Kamis, 09 Mei 2013

Di Balik Getuk Terselip Semangat Kemandirian


Seseorang yang menanam budi yang baik, pasti hasilnya juga baik. Tapi sebaliknya, seseorang yang menanam keburukan, pasti hasilnya akan buruk pula. Ibarat ubi yang ditanam dengan niat yang baik, pupuk yang cukup, dan perawatan yang baik, pasti hasil yang didapatkan akan jauh lebih baik. Dibandingkan dengan ubi yang ditanam dengan biasa-biasa saja.
Musriatun (78), Demikian nama penjual getuk, warga Tanjungpinang yang tinggal di jalan Lembah Merpati Km.13. Sudah dari tahun 1959 ia merantau ke Tanjungpinang. Ibu yang mempunyai 8 orang anak dan 15 cucu ini sehari-hari dipanggil dengan sebutan mbah Tumadi. Mbah Tumadi ditinggal oleh suaminya sejak 6 tahun silam. Nama Tumadi sendiri dikenal orang, karena suaminya bernama Tumadi (Alm). Kegiatan sehari-harinya adalah bertani, jualan, mengikuti majelis taklim, senam lansia, kompang, semua kegiatan yang dilakukan oleh para lansia pasti diikutinya.
Mbah menikah sudah 78 tahun. Awal menjual getuk, karena mbah tak ingin membebani suaminya. Ia berinisiatif untuk menjual getuk dari ubi yang ia tani sendiri tepat dibelakang rumahnya. Dari hasil menjual getuk itulah mbah bisa menyekolahkan anak-anaknya dan bisa makan sehari-hari. Waktu anak-anak mbah masih kecil-kecil, mbah tidak hanya menjual getuk saja, mbah menjual tiwul, urap, dan pecel.
Tanpa berfikir panjang, mbah pun bercerita tentang pahit dan manisnya berjualan dengan cara berjalan kaki. “waktu dulu itu, saya menjajakan jualan saya sampai ke AURI dan Bandara. Itupun saya berjalan kaki ke sana. Disitu ada lapangan yang masih baru mau dibangun. Banyak loder dan pekerja juga, saya lewat saja. Kemudian mereka memanggil saya, dan orang-orang tersebut membeli dagangan saya. Waktu itu lucunya lagi, saya bawa buku kecil, untuk mencatat hutang-hutang para pekerja. Saya diejek, dibilang kayak orang pejabat bawa-bawa buku. Saya hanya senyum saja. Kalau waktunya orang gajian, tauke cina yang menggaji para pekerja memanggil saya, meminta saya memberikan buku hutang, dan ia melunasi semua hutang para pekerja, “ ujar mbah Tumadi sambil tersenyum.
Selain itu mbah Tumadi juga menceritakan pengalaman pahit selama ia berjualan. Ternyata berjualan itu tidak mudah. Ia memang harus menggendong jajakannya kesana kemari. Tak peduli badai dan hujan. Apapun yang terjadi selagi masih kuat pasti akan dijalaninya. “Dulu, ketika saya menjajakan jualan saya ke bukit, saya terjatuh, sambel pecel saya tumpah ketanah. Tidak ada orang yang menolong, karena dulu itu jalan di bukit masih hutan besar, saya hanya mengucap, YA Allah, apa ini cobaan-Mu, kuatkan saya, dan tabahkan saya, “ ujarnya dengan mata yang berkaca-kaca.
Berjualan getuk masih dilakoni mbah sampai sekarang. Baginya, hasil yang didapat dengan usaha sendiri itu berbeda jauh dengan hasil yang didapat dari pemberian orang lain. “Kalau dapat duit sendiri itu senang, walaupun anak sudah kerja semua, sudah sukses semua, tetap saja saya masih bekerja, berbeda sekali rasanya duit yang didapat atas usaha sendiri, dibandingan duit yang dikasih sama anak,” ujarnya lagi.

 Tidak hanya itu saja, mbah Tumadi yang selalu menjajakan dagangannya kesana kemari, kini tak lagi menjajakan setiap hari. Hanya dengan duduk di rumah, dia sudah bisa melayani pelanggan setianya yang akan datang ke rumah untuk memesan getuknya. Sehingga mbah Tumadi sudah tidak perlu lelah menjajakannya. Kelelahan mbah Tumadi terbayar juga dengan panggilan Allah yang mulia ke Tanah Suci. Ia hanya berharap bisa baik-baik saja, selalu diberi kesehatan dan kelancaran dalam beribadah haji itu. Sejak 2010 ia  resmi menjadi Haji.
Pengalaman yang paling berkesan sampai saat ini adalah ketika mbah masih bisa berjualan, karena mbah sangat menikmati keberhasilan yang mbah tanam dengan baik sejak dulu. Dengan semangat yang berkobar-kobar mbah Tumadi masih akan berjualan. ketika waktunya berhenti, pasti akan berhenti dengan sendirinya. Tetapi selagi semangat yang tumbuh dalam diri itu kuat, mbah akan terus berjualan. hasil dari jualannya itu bisa ia belikan baju sendiri. Walau terkadang anaknya pasti membelikan baju untuknya, tapi mbah tetap senang keinginannya untuk beli baju sendiri itu bisa terwujud kapanpun ia mau. Memiliki kepuasan dan rasa bangga tersendiri baginya ketika ia bisa membeli baju tersebut.
Dengan usia yang semakin senja, mbah Tumadi masih tak surut dalam menjalani kesehariannya sebagai seorang penjual getuk. Mbah tak pernah berdiam diri di rumah selalu saja mengikuti kegiatan-kegiatan yang bermanfaat, sambil berjualan ditengah-tengah kegiatan terebut. “jualan itu bagi mbah kesenangan tersendiri. Anak-anak mbah juga sudah melarang mbah untuk tidak berjualan, tapi mbah selalu menolak dan tetap berjualan. karena kalau jualan itu lebih segar, apalagi kalau ketemu sama teman-teman. Kalau hanya duduk di rumah, badan mbah malah terasa sakit-sakitan,” ujarnya sambil mengurut kedua kakinya.
Disela-sela usia yang semakin tua, dengan wajah yang keriput dan dengan kaki yang tak kuat lagi menopang badan. Mbah Tumadi masih memiliki cita-cita yang belum terwujud yaitu ingin menginjakkan kaki kembali ke tanah kelahiran yang begitu mbah rindukan. Di sana ia ingin bertemu dengan keluarganya. Walau mbah sudah tak mempunyai ibu dan ayah, tapi mbah ingin bertemu dengan orangtua angkat yang merawat mbah dahulu. “Saya ingin pulang, dan bulan ramadahn ini, saya akan pulang ke kampung halaman, semoga saya selalu diberi kesehatan dan diridhoi sama Allah untuk berjumpa dengan keluarga di sana,” ungkapnya dengan nada yang pelan.
Kisah mbah Tumadi ini meberikan inspirasi tersendiri bagi semua orang. Tak gentar menghadapi kehidupan yang sulit dimasa silam, dan sekarang ia telah menuai kesenangan dan kemenangan dalam hidupnya. Keberhasilan dan kesuksesan didapat dari kerja keras. Siapa yang menuai kebaikan maka ia akan mendapat kebaikan. Siapa yang bekerja keras ia pasti akan berhasil. Semoga saja masih ada orang yang memiliki semangat seperti mbah Tumadi. Sehingga kita yang masih berusia muda bisa bersyukur dan memiliki jiwa baja seperti mbah Tumadi (RINI ARISKA)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar