih-benih cinta itu sudah semakin tumbuh dengan
kejujurannya dan dengan keikhlasannya. Jojo libur kuliah. Ia pulang ke kampung
halamannya. Noni senang mendengar berita itu. Karena pasti ada cerita baru yang
ia ukir bersama Jojo di sempitnya masa liburan ini. Tak heran lagi dentang jam
yang berbunyi mengisyaratkan mereka berdua untuk pergi berlibur. Tak heran dan
tak di khayalkan , semua yang Noni rindukan kembali terukir di sudut-sudut
pantai pasir putih itu. Noni dan Jojo kembali dekat dan kembali kemasa silam,
bahwa keduanya masih saling merindukan.
Umur memang tak pernah
disangka. Noni yang sudah menginjak umur
yang ke-20, semakin minder bila berada didekat Jojo. Jojo saja masih 19 tahun. Noni semakin patah semangat untuk
tetep memepertahankan rasa itu. Apakah aku masih pantas berada di sampingnya
dan masih pantaskah aku untuk bisa mendapatkan hatinya?” pertanyaan itu
bergulir-gulir ditelinga Noni dari ia pergi sampai ia pulang. Kegelisahan hati
Noni membuat Noni gugup dan putus asa. Noni hampir tak bisa memepertahankan
rasa yang ia pendam selama bertahun-tahun itu.
Riak-riak ombak
bekejar-kejaran kian kemari. Anak-anak kecil berteriak menikmati dahsyatnya
ombak yang kian memikat. Noni dan Jojo tak pernah ingin melepaskan moment
terindah dan moment berlibur mereka. Semua kenangan itu berada dalam satu
potret dan satu genggaman. Semua kegiatan yang dialami Noni dan Jojo telah
terekam dalam sebuah potret kecil, potret itu menggambarkan dua orang remaja
yang sedang merasakan kesenangan yang mendalam. Kerinduan itu terbalaskan
sejenak dengan senyuman dan kebahagiaan. Mungkin inilah jawaban dari kisah
seorang kakak dan adik. Tetap saja seorang adik tak pernah menyayangi kakaknya
secara berlebihan. Ia hanya sekedar menyayangi tak lebih sebagai seorang kakak
yang memiliki perhatian lebih untuknya. Tapi Noni tetap sabar menanti dan
menunggu jawaban dari apa yang ia rasakan. Mesik cinta Noni tak terbalas, Noni
selalu sadar, bahwa Cinta ALLAH yang paling indah, dan cinta kepada makhluk
ALLAH tak selamanya bisa terbalaskan. Cinta tak harus memiliki, keihklasan hati
akan selalu menyelimuti kesedihan. Jangan menyerah, tetap semangat, ALLAH telah
menentukan yang terbaik buat Noni.