Beberapa bulan
ini selly masih berkomunikasi dengan Kevin. Kevin masih sering menanyakan kabar
Selly secara langsung maupun lewat saudaranya Sinta. Keadaan Selly semakin lama
semakin membaik. Dia juga sudah tak begitu gundah seperti biasanya. Selly
menjalani hari-hari seperti biasa. Ia sudah kembali normal. Kegiatan menulis
dimedia sekolah juga ia jalankan dengan baik. Suatu hari ketika Selly pulang
dari kantin bersama Sinta ia terkejut melihat pengumuman yang tertera di mading
sekolah. Pengumuman itu masalah menulis.
”Sell, kok
bengong sih, ayo buruan jalan, bentar lagi bel nih,” teriak Sinta yang sudah
berjalan meninggalkan Selly.
”bentar woii,
ini ada pengumuman penting!,” sahut Selly.
“terserah kamu
deh Sel, aku duluan yaa?.” Tanpa berfikir panjang Sinta meninggalkan Selly
begitu saja. Bel pun berteriak-teriak memanggil semua murid. Murid-murid
berhamburan ke kelasnya masing. Selly yang asik membaca mading akhirnya berlari
tergesa-gesa menuju kelas. Sesampainya di kelas, Pak Toni, guru Matematika
Selly sudah berada di dalam kelas. Selly takut akan berbicara apa diapun tak
tau. Perasaan Selly campur aduk tak tentu hara, kertas mading yang ada
digenggamannya pun hampir tak bernyawa. Ketakutannya menghadapi pak Toni tak
terbendung lagi. Pak Toni terkenal jahat di sekolah Selly. Dengan wajah yang
gugup dan muka tertunduk, Selly memberanikan diri. Ia seperti masuk
terperangkap ke dalam kandang singa. Ya ALLAH , selamatkan hamba. Luruskan
jalan ini ya ALLAH. Mulut Selly tak henti-hentinya berdoa.
Tok tok tok ..
suara pintu berdetak tiga kali, tiba-tiba jawabanpun menyapa wajah Selly yang
hampir tak berbentuk.
”kenapa kamu
terlambat? Telinga kamu ketinggalan di kantin yaa, sampai-sampai kamu tidak
mendengar kalau bel telah berbunyi sejak setengah jam yang lalu,” celoteh Pak
Toni.
Dengan wajah
yang pucat pasi, Selly menjawab dengan penuh keikhlasan. ”Mmaaaafffff Pak, tadi
saya buang air besar dulu di toilet, dan saking asiknya saya tak mendengar
suara bel, maaf yaa pak?”
Huuuuuuuu ,
tawapun menggelegar di ruangan kelas. Alasan Selly membuat Pak Toni yang
tadinya marah menjadi tersenyum.
“sudah-sudah
semuanya tenang, ya sudah Selly cepat kamu duduk dan jangan buat masalah lagi,
sekarang kita mulai belajar ya.”
Suasana kelaspun
menjadi tenang kembali. Dan Selly masih menanggung malu atas kebohongan yang ia
buat kepada pak Toni. Hatinya menangis, tapi raut wajahnya yang cuek tetap saja
tak memperlihatkan bahwa ia sedang bersedih. Selly tak menyangka ia akan
senekat itu. Pecahan-pecahan kebohongan itu akan menjadi momok dalam keseharian
Selly. Selly tetap tak perduli, yang terpenting bagi dirinya adalah bisa
mengikuti lomba menulis tingkat sekolah. Ia tak memikirkan hadiah uang
tunainya, tapi ia memikirkan hadiah jalan-jalan ke Manado. Itu yang ia kejar.
Karena dengan begitu ia bisa bertemu lagi dengan sahabatnya yaitu Kevin.
Bulan mulai
menutup diri. Kembali pada surya yang terang benderang berubah menjadi
titik-titik krital yang datang tak memakai aturan. Semuanya telah dilalui oleh
sebagian masyarakat kecil di kota Jogja. Tanah yang terdampar luas mulai
terlihat menguning. Pesta panen akan segera dimulai. Suara-suara mesin
dilumbung padi mulai terdengar. Kicauan-kicauan burung pemakan gabah mulai
datang berbondong-bondong memenuhi lahan. Walau begitu Selly tetap saja
mempersiapkan Tulisan terbaiknya. Tulisan yang akan membawanya ke Kota Manado.
Diary Merah Jambu yang slalu ia genggam masih saja melekat. Tak pernah lepas
dari genggamannya. Sesibuk apapun dia. Satu persatu Selly coba menggambarkan
isi yang ada di dalam Diary Merah Jambunya. Dihalaman pertama terlihat sebuah
gambar perempuan dan laki-laki paruh baya, kemdian disamping keduanya ada anak
laki-laki dan perempuan muda. Siapa dia ? dia adalah lukisan keluarga Selly.
Ada ayah, ibu, dan satu orang kakak laki-laki Selly. Lukisan itu digambar oleh
tangannya sendiri. Sangat abstrak, tapi indah jika dilihat dari kacamata seni.
Di halaman kedua dan seterusnya menceritakan kisah masa kecil Selly bersama
keluarga tercintanya. Selly mengungkapkan bahwa cita-citanya sungguh banyak
sekali. Tak hanya satu seperti orang-orang kebanyakan. Cintanya terhadap dunia
Tulisan harus segera ia lestarikan.
Kata-kata yang
diungkapkan Selly di dalam buku diarynya masih saja penuh tanda Tanya.
Cita-cita apa yang sebenarnya paling ia dambakan? Tulisannya mengembangkan satu
demi satu arti kehidupan yang Selly rasakan. Tak bosan setiap hari ia
mengayunkan jari jemarinya dengan lentur. Seperti layaknya anak muda
kebanyakan, yang lebih suka menulis kisah kasihnya disebuah laptop. Tapi berbeda
dengan Selly, ia lebih memilih menuangkan imajinasinya lewat buku diary merah
jambu.
Pohon-pohon yang
rindang kini mulai gugur satu persatu. Pesta panen yang megah telah usai
beberapa pekan yang lewat. Di bawah senja yang murung, Selly masih melanjutkan
tulisan yang akan ia persemahkan kepada Kevin. ya tulisan yang akan membawanya
ke kota Manado. Tulisan yang ada didalam diary Selly. Selly akan memberikan
Diary merah jambu itu kepada Kevin. Sebuah tulisan yang akan mengagetkan Kevin.
apa itu? Entahlah, semua masih dalam misteri Selly.
Hari yang
ditunggu-tunggu Selly pun tiba. Lomba menulis itu dimulai. Selly yang tak ingin
ketinggalan necis dengan siswa lain, ia mempersiapkan semua dengan matang. Filosofi
yang dipegang Selly “KALAU INGIN BERPERANG, PASTI HARUS ADA SENJATA DAN RAJIN
MENEMBAK.” Begitu pula dengan Selly, persiapan yang ia siapkan dengan matang
harus benar-benar sempurna dihadapan juri.
Surya kembali
menunduk malu, memamerkan senyum sumringah bersama sekawan camar. Tiupan-tiupan
syahdu dari kejauhan membelai sedikit demi sedikit rambut yang tergurai
panjang. Sosok Selly telah siap untuk berangkat kesekolah. Dengan pakaian yang
rapi, disertai dengan parfum yang menyeruak membuat Selly semakin Pede untuk bertanding
hari ini. Semua peralatan telah siap disandang Selly.
Ttiiiiitt tiittt,
mobil angkutan sekolah telah berteriak-teriak di depan rumah Selly. Selly sibuk
berlari keluar rumah.
“bentar pak, aku
pakek sepatu dulu.” Teriak Selly lantang. Selesai memakai sepatu ia langsung
berlari. “ayoooo jalan pak.” Pinta Selly. Di dalam bus yang besar dan waktu itu
Selly duduk dibelakang. “Kok aku jadi deg-degan gini sih, jantung akku rasanya
mau lepas. Aduhh udah dong deg-degannya. Takutnya apa yang aku pelajarin bisa
lupa lagi pas pertandingan. Aku harus bisa dan pasti bisa, ayo dong biasa aja
Sel, jangan gugup gitu.” Gumam Selly dalam hatinya.
APAKAH YANG AKAN
TERJADI? APAKAH SELLY BISA MEWUJUDKAN KEINGINANNYA , BERTEMU DENGAN KEVIN?
TUNGGU YA TEMAN-TEMAN. BERSAMBUNG
Tidak ada komentar:
Posting Komentar