Jumat, 05 April 2013

DIARY MERAH JAMBU BAGIAN 2


Beberapa bulan ini selly masih berkomunikasi dengan Kevin. Kevin masih sering menanyakan kabar Selly secara langsung maupun lewat saudaranya Sinta. Keadaan Selly semakin lama semakin membaik. Dia juga sudah tak begitu gundah seperti biasanya. Selly menjalani hari-hari seperti biasa. Ia sudah kembali normal. Kegiatan menulis dimedia sekolah juga ia jalankan dengan baik. Suatu hari ketika Selly pulang dari kantin bersama Sinta ia terkejut melihat pengumuman yang tertera di mading sekolah. Pengumuman itu masalah menulis.
”Sell, kok bengong sih, ayo buruan jalan, bentar lagi bel nih,” teriak Sinta yang sudah berjalan meninggalkan Selly.
”bentar woii, ini ada pengumuman penting!,” sahut Selly.
“terserah kamu deh Sel, aku duluan yaa?.” Tanpa berfikir panjang Sinta meninggalkan Selly begitu saja. Bel pun berteriak-teriak memanggil semua murid. Murid-murid berhamburan ke kelasnya masing. Selly yang asik membaca mading akhirnya berlari tergesa-gesa menuju kelas. Sesampainya di kelas, Pak Toni, guru Matematika Selly sudah berada di dalam kelas. Selly takut akan berbicara apa diapun tak tau. Perasaan Selly campur aduk tak tentu hara, kertas mading yang ada digenggamannya pun hampir tak bernyawa. Ketakutannya menghadapi pak Toni tak terbendung lagi. Pak Toni terkenal jahat di sekolah Selly. Dengan wajah yang gugup dan muka tertunduk, Selly memberanikan diri. Ia seperti masuk terperangkap ke dalam kandang singa. Ya ALLAH , selamatkan hamba. Luruskan jalan ini ya ALLAH. Mulut Selly tak henti-hentinya berdoa.
Tok tok tok .. suara pintu berdetak tiga kali, tiba-tiba jawabanpun menyapa wajah Selly yang hampir tak berbentuk.
”kenapa kamu terlambat? Telinga kamu ketinggalan di kantin yaa, sampai-sampai kamu tidak mendengar kalau bel telah berbunyi sejak setengah jam yang lalu,” celoteh Pak Toni.
Dengan wajah yang pucat pasi, Selly menjawab dengan penuh keikhlasan. ”Mmaaaafffff Pak, tadi saya buang air besar dulu di toilet, dan saking asiknya saya tak mendengar suara bel, maaf yaa pak?”
Huuuuuuuu , tawapun menggelegar di ruangan kelas. Alasan Selly membuat Pak Toni yang tadinya marah menjadi tersenyum.
“sudah-sudah semuanya tenang, ya sudah Selly cepat kamu duduk dan jangan buat masalah lagi, sekarang kita mulai belajar ya.”
Suasana kelaspun menjadi tenang kembali. Dan Selly masih menanggung malu atas kebohongan yang ia buat kepada pak Toni. Hatinya menangis, tapi raut wajahnya yang cuek tetap saja tak memperlihatkan bahwa ia sedang bersedih. Selly tak menyangka ia akan senekat itu. Pecahan-pecahan kebohongan itu akan menjadi momok dalam keseharian Selly. Selly tetap tak perduli, yang terpenting bagi dirinya adalah bisa mengikuti lomba menulis tingkat sekolah. Ia tak memikirkan hadiah uang tunainya, tapi ia memikirkan hadiah jalan-jalan ke Manado. Itu yang ia kejar. Karena dengan begitu ia bisa bertemu lagi dengan sahabatnya yaitu Kevin.
Bulan mulai menutup diri. Kembali pada surya yang terang benderang berubah menjadi titik-titik krital yang datang tak memakai aturan. Semuanya telah dilalui oleh sebagian masyarakat kecil di kota Jogja. Tanah yang terdampar luas mulai terlihat menguning. Pesta panen akan segera dimulai. Suara-suara mesin dilumbung padi mulai terdengar. Kicauan-kicauan burung pemakan gabah mulai datang berbondong-bondong memenuhi lahan. Walau begitu Selly tetap saja mempersiapkan Tulisan terbaiknya. Tulisan yang akan membawanya ke Kota Manado. Diary Merah Jambu yang slalu ia genggam masih saja melekat. Tak pernah lepas dari genggamannya. Sesibuk apapun dia. Satu persatu Selly coba menggambarkan isi yang ada di dalam Diary Merah Jambunya. Dihalaman pertama terlihat sebuah gambar perempuan dan laki-laki paruh baya, kemdian disamping keduanya ada anak laki-laki dan perempuan muda. Siapa dia ? dia adalah lukisan keluarga Selly. Ada ayah, ibu, dan satu orang kakak laki-laki Selly. Lukisan itu digambar oleh tangannya sendiri. Sangat abstrak, tapi indah jika dilihat dari kacamata seni. Di halaman kedua dan seterusnya menceritakan kisah masa kecil Selly bersama keluarga tercintanya. Selly mengungkapkan bahwa cita-citanya sungguh banyak sekali. Tak hanya satu seperti orang-orang kebanyakan. Cintanya terhadap dunia Tulisan harus segera ia lestarikan.
Kata-kata yang diungkapkan Selly di dalam buku diarynya masih saja penuh tanda Tanya. Cita-cita apa yang sebenarnya paling ia dambakan? Tulisannya mengembangkan satu demi satu arti kehidupan yang Selly rasakan. Tak bosan setiap hari ia mengayunkan jari jemarinya dengan lentur. Seperti layaknya anak muda kebanyakan, yang lebih suka menulis kisah kasihnya disebuah laptop. Tapi berbeda dengan Selly, ia lebih memilih menuangkan imajinasinya lewat buku diary merah jambu.
Pohon-pohon yang rindang kini mulai gugur satu persatu. Pesta panen yang megah telah usai beberapa pekan yang lewat. Di bawah senja yang murung, Selly masih melanjutkan tulisan yang akan ia persemahkan kepada Kevin. ya tulisan yang akan membawanya ke kota Manado. Tulisan yang ada didalam diary Selly. Selly akan memberikan Diary merah jambu itu kepada Kevin. Sebuah tulisan yang akan mengagetkan Kevin. apa itu? Entahlah, semua masih dalam misteri Selly.
Hari yang ditunggu-tunggu Selly pun tiba. Lomba menulis itu dimulai. Selly yang tak ingin ketinggalan necis dengan siswa lain, ia mempersiapkan semua dengan matang. Filosofi yang dipegang Selly “KALAU INGIN BERPERANG, PASTI HARUS ADA SENJATA DAN RAJIN MENEMBAK.” Begitu pula dengan Selly, persiapan yang ia siapkan dengan matang harus benar-benar sempurna dihadapan juri.
Surya kembali menunduk malu, memamerkan senyum sumringah bersama sekawan camar. Tiupan-tiupan syahdu dari kejauhan membelai sedikit demi sedikit rambut yang tergurai panjang. Sosok Selly telah siap untuk berangkat kesekolah. Dengan pakaian yang rapi, disertai dengan parfum yang menyeruak membuat Selly semakin Pede untuk bertanding hari ini. Semua peralatan telah siap disandang Selly.
Ttiiiiitt tiittt, mobil angkutan sekolah telah berteriak-teriak di depan rumah Selly. Selly sibuk berlari keluar rumah.
“bentar pak, aku pakek sepatu dulu.” Teriak Selly lantang. Selesai memakai sepatu ia langsung berlari. “ayoooo jalan pak.” Pinta Selly. Di dalam bus yang besar dan waktu itu Selly duduk dibelakang. “Kok aku jadi deg-degan gini sih, jantung akku rasanya mau lepas. Aduhh udah dong deg-degannya. Takutnya apa yang aku pelajarin bisa lupa lagi pas pertandingan. Aku harus bisa dan pasti bisa, ayo dong biasa aja Sel, jangan gugup gitu.” Gumam Selly dalam hatinya.
APAKAH YANG AKAN TERJADI? APAKAH SELLY BISA MEWUJUDKAN KEINGINANNYA , BERTEMU DENGAN KEVIN? TUNGGU YA TEMAN-TEMAN. BERSAMBUNG

Tidak ada komentar:

Posting Komentar