Jumat, 10 Mei 2013

Surat Untuk Mama Bagian 2


Semuanya berjalan lancar. Citra berhasil menggugurkan kandungannya. Selang beberapa hari saat kejadian itu berlangsung, Citra langsung bergegas pulang ke Bandung. Orang tua Citra yang sudah seminggu pulang, akhirnya bisa memeluk kembali buah hati yang sangat mereka banggakan tersebut. Semuanya kelihatan baik-baik saja. Citra sangat-sangat bisa menutupi semua kesalahannya. Sungguh manis bibir Citra di depan kedua orangtuanya. Orangtua Citra merasa ada yang aneh dengan anaknya. Kemudian mereka bertanya : “Wajah kamu kenapa pucat seperti itu nak? Kamu sakit ya?, jawab jujur ya, mamah dan papa gak mau kamu kenapa-kenapa,” tanya mama Citra penuh rasa khawatir. “Gak pa pa kok mah, Cuma agak pusing dan kurang tidur aja, terlalu banyak kegiatan disana,” jawab Citra gugup. Mama dan papa Citra pun mengangguk dan langsung kembali ke kamar.
**
Di suatu tempat, tak begitu besar. Dihiasi dengan bunga-bunga kecil tepat di meja tempat bernaung bersama buku dan pena. Kemudian sebuah dinding kokoh yang dibaluti warna pink ketuaan mewarnai seluruh kediaman Citra. Ya disitulah Citra berkeluh kesah dan bercerita. Dengan memandangi langit-langit di kamarnya, Citra terbayang wajah Roy. Roy pacarnya yang ia tinggali beberapa waktu lalu. Terlalu lama Citra meninggalkan Roy. Apakah Roy masih mau menerimanya? Apa Roy tahu satu hal tentangnya? Gak Roy pasti gak tahu. Citra sesekali menatap frame poto yang berada tepaat disampingnya. Memandang pria lugu, yang selalu dipermainkannya. Roy itu baik banget kan? Dia baik banget sama aku. Kenapa sih aku selalu mainin dia? Jahat banget ya aku?, gemuruh didadanya masih saja berkobar-kobar. Ia takut dan ia pasti malu jika Roy tahu apa yang terjadi dengannya di Bali. Apalagi jika ia ingat dengan laki-laki brengsek yang telah mencoreng nama baiknya.. laki-laki itu bernama Tomy. Tomy melarikan diri dan sengaja ingin mencoreng nama baik Citra. Citra sesekali menangis jika teringat akan perbuatan bejatnya bersama Tomy. Sedangkan Tomy hanya bersantai tanpa ingin tahu bagaimana keadaan Citra.
**
Gemericik kristal membaluti hari ini. Sang surya tak tampak sama sekali. Hewan-hewan kecil sibuk mencari makan di daerahnya. Tak berani keluar dari sarangnya. Lebah-lebah dan kupu-kupu tak berani menuai basah dibahunya. Mereka sibuk dengan cadangan makanannya saja. Cukup dengan menghisap madu yang masih tersisa disela-sela tangkai mawar yang tak terkena percikan krital. Suasana haru sepertinya masih menyelimuti kediaman Roy. Tepat di kamar tidurnya, dari kejauhan terlihat sebuah meja kecil yang menghadap ke jendela. Dengan dilengkapi kursi kayu yang unik dan baik untuk bersantai. Roy yang masih duduk dan menatap jauh kesebrang luar mencoba melupakan rasa sakitnya. Di dinginnya suasana, ia masih ingin merubah pemikirannya tentang Citra, dan tak ingin mendengar apa kata Retno. Ia masih bimbang untuk percaya kepada siapa. Kecintaannya kepada Citra membuat ia tak percaya lagi dengan Retno yang memberi informasi tak jelas kepadanya hari itu. Ternyata di luar ada yang berteriak memencet bel rumah Roy. Roy dengan gontai membuka pintu. Ia pun bingung, siapa yang sebenarnya datang. Dengan harapan yang baik, ia buka pintu perlahan. Ternyata yang datang adalah kekasihnya, Citra. Roy spontan langsung memeluk Citra. Citra diam setengah mati dan tak bisa berbuat apa-apa. Roy sesunggukan. Baju yang Citra kenakan basah seketika. “Lo gak kenapa-kenapa kan Cit? Lo baik-baik aja kan? Lo gak sakit kan? Lo juga gak hamil kan?,” ujar Roy dengan mata berkaca-kaca. “Gueee? Gue baik-baik aja kok Roy, lo kenapa sih? Lihat nih buktinya gue baik-baik ajakan? Gue masih Citra yang dulu Roy, yang lo kenal beberapa tahun silam. Gue gak berubah kan? Gue Cuma terlalu sibuk dengan urusan karier gue, lo ngerti gue kan Roy?, “ jawabnya dengan wajah yang menyimpan banyak rahasia.”Syukurlah, ternyata yang gue pikirin selama ini gak bener kan? Yang penting lo baik-baik aja gue udah seneng banget kok. Masuk yuk ibu masak sup tuh,” ajak Roy.
**
Keduanya masuk ke rumah. Citra yang masih berbohong kepada Roy sangat-sangat bersyukur bahwa Roy tak tahu tentang hal kehamilannya waktu di Bali. Citra tersenyum kepada Roy, dan Roy tetap memandangi wajah Citra yang sangat ia rindukan sejak beberapa bulan ini. Wajah Roy tak bisa berbohong. Tatapannya yang tulus, kasih sayangnya yang ikhlas, membuat ia tetap berharap bahwa Citra cinta terbaiknya. Citra juga kembali memandangi wajah Roy. Ia merasa bersalah sekali jika harus berbohong kepada Roy. Sampai kapan ini akan terjadi? Citra hanya diam, dan menyimpan rasa bersalahnya. Suatu saat Roy pasti tahu kok. Citra yakin suatu saat ia akan membuka semua kesalahannya dan meminta maaf kepada Roy.
**
Esoknya, di kampus tercinta. Keduanya mesra sekali. Pergi kemana-mana berdua dan selalu berdua. Mobil butut kesayangan Roy yang selalu setia menemani dan mengantarkan mereka kemanapun mereka mau. Hari-hari Roy kembali seperti semula. Ceria dan tanpa adanya tangisan. Roy mulai bangkit dari keterpurukannya semenjak ia tahu akan keadaan Citra yang sebenarnya baik-baik saja. Citra tak berubah sama sekali. Ia masih Citra yang dulu, keras kepala dan tak mau mengalah. Tapi Roy tetap saja cinta dan sayang bagaimanapun keadaan Citra. Baginya, dengan cara menerima kekurangan Citra lah ia bisa menutupi semua. Cinta itu dari hati, bukan masalah fisik atau sifat. Keduanya mampir di tempat kesenangan mereka. Sungai merapi. Mereka duduk di tempat mereka pertama kali jadian. Moment indah itu tak akan pernah terlupakan dibenak mereka. Ukiran nama yang terpampang jelas di kedua pohon yang mengapit kursi tersebut, menjadi saksi bisu terikatnya cinta antara Roy dan Citra. Semuanya kembali seperti semula. Semuanya senang dan semuanya pasti akan berakhir indah.
**
Roy yakin dengan semua yang ia rasakan beberapa hari ini. Citra tak akan pernah meninggalkannya lagi. Citra pasti tetap bersamanya disini. Tiba-tiba, ketika Roy asik menghayal dengan frame ditangannya, handpone Roy berbunyi. Pesan itu dari Citra. Roy langsung membuka pesan tersebut. “Roy, beberapa hari ini aku lihat kamu seneng banget, aku udah ngomong sama mama dan papa, aku siap untuk menikah dengan kamu. Kamu siap kan? Besok, aku dan keluargaku akan datang. Semoga semuanya akan baik-baik saja, tertanda: Citra.” Roy langsung terperanjat. Ini tidak mimpi kan? Menikah? Tidak segampang itu Citra mengatakan kata menikah dengan aku. Apa yang harus aku katakan pada ibu dan bapak. Aku anak bungsu, pasti mereka menginginkan aku sekolah sampai selesai barulah menikah. Tapi jika menikah karena Allah dan tak ingin timbul yang bukan-bukan. Aku harus siap dan harus bisa membujuk ibu dan bapak supaya menyetujui ini,” Gumam Roy dalam hatinya.
**
Hari yang ditunggu-tunggu Roy telah sampai pada waktunya. Roy menunggu keluarga Citra datang ke rumah. Ibu dan ayah Roy telah siap dengan kedatangan calon menantunya. Dibalut dengan pakaian berwarna hijau muda, ibu dan ayah Roy lebih terlihat muda dari sebelumnya. Mereka bersemangat, mereka sangat mendukung apa yang Roy lakukan. Selagi itu masih dalam batas yang baik dan yang terbaik untuk anaknya, ibu Roy setuju-setuju saja. Dari kejauhan telah tampak mobil sedan berwarna merah yang gagah berani menghampiri kediaman Roy. Semuanya dipersilahkan masuk. Bincangan demi bincangan pun telah dilakukan dengan semangat. Semuanya setuju. Tetapi tiba-tiba Citra mengajak Roy untuk berbicara empat mata di taman dekat rumah Roy. Citra ingin mengatakan yang sebenarnya ke Roy. Roy mengikuti Citra. Ia menikmati perjalanan menuju taman. Wajahnya terlihat berseri-seri. Kesenangan yang ia rasakan hari itu tak dapat ia gambarkan lagi dengan kata-kata. Citra mencoba membuka celah berbicara.
**
“Roy, kalau aku ngomong jujur tentang apapun, kamu masih mau jadi suami aku kan?, “tanya Citra dengan gugup. “Kok kamu gitu sih ngomongnya, emang ada masalah ya? Atau ada cowok lain,” wajah Roy mulai berubah. “Gak bukan itu, aku Cuma mau bilang, akuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu,” Citra semakin gugup. “Aku apa Cit? ngomong dong, aku gak mau jika kita sudah menikah, kamu masih menutupi semuanya,” pinta Roy tegas.
**
Dengan pelan Citra membisikan kata singkat ketelinga Roy. “Akuu udah gak perawan lagi, aku sudah pernah melakukan itu dan aku menggugurkan kandunganku sendiri, demi kamu dan demi keluargaku, aku bukan bermaksud nyakitin atau bohongin kamu, aku Cuma takut kehilangan kamu,” Citra menangis atas kesalahannya. Suasana kemudian hening. Roy hanya diam, ia tak merespon apa-apa. Ia menunduk dan matanya berkaca-kaca. “jadi selama ini benar. Apa yang aku dengar dari Retno itu benar? Kamu sudah hamil dan menggugurkannya? Kamu gila ya Cit!!!! itu anak kamu, darah daging kamu. Kamu tega , sumpah kamu tega Cit, aku kecewa sama kamu,” Roy meninggalkan Citra. Kemudia Citra berlari mengejar Roy dan menangis sejadi-jadinya. Roy yang terlalu sayang kepada Citra akhirnya memutuskan untuk memaafkan Citra dan menikah dengan Citra secepatnya. Ia tak ingin melihat Citra menanggung malu. Biarlah Allah yang menghukum ia. Roy hanya ingin membimbing Citra ke jalan yang benar.
**
Semuanya berjalan lancar. Rumah tangga Roy dan Citra sungguh harmonis. Keduanya saling mengisi satu sama lain. Kebiasaan Roy bekerja dan Citra di rumah masih sama tetap harmonis. Citra yang sudah berubah, kini menjadi ibu yang muslimah. Ia mengenakan hijab dan banyak belajar agama di majelis taklim dan dengan suaminya sendiri.
**
Cerita-cerita indah pasangan pengantin baru ini sungguh berkesan. Setiap malam, suasana dihiasi dengan membaca Al-Quran. Roy mengajarkan Citra membaca Al-Quran. Walau masih terbata-bata, Roy sabar membimbing istrinya. Roy yakin istrinya pasti bisa menjadi istri yang baik. Kesederhanaan yang dimiliki Roy dan Citra membuat mereka ingin cepat memiliki anak. Citra selalu sedih jika Roy menasehatinya, mengatakan bahwa Tak ada manusia yang sempurna. Apapun yang terjadi Citra adalah wanita terbaik yang Roy punya saat ini. Masa lalu Citra membuat Roy sadar, bahwa Jodoh yang baik ternyata berawal dari yang jahat dahulu. Tak selamanya mereka mendapat yang baik pula.
**
Bulan berganti bulan. Musim penghujan telah meninggalkan kota Kembang dan kembali menghirup musim panas. Sang surya tampak gagah dengan gaun berwarna kuning keemasannya. Burung pun terbang bebas di angkasa. Menikmati terangnya surya di pagi nan cerah itu. Roy yang bekerja di sebuah toko elektronik sangat piawai dalam menjualkan barang elektroniknya ke konsumen. Bakat berjualannya memang tumbuh saat ia masuk ke ITB jurusan ekonomi. Roy hobi dalam hal memasak juga. Tak ayal, setiap hari libur Roy memasak untuk istrinya. Setiap malam, ketika Roy belum pulang, Citra menunggu Roy. Ia celingak celinguk kejendela. Suatu hari Citra sudah tak kuat lagi untuk menopang matanya sendiri. Mata Citra sudah benar-benar mengantuk. Akhirnya malam itu ia terlelap dengan cepat. Citra bermimpi aneh, ia bertemu dengan gadis kecil, cantik, mirip sekali dengannya. Gadis itu memberikan sepucuk surat. Kemudian Citra membaca surat tersebut. Ini isi suratnya.
**
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Teruntuk bundaku tersayang
Dear bunda ..
Bagaimana kabar bunda hari ini? Semoga bunda baik-baik saja. Nanda juga disini baik-baik saja bunda. Allah sayang banget deh sama Nanda. Allah juga yang menyuruh nanda menulis surat ini untuk bunda, sebagai bukti cinta nanda kepada bunda.
Bunda, nanda ingin sekali menyapa perempuan yang telah merelakan rahimnya untuk nanda diami walaupun hanya sebentar. Bunda sebenarnya nanda ingin sekali lebih lama berdiam diri dirahim bunda, ruang yang kata Allah paling kokoh dan paling aman di dunia.
Tapi rupanya bunda tak menginginkan kehadiran nanda, jadi sebagai anak yang baik, nanda pun rela menukarkan kehidupan nanda, demi kebahagiaan bunda. Walaupun dulu waktu bunda meluruhkan nanda, sakit banget bunda, badan nanda rasanya seperti tercabik-cabik. Dan keluar sebagai gumpalan darah yang menjijikkan. Apalagi hati nanda, nyeri seperti merasa aib yang tidak dihargai dan tidak diinginkan. Tapi nanda tidak kecewa kok bunda, dengan begitu, bunda telah mengantarkan nanda untuk bertemu dan dijaga Allah bahkan nanda dirawat dengan penuh kasih sayang di dalam syurgaNya.
Bunda sayang ..
Nanda mau cerita nih.. dulu nanda pernah menangis dan bertanya kepada Allah..mengapa bunda meluruhkan nanda disaat nanda masih berupa wujud yang belum sempurna dan membiarkan nanda sendirian disini?.... apa bunda tidak sayang sama nanda, dan bunda tak ingin mencium nanda? …atau jangan-jangan takut nanda rewel dan ngompol sembarangan nantinya?...
Lalu Allah menjawab : bunda kamu malu sayang …..kenapa bunda malu? Karena dia takut kamu dilahirkan sebagai anak haram.. anak haram itu apa ya Allah? Anak haram itu anak yang dilahirkan tanpa seorang ayah..
Nanda bingung dan bertanya lagi sama Allah.. ya Allah, bukannya setiap anak itu pasti punya ayah dan ibu? Kecuali Adam dan Isa?
Allah yang maha tahu menjawab bahwa bunda dan ayah memproses nanda bukan dalam ikatan pernikahan yang Allah Ridhoi.
Nanda semakin bingung, dan akhirnya nanda memutuskan untuk diam. Bunda sayang, nanda malu terus-terusan nanya sama Allah. Walaupun setiap nanda tanya, pasti Allah selalu menjawab semua pertanyaan nanda. Sekarang nanda mau nanya sama bunda aja. Bunda oh bunda pernikahan itu apasih bunda?. Kenapa bunda tidak menikah saja dengan ayah?. Kenapa bunda membuat nanda menjadi anak haram? Dan mengapa bunda mengusir nanda dari Rahim bunda dan tidak memberi kesempatan nanda hidup didunia untuk berbakti kepada bunda?....... hehe maaf ya bunda nanda bawel banget, nanti saja nanda tanyakan bunda kalau kita ketemu.
Bunda sayang
Suatu hari malaikat pernah mengajak jalan-jalan nanda ke suatu tempat bernama neraka. Tempat itu sangat menyeramkan dan sangat jauh berbeda dengan tempat tinggal nanda di Syurga. Disitu banyak orang yang dibakar pakek api loh bunda.. minumnya juga pakek nanah dan makannya buah-buahan aneh banyak durinya, yang paling parah, ada perempuan yang ditusuk dan dibakar kayak sate gitu, serem banget deh bunda..lagi ngeri-ngerinya tiba-tiba malaikat bilang sama nanda. “Nak, jika kelak ibu dan ayahmu tidak bertaubat, maka disitulah tempatnya, disitu  jugalah orang yang berzina akan tinggal selama-lamanya.” Seketika itu nanda menangis berteriak-teriak memohon agar bunda dan ayah tidak dimasukkan ke situ.
Bunda sayang
Nanda sayang banget sama bunda, nanda ingin bertemu dengan bunda….nanda ingin merasakan lembutnya tangan bunda, dan nanda ingin bunda dan ayah tingggal bersama nanda di syurga. Nanda takut bunda dan ayah kesakitan seperti orang-orang itu.
Lalu dengan lembut malaikat berkata, “Nak jika kamu sayang dan mau bertemu serta ingin ayah dan bundamu tinggal di syurga, tulislah surat untuk mereka. Sampaikan berita baik bahwa kamu tinggal disyurga dan ingin mereka ikut. Ajaklah mereka bertaubat dan sampaikan juga berita buruk bahwa jika mereka tidak bertaubat, mereka akan disiksa di neraka seperti orang-orang itu.
Mendengar itu segera saja nanda menulis surat ini untuk bunda. Menurut nanda Allah itu baik banget bunda. Allah akan memaafkan semua  kesalahan makhlukNya, asal mereka mau bertaubat nasuha. Bunda taubat ya? Ajak ayah juga, nanti biar kita bisa kumpul bareng disini. Nanti nanda jemput bunda dan ayah di Padang Mahsyar deh. Nanda janji mau bawain payung dan minuman buat ayah dan bunda. Soalnya kata Allah di sana panas banget bunda. Antriannya juga panjang, semua orang sejak zaman nabi Adam akan kumpul di situ. Tapi bunda jangan khawatir, Allah janji walaupun ramai kalau bunda dan ayah mau bertaubat dan jadi orang yang baik, pasti nanda bisa ketemu kalian. Bunda kasih kesempatan buat nanda ya?. Biar nanda bisa merasakan nikmatnya bertemu dan berbakti kepada orang tua. Nanda juga memohon sama bunda, jangan sampai adik-adik nanda mengalami nasib yang sama dengan nanda. Biarlah nanda saja yang merasakan sakitnya ketersia-siaan itu. Tolong ya bunda, kasih adik-adik kesempatan untuk hidup di dunia, menemani dan merawat bunda sampai bunda tua kelak.
Bunda sayang ..
Sudah dulu yaa , nanda mau main-main di syurga nih.. nanda tunggu kedatangan ayah dan bunda disini. Nanda sayang banget sama bunda J
**

Citra kemudia terbangun. Ia kaget setengah mati karena baju yang ia kenakan basah semua. Ternyata ia menangis dari tadi. Ia menangis mendengar keluh kesah gadis tersebut. Ia yakin gadis itu adalah anak yang ia aborsi dua tahun lalu. Citra menangis sejadi-jadinya. Roy yang kecapean langsung memeluk istrinya. Tanpa bertanya apa yang terjadi. Citra yang masih dalam pelukan Roy berkata bahwa ia bertemu dengan anak yang ia aborsi dua tahun silam. Citra menceritakan semuanya panjang lebar. Roy tetap memeluk erat dan merasakan bagaimana hati istrinya. Roy mengusap air mata istrinya dan berkata : JANGAN SEDIH SAYANG, SEMUA YANG KAMU LAKUKAN AKAN DIMAAFKAN OLEH ALLAH, JIKA KAMU MAU BERTAUBAT DAN MENGAKUI KESALAHANMU. KITA SAMA-SAMA BINA RUMAH TANGGA INI YA. KITA BERDOA SUATU SAAT NANTI PASTI KITA AKAN BERTEMU DENGAN GADIS KECIL ITU, JANGAN SEDIH, AKU SELALU DISAMPINGMU, AKU SAYANG KAMU KARENA ALLAH.
***
THE AND

Casting Pertama Film 2 Warna Lancar



TANJUNGPINANG, TRIBUN- Casting film 2 WARNA yang diselenggarakan oleh pihak perfilman kota Tanjungpinang berjalanan lancar. Film yang mengangkat cerita tentang persahabatan dua anak pulau yang berbeda suku yaitu Tionghoa dan Melayu yang diangkat dari kehidupan nyata masyarakat melayu dan Tionghoa yang ada di Tanjungpinang.
Alasan penulis mengangkat cerita ini menjadi sebuah film adalah penulis ingin sekali membuktikan bahwa etnis Tionghoa dan Melayu yang ada di Tanjungpinang, memiliki persahabatan yang khas yang akan diperankan oleh Umar yang beretnis Melayu dan Hengky yang beretnis Tionghoa nantinya.
Film 2 Warna ini membutuhkan sekurang-kurangnya 35 pemain dengan karakter tokoh yang baik pula. Perjalanan pencarian karakter tokoh Hengky yang beretnis Tionghoa agak sulit dicari. Karena antusias masyarakat Tionghoa kurang dalam hal perfilmnan.
“Sementara ini kami belum mendapatkan pemeran Hengky yang beretnis Tionghoa. Karena memang sulit untuk mengajak mereka bermain di sini. Langkah kami selanjutnya adalah melakukan go to school.  Dengan begitu kami akan mendapatkan Hengky yang cocok, yang sesuai dengan karakter yang diinginkan,” kata Talent Coordinator, Yahya, yang ditemui Kamis lalu (09/05)
Selain itu, peserta yang mengikuti casting juga semakin banyak. Awalnya, sebelum casting dimulai, yang sudah bertanya kepada mereka via telepon sekitar 200 orang. Tetapi nyatanya hanya 100 orang yang memiliki keberanian dan antusias yang tinggi terhadap film 2 Warna ini.
“Casting yang dilakukan pada Kamis lalu sangat kami banggakan. Karena anime masyarakat yang ingin ikut casting dan menjadi pemeran difilm ini sangat antusias sekali. Hari ini sudah hampir 100 orang yang mendaftar dan 30 persen diantara mereka yang cukup baik sampai saat ini,” ujar Direktur Film 2 Warna, Richard.
Lokasi-lokasi syuting film ini bertempat di seluruh kota Tanjungpinang, tepatnya di Gedung Daerah, Tugu Pinsil, Tugu Raja Haji Fisabillilah dan yang terakhir di bt.5 depan STIE Pembangunan. Di komplek itulah nantinya puncak dari cerita 2 Warna. Biaya yang dikeluarkan bersumber dari modal mereka sendiri. Kebanyakan mereka patungan antara Crew, karena mereka juga masih mencari seorang Produser yaitu seorang Tokoh/ Sosok Pengusaha maupun Pemerintahan yang berminat untuk memproduksi film ini. Sekarang ini film 2 warna masih bekerja sama dengan Yamaha Malaka Abadi, Sayap Hitam Entertaiment, dan Studio Melayu.com.
Siapapun yang berminat untuk melihat langsung pada proses pembuatan, Direktur Film ini juga memberikan kebebasan kepada seluruh masyarakat Tanjungpinang untuk sama-sama mengikuti pada saat syuting dimulai. Karena kawan-kawan semua tidak hanya bisa menonton filmnya, tetapi kawan-kawan juga bisa sama-sama belajar dan mendapat ilmu baru yang mungkin belum pernah kawan-kawan dapatkan.
Direktur film 2 Warna juga mengatakan bahwa siapapun yang mau ikut bergabung dalam pembuatan film, khususnya waktu syuting, bisa datang ke lokasi syuting pada tanggal 20-27 Mei mendatang. Dan Film ini pun akan ditayangkan di Tanjungpinang, Batam, Tanjunguban, Kijang, Karimun dan yang terakhir di Belakang Padang.
Harapan semua pihak dari film 2 Warna ini, yaitu mengajak teman-teman semua, khususnya kota Tanjungpinang, untuk sama-sama ikut dalam casting. Karena masih banyak lagi peran-peran yang dibutuhkan untuk ikut andil di dalam film ini. Jangan malu dan jangan takut berekspresi, karena sebuah pengalaman yang buruk pun akan selalu menjadikan teman-teman lebih baik dikemudian hari.(RINI ARISKA)

Kamis, 09 Mei 2013

Di Balik Getuk Terselip Semangat Kemandirian


Seseorang yang menanam budi yang baik, pasti hasilnya juga baik. Tapi sebaliknya, seseorang yang menanam keburukan, pasti hasilnya akan buruk pula. Ibarat ubi yang ditanam dengan niat yang baik, pupuk yang cukup, dan perawatan yang baik, pasti hasil yang didapatkan akan jauh lebih baik. Dibandingkan dengan ubi yang ditanam dengan biasa-biasa saja.
Musriatun (78), Demikian nama penjual getuk, warga Tanjungpinang yang tinggal di jalan Lembah Merpati Km.13. Sudah dari tahun 1959 ia merantau ke Tanjungpinang. Ibu yang mempunyai 8 orang anak dan 15 cucu ini sehari-hari dipanggil dengan sebutan mbah Tumadi. Mbah Tumadi ditinggal oleh suaminya sejak 6 tahun silam. Nama Tumadi sendiri dikenal orang, karena suaminya bernama Tumadi (Alm). Kegiatan sehari-harinya adalah bertani, jualan, mengikuti majelis taklim, senam lansia, kompang, semua kegiatan yang dilakukan oleh para lansia pasti diikutinya.
Mbah menikah sudah 78 tahun. Awal menjual getuk, karena mbah tak ingin membebani suaminya. Ia berinisiatif untuk menjual getuk dari ubi yang ia tani sendiri tepat dibelakang rumahnya. Dari hasil menjual getuk itulah mbah bisa menyekolahkan anak-anaknya dan bisa makan sehari-hari. Waktu anak-anak mbah masih kecil-kecil, mbah tidak hanya menjual getuk saja, mbah menjual tiwul, urap, dan pecel.
Tanpa berfikir panjang, mbah pun bercerita tentang pahit dan manisnya berjualan dengan cara berjalan kaki. “waktu dulu itu, saya menjajakan jualan saya sampai ke AURI dan Bandara. Itupun saya berjalan kaki ke sana. Disitu ada lapangan yang masih baru mau dibangun. Banyak loder dan pekerja juga, saya lewat saja. Kemudian mereka memanggil saya, dan orang-orang tersebut membeli dagangan saya. Waktu itu lucunya lagi, saya bawa buku kecil, untuk mencatat hutang-hutang para pekerja. Saya diejek, dibilang kayak orang pejabat bawa-bawa buku. Saya hanya senyum saja. Kalau waktunya orang gajian, tauke cina yang menggaji para pekerja memanggil saya, meminta saya memberikan buku hutang, dan ia melunasi semua hutang para pekerja, “ ujar mbah Tumadi sambil tersenyum.
Selain itu mbah Tumadi juga menceritakan pengalaman pahit selama ia berjualan. Ternyata berjualan itu tidak mudah. Ia memang harus menggendong jajakannya kesana kemari. Tak peduli badai dan hujan. Apapun yang terjadi selagi masih kuat pasti akan dijalaninya. “Dulu, ketika saya menjajakan jualan saya ke bukit, saya terjatuh, sambel pecel saya tumpah ketanah. Tidak ada orang yang menolong, karena dulu itu jalan di bukit masih hutan besar, saya hanya mengucap, YA Allah, apa ini cobaan-Mu, kuatkan saya, dan tabahkan saya, “ ujarnya dengan mata yang berkaca-kaca.
Berjualan getuk masih dilakoni mbah sampai sekarang. Baginya, hasil yang didapat dengan usaha sendiri itu berbeda jauh dengan hasil yang didapat dari pemberian orang lain. “Kalau dapat duit sendiri itu senang, walaupun anak sudah kerja semua, sudah sukses semua, tetap saja saya masih bekerja, berbeda sekali rasanya duit yang didapat atas usaha sendiri, dibandingan duit yang dikasih sama anak,” ujarnya lagi.

 Tidak hanya itu saja, mbah Tumadi yang selalu menjajakan dagangannya kesana kemari, kini tak lagi menjajakan setiap hari. Hanya dengan duduk di rumah, dia sudah bisa melayani pelanggan setianya yang akan datang ke rumah untuk memesan getuknya. Sehingga mbah Tumadi sudah tidak perlu lelah menjajakannya. Kelelahan mbah Tumadi terbayar juga dengan panggilan Allah yang mulia ke Tanah Suci. Ia hanya berharap bisa baik-baik saja, selalu diberi kesehatan dan kelancaran dalam beribadah haji itu. Sejak 2010 ia  resmi menjadi Haji.
Pengalaman yang paling berkesan sampai saat ini adalah ketika mbah masih bisa berjualan, karena mbah sangat menikmati keberhasilan yang mbah tanam dengan baik sejak dulu. Dengan semangat yang berkobar-kobar mbah Tumadi masih akan berjualan. ketika waktunya berhenti, pasti akan berhenti dengan sendirinya. Tetapi selagi semangat yang tumbuh dalam diri itu kuat, mbah akan terus berjualan. hasil dari jualannya itu bisa ia belikan baju sendiri. Walau terkadang anaknya pasti membelikan baju untuknya, tapi mbah tetap senang keinginannya untuk beli baju sendiri itu bisa terwujud kapanpun ia mau. Memiliki kepuasan dan rasa bangga tersendiri baginya ketika ia bisa membeli baju tersebut.
Dengan usia yang semakin senja, mbah Tumadi masih tak surut dalam menjalani kesehariannya sebagai seorang penjual getuk. Mbah tak pernah berdiam diri di rumah selalu saja mengikuti kegiatan-kegiatan yang bermanfaat, sambil berjualan ditengah-tengah kegiatan terebut. “jualan itu bagi mbah kesenangan tersendiri. Anak-anak mbah juga sudah melarang mbah untuk tidak berjualan, tapi mbah selalu menolak dan tetap berjualan. karena kalau jualan itu lebih segar, apalagi kalau ketemu sama teman-teman. Kalau hanya duduk di rumah, badan mbah malah terasa sakit-sakitan,” ujarnya sambil mengurut kedua kakinya.
Disela-sela usia yang semakin tua, dengan wajah yang keriput dan dengan kaki yang tak kuat lagi menopang badan. Mbah Tumadi masih memiliki cita-cita yang belum terwujud yaitu ingin menginjakkan kaki kembali ke tanah kelahiran yang begitu mbah rindukan. Di sana ia ingin bertemu dengan keluarganya. Walau mbah sudah tak mempunyai ibu dan ayah, tapi mbah ingin bertemu dengan orangtua angkat yang merawat mbah dahulu. “Saya ingin pulang, dan bulan ramadahn ini, saya akan pulang ke kampung halaman, semoga saya selalu diberi kesehatan dan diridhoi sama Allah untuk berjumpa dengan keluarga di sana,” ungkapnya dengan nada yang pelan.
Kisah mbah Tumadi ini meberikan inspirasi tersendiri bagi semua orang. Tak gentar menghadapi kehidupan yang sulit dimasa silam, dan sekarang ia telah menuai kesenangan dan kemenangan dalam hidupnya. Keberhasilan dan kesuksesan didapat dari kerja keras. Siapa yang menuai kebaikan maka ia akan mendapat kebaikan. Siapa yang bekerja keras ia pasti akan berhasil. Semoga saja masih ada orang yang memiliki semangat seperti mbah Tumadi. Sehingga kita yang masih berusia muda bisa bersyukur dan memiliki jiwa baja seperti mbah Tumadi (RINI ARISKA)


Rabu, 08 Mei 2013

Bangunan PAUD Gratis Belum Terealisasi


TANJUNGPINANG, TRIBUN- Pembangunan sekolah PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) Baitul Ikhwah masih dalam proses membangun pondasi. Sekolah ini masih membutuhkan dukungan penuh dari Pemerintah Daerah.

“Bangunan yang menjadi tempat belajar anak masih terbatas, itu pun masih menumpang disebuah musholla, kami masih menunggu surat izin dari Pemerintah yang masih dalam proses pengurusan, sudah dua tahun ini belum ada kejelasan,” ujar Kepala Sekolah PAUD Baitul Ikhwah, Hilda, Rabu (8/05).

Biaya yang didapat untuk pembangunan sekolah PAUD masih sulit didapatkan. Akibatnya, bangunan yang dibuat sejak setahun silam  tidak kunjung selesai. Bangunan ini masih berbentuk pondasi, belum tergambar sama sekali bentuk dari bangunan yang akan dibuat. Pendiri PAUD sendiri, sampai sekarang masih berusaha keras  mencari biaya demi terealisasinya bangunan yang nanti  akan ditempati oleh peserta didik.
Sementara itu, para pendidik di PAUD Baitul Ikhwah ini menerima gaji melalui sumbangan dari donatur dan swadaya masyarakat setempat. “Kami disini digaji melalui donatur dan swadaya masyarakat, itu cukup Alhamdulillah. Yang terpenting bagi kami adalah kami bisa mengajar dan mendidik anak-anak kami agar menjadi generasi penerus bangsa yang berakhlak mulia,” ujar salah satu pendidik, Atik (23).
Usaha apapun akan dilakukan,  demi terwujudnya bantuan yang diberikan untuk keluarga kurang mampu. Karena dengan adanya program sekolah gratis ini pendiri PAUD sangat yakin mereka yang membutuhkan bantuan bisa terbantu bebannya untuk bebas dari biaya pendidikan sekolah anaknya.
“Selain itu para pendidik juga berharap kepada Pemerintah untuk segera membuat persetujuan atas surat izin pembangunan, agar pendiri PAUD selaku pelopor donatur bisa dengan cepat membangun tempat belajar baru sehingga tidak lagi menumpang di Surau Baitul Ikhwah,” ujarnya.

Sabtu, 04 Mei 2013

Surat Kecil Untuk Mama Bagian 1


Angin membelai lembut rambut pepohonan yang terurai bak sungai yang mengalir deras di ufuk timur. Diantara pohon-pohon yang berdiri gagah ini terdapat kursi-kursi berjajar rapi mengarah ke timur jua. Embun-embun juga masih berhamburan dibeberapa daun-daun yang hampir terjatuh jika disentuh oleh angin-angin lalu yang berhembus. Sungai merapi yang dijuluki oleh anak-anak muda setempat sungguh menjadi favorit yang paling unggul di kota Kembang ini. Kota yang penuh tanda tanya kehidupan dan penuh suka duka percintaan bagi para remaja disana.

**

Pagi-pagi sekali terlihat anak-anak muda mulai berekspresi di tepi-tepi sungai dengan memancing, sekedar duduk-duduk sambil menyantap cemilan, berburu burung yang berkeliaran, bahkan sambil berjalan-jalan ditepian sungai. Sungguh indah tapi penuh tanda tanya. Dari pagi hingga malam. Semua orang, khususnya remaja rajin sekali berbondong-bondong datang untuk berkencan, ngumpul seraya menikmati malam yang mempesona.
**
Memang di sungai ini  aroma suasananya berbeda sekali, hampir tiap remaja asik sampai tak sadarkan diri oleh waktu. Citra dan teman-temannya juga sering datang kesini. Citra senang dengan suasana tempat ini.
Citra adalah Mahasiswa Universitas Padjajaran bandung, jurusan Farmasi. Ia anak yang pintar. Dalam segi kebiologian ia ahlinya. Citra anak ke 4 dari 5 bersaudara. Ayahnya seorang pengusaha besar di Bandung. Sedangkan ibunya adalah seorang wanita karier yang sibuk menanggapi konsumen kesana kemari. Abang dan kakak Citra sudah lama di luar negeri. Mereka memang sudah sukses semua. Citra sering ditinggal oleh papa dan mamanya. Ia sering ditinggal bersama adik dan pembantunya. Tak ayal, setiap yang Citra minta kepada mama papanya, selalu diberikan. 
**
Keseharian Citra sungguh patut dikagumi. Walau hidup dengan kurangnya perhatian, ia tetap menjalani hari-harinya dengan suka cita. Ia aktif dibidang keolahragaan. Dari tingkat sekolah dasar Citra telah mahir bermain volley. Badannya yang semampai dan parasnya yang manis, membuat ia berkesempatan untuk menjadi model iklan keolahragaan. Kerja  kerasnya didunia keolahragaan itu berkat kegigihan dan doa orang tuanya.
**
Cerita Citra yang hampir punah selalu saja di semangati oleh teman-temannya. Citra memang anak yang banyak omong, dan selalu ceplas ceplos. Tak pernah mau diam. Dia juga suka bolos kuliah daripada masuk kuliah. Maklum kedua orangtuanya yang kurang memperhatikannya membuat ia semakin masa bodoh dengan pendidikannya.
Cit, kenapa lo semalam gak masuk? Pak Bob nyariin lo tuh, udah hampir 5 kali pertemuan lo gak masuk, lo gila ya Cit, mau lo di Drop Out dari kampus ini,” tegur teman sebangkunya.

Eh Retno, mending lo diam aje deh, lo tu gak  bakalan ngerti kalaupun gue jelasin, lo semua tuh gak berhak ngomong gini ke gue. Mending lo lo pada urusin hidup lo sendiri deh,” celetuk Citra sambil meninggalkan Retno.

Retno geleng-geleng kepala melihat tingkah Citra yang akhir-akhir ini sudah kelewat batas. Perasaan Retno sebagai teman sebangkunya sangat prihatin melihat tingkah Citra yang seperti itu. “Citra terlalu keras kepala dan terlalu keenakan hidup kaya raya. Apa jadinya jika suatu saat nanti dia menjadi miskin,” Retno bergumam dalam hatinya. Tiba-tiba dari arah jendela terdengar suara teriakan memanggil Retno.

No, woi No , aduh nih anak gak denger apa ya gue udah manggil beberapa kali gini.” Retno yang tadinya melamun memikirkan Citra, tersentak mendengar suara teriakan Roy. “Apaan sih Roy, biasa aja dong manggilnya,” Tegas Retno.

“Eh lu ini, gue kan manggil lu dari tadi, tapi lu nya aja yang gak ngegubris gue, gue mau nanya nih, si Citra kemana ya ? kok gak keliatan, sms gue udah dua hari ini gak di replay, telfon gue juga gak diangkat!,” cerita Roy panjang lebar.

“Gue gak tau deh Roy, emang gue emaknya si Citra. Lo kan pacaranya, lo pasti lebih tau dong kenapa Citra kayak gitu.” “Kayak gitu gimana maksud lo Ret? Kalo ceita jangan setengah-setengah dong Ret,” Sambung Roy.

Gini, si Citra itu udah lima hari gak masuk kampus. Pak Bob dosen pembimbing dia, udah nyariin dia Roy. Pas ketepatan, tadi dia masuk sebentar, terus gue tanyain deh, kenapa dia gak masuk. Eh tau gak apa yang dia jawab, dia malah balik nyolot ngomong ke gue. Yaudah, gue mah bodo amat, yang penting gue udah nyampein salamnye pak Bob. Kalo sampe dia gak ngadep pak Bob besok, bisa-bisa dia di DO dari kampus ini Roy!,” Papar Retno.

Yaa ampun, gue juga bingung mau ngomong apa sama tuh anak. Kepalanya udah kayak batu, keras banget. Gak bisa dikasih tau, sekarang aja dia udah agak menjauh dari gue, dia suka  keluar malam, ke club-club malam bareng temen modelnya. Gue gak bisa apa-apa No, gue cuma bisa lihat dia dari jauh. Gue memang pacarnya, gue sayang sama dia, tapi dia aja gak pernah ngehargain gue, selalu gue dijadiin pelarian dan supir pribadinya. Uang udah ngebuat Citra lupa diri No,” Wajah Roy langsung berubah murung.
**
Perbincangan pun menjadi panjang lebar. Roy dan Retno bertekad untuk menghubungi orang tua Citra. Kesekoan harinya, Roy mencoba menanyakan kabar Citra ke pembantunya. Mobil yang siap dikendarai Roy, sepertinya baik-baik saja. Dengan mengucap bissmillah Roy bergegas ke rumah Citra. Di perjalanan, Roy berhenti sejenak, memandang satu kursi dengan diapit oleh dua buah pohon Rindang. Roy terhipnotis untuk berhenti dan berjalan menuju kursi itu. Kursi itu adalah tempat Roy pertama kali bertemu dengan Citra. Dan disitu pulalah Roy menyatakan cintanya kepada Citra. Roy melihat jauh berkhayal sampai menembus awan. Cerita cinta yang ia ukir bersama Citra bertahun-tahun, hanya membuahkan hasil yang menuju kesengsaraan. Tapi ketulusan hati Roy terhadap Citra membuat Roy tetap tegar dan percaya bahwa Citra adalah wanita sempurna yang Allah berikan untuknya.
**
Sosok Roy yang pendiam dan penyabar, membuat ia masih tegar menghadapi gejolak cintanya dengan Citra. Citra yang keras kepala kerap kali membuat Roy gusar. Hal itu tak selalu dinampakkan Roy secara langsung. Roy terlalu memanjakan Citra, sehingga Citra mudah saja mempermainkannya. Roy masih diam melihat tingkah Citra. Ia hanya berserah diri kepada Allah agar Citra cepat sadar dengan perbuatannya. Tapi apalah daya, Roy hanya bisa berdoa dan tak bisa berbuat apa-apa. Uang yang telah membuat  Citra buta dengan kedaannya sekarang ini.
**
Lamunan Roy yang sudah jauh membuat ia lupa  bahwa ia akan pergi ke rumah Citra. Sesampainya di sana, rumah Citra kosong, tapi Roy mencoba mememncet bel yang hanya berteriak-teriak ditelinganya. Tapi setelah beberapa menit Roy di sana, datang seorang perempuan paruh baya mengampirinya.
“Cari siapa yaa dek?,” Tanya wanita paruh baya tersebut. “Saya mau cari Citra bu, ada gak?.”
“Neng Citra udah dua hari gak pulang den, katanya sih liburan ke Bali, ketempat temannya. Saya juga kurang tahu den.” Yaudah terimakasih yah bik, Roy pulang dulu, kalau Citra pulang, suruh hubungin Roy ya, Roy permisi, Assalamualaikum.”
**
Roy pun berlalu dengan mobil bututya. Ia diperjalannan ia masih memikirkan Citra, kemana sebenarnya Citra pergi. Tanda tanya besar yang mengantui pikirannya masih saja tentang Citra. Roy masih tak percaya jka Citra begitu mudah meninggalkannya tanpa alasan yang jelas. Hari-hari Roy semakin buruk. Roy banyak diam, tugas jarang dikerjakan, ia masih memikirkan sosok Citra yang sangat ia sayangi. Kasih sayang Roy ke Citra terlalu tulus, sehingga Roy sulit untuk melupakan bahkan marah ke Citra.
**
Rentetan cerita antara Roy dan Citra dijawab dengan kepulangan mama dan papa Citra. Citra masih saja tak diketahui keberadaannya. Mama dan papanya pun tak begitu khawatir, karena menurut mereka Citra sudah besar dan sudah waktunya untuk mengambil jalan hidupnya. Didikan orangtua Citra yang terlalu bebas, membuat Citra menjadi keenakan dan tak ingat pendidikan serta untuk pulang. Orangtua Citra rupanya sudah mengetahui masalah Citra di kampus. Tapi lagi-lagi uang yang membuat semuanya baik-baik saja. Mengapa hanya uang yang bisa berbicara? Inilah hukum Negara, rakyat makmur dengan sedikit uang hasil penyelewengan yang di lakukan dengan sengaja.
**
Roy yang sejak semalam bimbang hatinya, langsung menemui mama dan papa Citra. Roy datang dengan hati yang penuh rasa penasaran. Jantungnya berdegup kencang. Ia pasti diusir habis-habisan, karena mama dan papa Citra sangat tidak setuju Citra berhubungan dengan Roy. Roy anak yang terlalu sederhana. Ayah Roy hanya seorang Pengusaha batu bata, sedangkan ibu Roy seorang Ibu rumah tangga. Sungguh Roy tak cocok disandingkan dengan Citra yang cantik dan kaya raya.
**
“Ngapain kamu kesini? Kamu tau kan Citra gak ada, kenapa kamu masih mengejar-ngejar dia? Kamu itu Cuma laki-laki miskin yang tak punya apa-apa! Kamu gak sadar ya dengan diri kamu itu,” Cerca mama Citra kepda Roy dengan mata yang mengerikan.

Maaf tante, saya hanya ingin mengetahui keberadaan Citra, apakah dia baik-baik saja, itu saja kok tante, gak lebih, tante boleh menghinna saya, saya rela tante, asal tante memberitahukan dimana Citra dan bagaimana keadaanya,” ungkap Roy dengan tulus.

Dengar ya anak muda! Anak saya baik-baik saja, dia sedang di Bali mengikuti pemotretan dan menjalani iklannya, kamu anak muda, tolong jangan mendekati anak saya lagi, dengar kamu! Sekarang kamu pergi dan jangan ganggu anak saya lagi.”
**
Ibu Citra mengusir Roy dengan gampangnya. Roy langsung menggas mobilnya dengan kencang. Hati Roy bergetar, ia ingin menangis jika mendengar kata-kata mama Citra tadi. Semua kata-kata hina yang dilontarkan oleh mama Citra masih bergelantungan dipikirannya, terngiang-ngiang ditelinganya. Roy menyetir dengan lambat. Suasana haru merasuk tubuh Roy didinginnya malam saat itu. Roy berhenti disalah satu tempat. Tempat para anak muda berkumpul untuk meluahkan keluh kesahnya. Roy menyendiri diantara kursi yang diapit kedua pohon. Yah, masih pada kursi yang sama. Roy duduk termenung. Memikirkan keadaan Citra yang katanya baik-baik saja. Roy menyimpan rindu yang mendalam kepada Citra, kekasihnya. Tapi apakah Citra juga memikirkan dan merindukannya. Roy yakin Citra merindukan ia. Ia selalu meyakini hatinya sendiri, tanpa tahu apa yang sebeneranya terjadi. Roy pulang dengan tangan hampa. Tapi apalah daya, kebahagiaan yang ia miliki belum tertutup rapat. Karena dengan ia mengetahui keberadaan Citra, ia sudah cukup bahagia, walau sesungguhnya pahit lah yang ia telan setiap hatinya mengingat Citra.
**
Beberapa bulan kemudian, terdengar kabar buruk ketelinga Roy. Roy mendengar bahwa Citra hamil. Citra hamil ketika ia masih di Bali. Roy tak percaya, ia yakin pacar yang ia anggap sempurna, pasti tak akan pernah mengecewakannya. Roy menangis. Menangis sesunggukan. Ia masih tak percaya. Apakah ini takdir Tuhan. Tidak.. Tuhan tidak akan pernah memberi cobaan di luar batas kemampuan manusianya. Roy percaya itu. Roy masih saja sibuk menelpon Citra. Tapi gagal dan terus menerus gagal. Hati Roy hancur berkeping-keping. Mengingat apa yang telah terjadi saat itu. Purnama  pun tak muncul malam itu. Mendung bberdetak-detak petir menyambut keadaan ini. Tak seorang pun membelai Roy dengan kata-kata motivasi. Roy terhimpit sendiri. Bak orang gila yang berada diantara gang-gang sempit. Roy menangis disudut-sudut titik Kristal malam itu. Apakah ini cobaan Tuhan? Apa yang harus aku lakukan? Aku terlalu sayang padanya. Tetapi mengapa ia setega itu kepada dirinya sendiri dan kepada aku?
**
Suasana yang haru menyeruak hebat malam itu. Burung pun enggan bernyanyi merdu hingga fajar datang. Kemudian kembali ke senja pula. Masih sama haru itu masih menggrogoti sisa hari-hari Roy. Rindu yang Roy pendam berhari-hari bersama purnama lalu pecah berkeping-keping. Kepercayaan itu sekarang sudah retak dan hampir hancur. Roy seperti orang gila yang haus akan doa-doa sang Khalik. Roy masih saja menangis di tempat ia pertama kali bertemu dengan Citra.
**
Sepoi angin membawa Retno kecerita Citra. Ternyata Retno sudah mengetahui hal itu sejak beberapa hari sebelum Roy tahu. Retno sengaja bungkam dan tutup mulut. Karena ia tak ingin dituduh sebagai pengadu domba. “Lebih baik Roy tahu sendiri masalah ini, aku yakin lama kelamaan Roy akan tahu siapa Citra yang sebenarnya. Citra yang ia anggap baik dan setia, ternyata terjawab sudah bahwa ia seorang yang keras dan tak tahu etika,” Papar Retno geram. Sekarang nasib Citra sudah diujung tanduk. Citra yang ditemui Retno beberapa hari lalu itu mengatakan bahwa ia akan menggugurkan kandungannya. Ia tak mau oranng lain dan media tahu akan kandungannya itu. Lagi pula ia juga tak tahu siapa ayahnya.
**
Di ruangan apartement Citra, Retno datang. Kemudian kedua wanita itu berbincang serius. Ternyata benar dugaan Retno bahwa Citra ingin mEnggugURkan kandungannya. Karena laki-laki yang menghamili Citra lari entah kemana. “lo gila yah Cit, itu anak lo, darah daging lo, masak lo tega ngebunuh anak lo sendiri. “bukan gitu Ret, gue udah terlanjur malu, gue gak mau sampai orang tahu, apalagi papa dan mama, bisa dibunuh gue Ret,” ujarnya dengan wajah yang panic. “Ya Allah Cit, dimana sih perasaan lo? Dimana rasa keibuan lo? Lo berani berbuat, berarti lo harus bertanggung jawab atas semuanya! Cit, sadar dong, pikir lagi apa yang lo bicarain tadi,” Tegas Retno penuh amarah. “Tekad gue udah bulat Ret, besok pagi lo temenin gue ke dokter kandungan, dan gue mohon sama lo, jangan kasih tahu siapapun, apalagi ke Roy, gue gak mau sampe Roy dan keluarga gue tahu, plisss Ret, pliisss tolong gue sekali ini aja,” rengek Citra kepada Retno. Retno tak berkata apa-apa, ia hanya mengangguk.
***

APAKAH CITRA AKAN NEKAT MENGGUGURKAN KANDUNGANNYA? BAGAIMANA SIKAP ROY KEPADANYA? APAKAH LAKI-LAKI YANG MENGHAMILI CITRA AKAN DATANG ? TUNGGU YA TEMAN-TEMAN :)


  




Kamis, 02 Mei 2013

Niat Ini Untuk Ibu



Usaha yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh pasti akan membuahkan hasil yang memuaskan. Menjadi diri sendiri adalah hal terpenting dalam hidup. Ketika kita mau dan berniat dalam menjalani hidup yang tak tahu kapan akan berhenti, percayalah semua akan terasa ringan dan baik-baik saja. Ada kemauan pasti ada jalan.
Desrita Asriani adalah seorang Mahasiswa UMRAH (Universitas Maritim Raja Ali Haji) Jurusan Pendidikan  Bahasa dan Sastra Indonesia. Ia lahir di Toapaya 20 tahun silam. Gadis berperanakan Jawa tulen ini tinggal bersama ibunya  sekarang. Karena ayah Rita sudah  meninggalkan ia untuk selama-lamanya, sejak Rita berumur 5 tahun. Rita anak yang pendiam.  Walaupun begitu, Rita tetap semangat dalam menjalani hidupnya. Cita-cita terkuat yang ingin digapainya adalah menjadi pengusaha sukses.
“Walau saya nantinya jadi guru, saya tidak mau berpatokan pada guru saja,  membuat home industri  yaitu usaha keripik kerang, karena saya juga tinggal di daerah laut, jadi itu usaha yang akan saya geluti,” Ujar Rita.
Berbicara tentang kuliah, Rita hanya mengandalkan pensiunan orangtuanya. Ayah Rita seorang TNI Angkatan Darat. Biaya kuliahnya pun dibayar dengan mengambil pensiunan ayahnya setiap bulan. Karena kakak dan abang Rita sudah tidak tinggal bersama orangtuanya. Rita bahagia bisa menjadi mandiri seperti ini.
Pengalaman yang paling menarik dalam hidup Rita adalah ketika ia bisa merawat ibunya yang sedang sakit struk sejak 1tahun belakangan ini.  Setiap harinya, Rita memandikan ibu, menyuapkan ibu, dan lain sebagainya.  Karena waktu itu ibu Rita tidak bisa apa-apa.
“Ibu sakit sudah hampir satu tahun, waktu ia pertama kali sakit, bertepatan pula dengan hari libur kuliah. Jadi saya yang rawat ibu. Memandikan, menyuapkan, menggantikan pakaian, dan semua keperluan ibu saya yang kerjakan. Tapi beberapa bulan ini ibu sudah membaik. Sudah bisa menyapu, tetapi belum bisa kerja yang terlalu berat.  Ibarat kata, dulu ibu yang merawat kita, dan sekarang sudah waktunya kita yang merawat ibu” Kata anak  bungsu dari 4 bersaudara ini.
Walaupun begitu, Rita tetap rendah hati menerima cobaan-cobaan yang ia hadapi. Arti kehidupan baginya adalah bisa membahagiakan  ibu dan ayahnya walau hanya dengan kedua tangannya. Ia ingin ibunya tersenyum bangga ketika melihat ia memakai toga.
 Perjalanan hidup ini patut disyukuri. Kita sebagai manusia tak boleh mengeluh dengan cobaan yang Allah berikan. Selalu melihat kebawah adalah cara yang paling cermat yang harus kita lakukan.  “Ada 2 pertanyaan yang pernah saya dapatkan. Yang pertama, manusia apa yang paling rendah?  Manusia yang paling rendah adalah manusia yang tinggi hati. Yang kedua, manusia apa yang paling tinggi? Manusia yang paling tinggi adalah manusia yang rendah hati,” Kata Rita sambil tersenyum.(Rini Ariska)