Seseorang
yang menanam budi yang baik, pasti hasilnya juga baik. Tapi sebaliknya,
seseorang yang menanam keburukan, pasti hasilnya akan buruk pula. Ibarat ubi
yang ditanam dengan niat yang baik, pupuk yang cukup, dan perawatan yang baik,
pasti hasil yang didapatkan akan jauh lebih baik. Dibandingkan dengan ubi yang
ditanam dengan biasa-biasa saja.
Musriatun
(78), Demikian nama penjual getuk, warga Tanjungpinang yang tinggal di jalan
Lembah Merpati Km.13. Sudah dari tahun 1959 ia merantau ke Tanjungpinang. Ibu
yang mempunyai 8 orang anak dan 15 cucu ini sehari-hari dipanggil dengan
sebutan mbah Tumadi. Mbah Tumadi ditinggal oleh suaminya sejak 6 tahun silam.
Nama Tumadi sendiri dikenal orang, karena suaminya bernama Tumadi (Alm).
Kegiatan sehari-harinya adalah bertani, jualan, mengikuti majelis taklim, senam
lansia, kompang, semua kegiatan yang dilakukan oleh para lansia pasti
diikutinya.
Mbah
menikah sudah 78 tahun. Awal menjual getuk, karena mbah tak ingin membebani
suaminya. Ia berinisiatif untuk menjual getuk dari ubi yang ia tani sendiri
tepat dibelakang rumahnya. Dari hasil menjual getuk itulah mbah bisa
menyekolahkan anak-anaknya dan bisa makan sehari-hari. Waktu anak-anak mbah
masih kecil-kecil, mbah tidak hanya menjual getuk saja, mbah menjual tiwul,
urap, dan pecel.
Tanpa
berfikir panjang, mbah pun bercerita tentang pahit dan manisnya berjualan
dengan cara berjalan kaki. “waktu dulu itu, saya menjajakan jualan saya sampai
ke AURI dan Bandara. Itupun saya berjalan kaki ke sana. Disitu ada lapangan
yang masih baru mau dibangun. Banyak loder dan pekerja juga, saya lewat saja.
Kemudian mereka memanggil saya, dan orang-orang tersebut membeli dagangan saya.
Waktu itu lucunya lagi, saya bawa buku kecil, untuk mencatat hutang-hutang para
pekerja. Saya diejek, dibilang kayak orang pejabat bawa-bawa buku. Saya hanya
senyum saja. Kalau waktunya orang gajian, tauke cina yang menggaji para pekerja
memanggil saya, meminta saya memberikan buku hutang, dan ia melunasi semua
hutang para pekerja, “ ujar mbah Tumadi sambil tersenyum.
Selain
itu mbah Tumadi juga menceritakan pengalaman pahit selama ia berjualan.
Ternyata berjualan itu tidak mudah. Ia memang harus menggendong jajakannya
kesana kemari. Tak peduli badai dan hujan. Apapun yang terjadi selagi masih
kuat pasti akan dijalaninya. “Dulu, ketika saya menjajakan jualan saya ke
bukit, saya terjatuh, sambel pecel saya tumpah ketanah. Tidak ada orang yang
menolong, karena dulu itu jalan di bukit masih hutan besar, saya hanya mengucap,
YA Allah, apa ini cobaan-Mu, kuatkan saya, dan tabahkan saya, “ ujarnya dengan
mata yang berkaca-kaca.
Berjualan
getuk masih dilakoni mbah sampai sekarang. Baginya, hasil yang didapat dengan
usaha sendiri itu berbeda jauh dengan hasil yang didapat dari pemberian orang
lain. “Kalau dapat duit sendiri itu senang, walaupun anak sudah kerja semua,
sudah sukses semua, tetap saja saya masih bekerja, berbeda sekali rasanya duit
yang didapat atas usaha sendiri, dibandingan duit yang dikasih sama anak,” ujarnya
lagi.
Tidak hanya itu saja, mbah Tumadi yang selalu
menjajakan dagangannya kesana kemari, kini tak lagi menjajakan setiap hari.
Hanya dengan duduk di rumah, dia sudah bisa melayani pelanggan setianya yang
akan datang ke rumah untuk memesan getuknya. Sehingga mbah Tumadi sudah tidak
perlu lelah menjajakannya. Kelelahan mbah Tumadi terbayar juga dengan panggilan
Allah yang mulia ke Tanah Suci. Ia hanya berharap bisa baik-baik saja, selalu
diberi kesehatan dan kelancaran dalam beribadah haji itu. Sejak 2010 ia resmi menjadi Haji.
Pengalaman
yang paling berkesan sampai saat ini adalah ketika mbah masih bisa berjualan,
karena mbah sangat menikmati keberhasilan yang mbah tanam dengan baik sejak
dulu. Dengan semangat yang berkobar-kobar mbah Tumadi masih akan berjualan.
ketika waktunya berhenti, pasti akan berhenti dengan sendirinya. Tetapi selagi
semangat yang tumbuh dalam diri itu kuat, mbah akan terus berjualan. hasil dari
jualannya itu bisa ia belikan baju sendiri. Walau terkadang anaknya pasti membelikan
baju untuknya, tapi mbah tetap senang keinginannya untuk beli baju sendiri itu
bisa terwujud kapanpun ia mau. Memiliki kepuasan dan rasa bangga tersendiri
baginya ketika ia bisa membeli baju tersebut.
Dengan
usia yang semakin senja, mbah Tumadi masih tak surut dalam menjalani
kesehariannya sebagai seorang penjual getuk. Mbah tak pernah berdiam diri di
rumah selalu saja mengikuti kegiatan-kegiatan yang bermanfaat, sambil berjualan
ditengah-tengah kegiatan terebut. “jualan itu bagi mbah kesenangan tersendiri.
Anak-anak mbah juga sudah melarang mbah untuk tidak berjualan, tapi mbah selalu
menolak dan tetap berjualan. karena kalau jualan itu lebih segar, apalagi kalau
ketemu sama teman-teman. Kalau hanya duduk di rumah, badan mbah malah terasa
sakit-sakitan,” ujarnya sambil mengurut kedua kakinya.
Disela-sela
usia yang semakin tua, dengan wajah yang keriput dan dengan kaki yang tak kuat
lagi menopang badan. Mbah Tumadi masih memiliki cita-cita yang belum terwujud
yaitu ingin menginjakkan kaki kembali ke tanah kelahiran yang begitu mbah
rindukan. Di sana ia ingin bertemu dengan keluarganya. Walau mbah sudah tak
mempunyai ibu dan ayah, tapi mbah ingin bertemu dengan orangtua angkat yang
merawat mbah dahulu. “Saya ingin pulang, dan bulan ramadahn ini, saya akan pulang
ke kampung halaman, semoga saya selalu diberi kesehatan dan diridhoi sama Allah
untuk berjumpa dengan keluarga di sana,” ungkapnya dengan nada yang pelan.
Kisah
mbah Tumadi ini meberikan inspirasi tersendiri bagi semua orang. Tak gentar
menghadapi kehidupan yang sulit dimasa silam, dan sekarang ia telah menuai
kesenangan dan kemenangan dalam hidupnya. Keberhasilan dan kesuksesan didapat
dari kerja keras. Siapa yang menuai kebaikan maka ia akan mendapat kebaikan.
Siapa yang bekerja keras ia pasti akan berhasil. Semoga saja masih ada orang
yang memiliki semangat seperti mbah Tumadi. Sehingga kita yang masih berusia
muda bisa bersyukur dan memiliki jiwa baja seperti mbah Tumadi (RINI ARISKA)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar