Selasa, 30 April 2013

SAJAK KULI TINTA


Kalutku meraba  lagu menjadi semu
Diantara bambu-bambu  mengalun merdu
Secuil ilmu yang  merindu
Akan berubah menjadi serpihan debu
Ditiga bulan yang akan menunggu
Ini sajak kami
sajak para kuli-kuli tinta
Yang mengasah pena dari pagi menjelang malam
Mencabik-cabik seberkas kertas hinggga senja menutup wajahnya

Dipenghujung jumat malam 23.32 wib
Rini  ariska |R.A|

KETIKA MULUT BERBICARA



Merah putih, kobarkan hak mereka..
Tumpukan  tikus-tikus kantor ..
Sudah tak layak di ocehkan ..
Pandang  kedua bola mata petinggi surga..
Melotot memandang massa yang tak kunjung reda..
Hingga senja datang,
 tak pernah usai ..
Riuh gerombolan hanya jadi bahan tontonan ..
Kobaran semangat tak berharga ..
Mati suri atau mati sesungguhnya ?
Tanyakan saja pada tomcat-tomcat  berdasi ..
Senyum palsu , janji palsu, sumpah palsu..
Hanya bisu dan tak malu..
Rakyat tertipu didalam rayu
Bijaklah dan jangan mengadu
Tetap kami  tunggu keputusan itu wahai kau pejabat tinggiku

Di dalam gubuk bambu
Kamis, 29 maret  2012, 22:32
RINI ARISKA |RA|

SENDU DIKALA HUJAN



di-bawah-hujan1
Terpaan hujan melenyapkan kekecewaan ..
Menahan rasa sesak tak terbendung lagi ..
Bimbang, gelisah, merana ..
Menggrogoti nyawa hingga ke urat nadi..
Menghentam rasa yang terancam punah ..
Ditelan masaa ??? atau usiaa ??? entahlah ..
Hanya dunia saksi bisu diantara kisah kami berdua ..
Terjalin lama , hampir setengah abad lamanya ..
Tapi kecewa yang selalu mengudara ..
Cara apa saja selalu di hina ..
Sepatah katapun di anggap sampah ..
Ironis bagai divonis hukum karma ..

Dipenghujung malam minggu nan kelabu
Catatan bisu 23:39, 17 maret 2012
Rini ariskaa |R.A|


Sabtu, 13 April 2013

DIARY MERAH JAMBU BAGIAN 3


Sesampainya di  sekolah, Selly berlari menghampiri Sinta yang sudah duduk di ruang tunggu peserta. Keduanya langsung berpelukan dan tertawa bersama. “Eh Sell, tumben lama, cie pasti persiapan buat lomba udah mateng banget dong ya?,” rayu Sinta. “hahaha, iya dong, aku udah yakin banget kalo aku bisa  Sin, aku bisa nemuin Kevin dan jalan-jalan bareng Kevin ke Manado. Tapi kok akhir-akhir ini Kevin gak pernah ngehubungin aku ya Sin? Aku jadi binngun, dia udah lupa  ya sama aku?,” Tiba-tiba saja wajah Selly berubah. “Hmm, gak kok Sell, tenang aja, mungkin Kak Kevin laggi sibuk sama ujian akhirnya. Ngerti aja ya,” Tanggap Sinta memberikan semangat.
Langit yang tebentang luas diangkasa, dengan dibalut kapas-kapas mungil berwarna putih membuat sang Raksasa jagat raya terlihat tampan di atas sana. Mengintip dibalik tirai-tirai putih, dengan paancaran sinar yang meliuk indah ddibarisan para mahkotra-mahkota pohon. Suara teriakan bell menandakan bahwa Selly dan teman-temannya siap bertanding dan masuk keruangan. Satu kertas kosong berada tepat dihadapan Selly. Dag dig dug dag dig dug, suara dada SASelly bergetar hebat hingga jari jemarinya ikut terkontaminasi oleh alunan suara itu. Selly menarik nafas panjang dan mulai menulis. Dengan berdoa khusuk sekali, Selly berharap bahwa ia bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik. Bait bait kata , paragraph demi paragraph ia selesaikan dengan baik.
Beberapa waktu yang disediakan telah lewat begitu saja, bagai anak ayam yang laari dikejar elang. Tak terasa detik detik itu menjadi sedikit doigrogoti oleh raksasa alam. Raksasa alam mulai condong sedikit kearah tenggelammnya, waktu yang Selly punya tak banyak, tinggal 15 meenit lagi, tanda yang hampir mati. Selly selesai sebelum waktu itu habiss. Tapi ia mencoba memeriksa kembali tulisan yang ia buat.. Selly senang bisa menyelesaikan tugasnya dengan bik. Tak ada satupun yang cacat menurut pandangan Selly, tapi menurut juri? Entahlah hanya pengumuman besok yang bisa membawa Selly ke hadapan teman-temaannya.
“Hmm , udah siap kan Sell, yuk kita pulang, mata pelajaran kan udah gak ada lagi hari ini.” Ajak Sinta. “iyaa Sin, aku juga uda males di sekolah, tapi aku pulang sendiri aja ya? Kamu duluan aja, ada yang mau aku beli di toko buku.” Tegas Selly. “oke deh kalau gitu, aku duluan yaa Sell, daaaaaaa.” Sinta pun berlalu bersama Honda kesayangannya. Selly yang tampak tak bersemangat mencoba memulai hari-harinya dengan pergi ke toko buku. Di sana ia celingak celinguk sendirian. Ia masih menunggu balasan sms yang ia kirm ke Kevin. tapi sampai ia pulang ke rumah, pesan singkat itu tak dibalas oleh Kevin. Selly sangat sedih, apakah ia bisa bertemu dengan Kevin , ketika ia lolos ke Manado? Entahlah, iaapun masih bingung, masih gundah gulana hatinya. Ia merasa Kevin sudah jaauh dan melupakkannya. Sedangkan ia masih berharap Kevin menjadi orang yang dulu pertama kali ia kenal.
Temaram yang indah bersinar terang menggantikan lampu-lampu taman yang hampir padam ditelan malam. Berlian-berlian masih berkedap kedip diangkasa luas. Selly duduk ditepi jendela kamarnya, menatap jauh sekali, pandangannya tetap pada satu objek, kemudian dia menulis beberapa kata di akhir buku DIARY merah jambunya. Ia menulis bahwa buku itu akan sampai ke tangan yang lebih berhak daripada ia. Isinya masih menjadi rahasia ia dan Kevin. hanya Kevin yang boleh membuka dan mebacanya. Dari kegelapan malam, dengan samar-samar cahaya dari luar, Sellly kembali ke peraduan untuk menyambut hari esok. Ia berdoa agar esok bisa menggapai mimpi dan memeluk perasaannya.
Suara teriakan ayam mulai berterbangan dipendengaran. Semut-semut nakal pun mulai berjalan berbaris menuju rumah-rumah persinggahan untuk mencari makan. Cerita malam tadi cukup dihapus dengan senyuman Selly pagi ini. Ia bersemangat sekali ke sekolah, karena ia tak sabar menunggu hasil pengumuman juri pagi ini. Dengan kecepatan yang tinggi sampailah ia pada gerbang sekolah. Dengan gontai ia ayunkan kakinya penuh keyakinan. Wajahnya yang cuek, masih saja membuka mata teman-teman untuk menyapanya. Sapaan itupun ia tanggapi dengaan menaikkan senyumnya semanis mungkin. Ia taak ingin terlihat kaku dan tak pede hari itu. Satu persatu murid masuk kedalam ruangan juri. Mereka tak sabar menunggu juri mengumumkan siapa pemenangnya. Tapi kali ini lain. Juri hanya membagi amplop, dan didalam amplop itu ada satu nama yang akan dipanggil maju kedepan. Kemudian amplop yang berisi nama-nama itu sudah dipegang oleh juri. Juripun memanggil satu persatu diantara mereka semua. Suara yang riuh rendah membuat juri berteriak didepan microfon. Suara yang riuh rendah tadi kemudian menjadi hening dengan seketika. Dimulailah pengumuman. Nah suara itu berteriak memanggil nama Selly, Sellyy hampir tak percaya, ini gak mimpi kan ? tapi, bisa saja yang dipanggil itu juara tiga, bukan juara satu.. perasaan Selly campur aduk, Selly dengan pemegang juara ketiga. Raut wajah Selly yang kegirangan  dan penuh semangat kin layu bagai bunga yang tak terawat. Wajahnya sedih, tapi ia tak mau menampakkan itu. Dengan senyum yang dipaksakan, Selly mencium tangan ketiga juri. Ia mengucapkan terimakasih kepada semua yang telah mendukungnya. Selly bahagia, walau cita-cita yang ia impikan gagal begitu saja. Diary merah jambu yang akan ia berikan langsung kepada Kevin sepertinya tak tercapai. Apa yang harus ia lakukan? Bagaimana caranya? Selly masih bingung. Selly masih kecewa dengan hasil yang tak ia harapkan.
Ujian semester akhirpun datang. Semua siswa disibukkan dengan kegiatan dirumah masing-masing. Seminggu itu Selly fixkan untuk focus keujiann. Tapi pada hari terakhir ujian, Sinta berpamitan, bahwa dirinya akan berlibur ke Manado. Selly yang bingung menyampaikan Diary merah jambu kepada Kevin, akhirnya menemukan titik terang. Yaa diary itu iaa titipkan kepada Sinta. Sinta mengangguk dan bersedia membawa diary merah jambu itu.. sebelumnya Selly telah membungkus Diary merah jambunya dengan kotak berwarna merah dan dibalut dengan pita berwarna kecoklatan. Coklat artinya manis, wah pasti manis dong lly yang isi yang ada didalamnya,” senggol Sinta kepada miss.cuek tersebut. Selly hanya tersenyum menanggapi ejekan Sinta.
Sinta yang akan terbang besok ke Manado telah menyiapkan semuanya dengan rapi. Selly merasa sedih bercampur senang. Ia sedih karena tak bisa merayakan hari ulangtahunnya yang seminggu lagi akan dirayakan. Sedih karena Sahabatya taka da disampingnya. Ia senang y karena diary merah jambu iu akan langsung dibaca oleh Kevin.
Beberapa saat kemudian, Sinta telah sampai ditanah Manado. Tanah kelahiran orangtuanya. Tanah yang baru pertama kali ia pijak. Waahhhhh sungguh luar biasa kuasa Tuhan. Indah sekali kota Manado ini, aku tak pernah merasakan suasana yang khusuk seperti ini,” gumam Sinta dalam hatinya. Mobil yang ditumpanginya kini telah sampai tepat di depan rumah Kevin. Rumah yang akan menjadi tempat tinggalnya beberapa minggu ini.
Suasana pagi di Manado sungguh indah. Hamparan bukit yang tinggi dan sungai yang besar sungguh elok jika dilihat melalui kacamata hati. Sinta yang baru saja terbangun dalam tidurnya yang lelap langsung teringat pada sebuah bungkusan yang dititipkan Selly kepadanya.
“Ya ampun, aku hampir lupa, inikan buat Kak Kevin. ya Tuhan, kak Kevin kemana ya? Apa dia masih tidur, aku coba taruh aja deh bungkusan ini dikamarnya.” Pelan-pelan Sinta menyelinap ke kamar Kevin. kemudian dia menaruh kotak bewarna merah itu disebuah meja. Sepertinya itu meja belajar Kevin. Sebangun dari tidurnya, Kevin terkejut ada kotak berwarma merah ada di kamarnya. Punya siapa ini? Tapi tulisan di depannya bertuliskan nama Kevin. berarti ini buat Kevin dong.”gumamnya dalam hati.
Perlahan ia buka kotak berwarna merah tersebut. Dengan hati-hati ia melihat ada buku berwarna merah jambu dibalut pita berwarna coklat. Romantic sekali yang memberi ini. Siapa ya?” Tanya Kevin penasaran. Satu persatu ia buka dan ia baca buku itu. Gambar abstrak yang ia buka dihalaman pertama tak dihiraukannya, sehingga ia tak tahu bahwa itu dari Selly. Tapi ketika lembar demi lembar ia buka dengan hati-hati ia menemukan satu keganjalan. Dipertengahan buku itu ada tulisan berwarna pink, panjang sekali. Berbeda dengan tulisan yang lain. Ia kemudian membaca dengan perlahan., begini bunyi bacaannya.
DEAR DIARY
Kevin Sahabatkku
Kamu ingat aku kan? Aku sahabaatmu. Sahabat yang kau kenal tak lebih dari dua minggu. aku akan berulang tahun yang ke 17th, aku berharap, kamu bisa datang membawa pacarmu kepangkuanku, kemudian kamu perkenalkan padaku. Aku tau dia pasti sangat menyayangimu dengan tulus. Begitu juga saat kamu tersenyum membaca surat kecil berwarna merah jambu ni dariku.
Kevin Sahabatku
Jauh ketika hujan tak bisa menopang panas, dekat ketika Tuhan melambaikan tangan untuk mengaambil detik demi detik kehidupan, jangkauan waktu yang hampir erat dengan kematian, jadikan alasan bahwa berubah itu yang terbaik, jangan jadikan umur ini kesenangan, melainkan kesedihan yang tertunda.
Kevin Sahabatku
Dikala lelap menghampiriku, ruh-ruhku memanggil kau untuk datang kehadapanku. Aku hanya bisa berteriak dalam mimpiku, bisa bersamamu, memelukmu setulus kisah kasihku waktu kau berada tepat dimataku
Kevin Sahabatku
Sejak kita bertemu, aku sangat nyaman padamu, apatah lagi ketika kau menjawab semua pertanyaan yang aku bingungkan, kau sungguh smart, kau cerdas, tapi hatimu tak cerdas menilai perasaanku, perasaan yang aku bangun sendiri dan aku lawan sendiri untuk tidak mencintaimu.
Kevin Sahabatku
Lihat air mata ini, titik-titik kriput yang kamu lihat didalam buku diary merah jambu ini, adalah air mataku. Air mata seorang yang cuek, tapi sesungguhnya butuh, ya aku butuh, hingga sampai saat ini aku masih butuh kamu untuk menjadi sahabatku. Jangan kau ikut menangis dalam kesedihanku Kevin. cukup dengan kamu tau perasaanku, aku juga akan mengerti keputusanmu.
Kevin Sahabatku
Aku tak pernah menganggap kamu hilang dalam duniaku, aku tak pernah menganggap kamu melupakanku, yang aku tahu, sampai saat ini kau tetap Kevin y6ang dulu, Kevin yang aku kenal dua minggu itu.
TTD

Selly Sahabatmu
Air mata Kevin menetes begitu saja. Ia tak menyangka bahwa Selly begitu tulus bersahabat dengannya. Walau ia sekarang tahu jikalau Selly benar-benar mencintainya. Tapi itu tak mungkin, perbedaan keimanan membuat Kevin enggan dan hanya menganggap Selly sahabatnya. Sampai saat ini Selly dan Kevin tak pernah bertemu lagi. Selly sudah lega karena ia sudah mengungkapkan apa yang ia rasa. Dan Kevin juga sudah tak seperti dulu. Komunikasi tetap lancer dan mereka selalu shering tentang apa yang mereka mau. Semuanya kembali seperti dulu. Kembali semangat, kembali ceria dan kembali menjadi diri sendiri.
Note: KETIKA SAHABATMU MELUPAKANMU, ITU BUKAN KARNA IA TAK SAYANG, MUNGKIN SAJA IA SIBUK DENGAN PEKERJAANNYA. BERFIKIR POSITIF KARENA DENGAN BEGITU KAMU AKAN MERASA LEBIH BAHAGIA. SO KEEP SMART, KEEP SPIRIT, N KEEP CALM MY FRIENDS J
THE END

Jumat, 05 April 2013

DIARY MERAH JAMBU BAGIAN 2


Beberapa bulan ini selly masih berkomunikasi dengan Kevin. Kevin masih sering menanyakan kabar Selly secara langsung maupun lewat saudaranya Sinta. Keadaan Selly semakin lama semakin membaik. Dia juga sudah tak begitu gundah seperti biasanya. Selly menjalani hari-hari seperti biasa. Ia sudah kembali normal. Kegiatan menulis dimedia sekolah juga ia jalankan dengan baik. Suatu hari ketika Selly pulang dari kantin bersama Sinta ia terkejut melihat pengumuman yang tertera di mading sekolah. Pengumuman itu masalah menulis.
”Sell, kok bengong sih, ayo buruan jalan, bentar lagi bel nih,” teriak Sinta yang sudah berjalan meninggalkan Selly.
”bentar woii, ini ada pengumuman penting!,” sahut Selly.
“terserah kamu deh Sel, aku duluan yaa?.” Tanpa berfikir panjang Sinta meninggalkan Selly begitu saja. Bel pun berteriak-teriak memanggil semua murid. Murid-murid berhamburan ke kelasnya masing. Selly yang asik membaca mading akhirnya berlari tergesa-gesa menuju kelas. Sesampainya di kelas, Pak Toni, guru Matematika Selly sudah berada di dalam kelas. Selly takut akan berbicara apa diapun tak tau. Perasaan Selly campur aduk tak tentu hara, kertas mading yang ada digenggamannya pun hampir tak bernyawa. Ketakutannya menghadapi pak Toni tak terbendung lagi. Pak Toni terkenal jahat di sekolah Selly. Dengan wajah yang gugup dan muka tertunduk, Selly memberanikan diri. Ia seperti masuk terperangkap ke dalam kandang singa. Ya ALLAH , selamatkan hamba. Luruskan jalan ini ya ALLAH. Mulut Selly tak henti-hentinya berdoa.
Tok tok tok .. suara pintu berdetak tiga kali, tiba-tiba jawabanpun menyapa wajah Selly yang hampir tak berbentuk.
”kenapa kamu terlambat? Telinga kamu ketinggalan di kantin yaa, sampai-sampai kamu tidak mendengar kalau bel telah berbunyi sejak setengah jam yang lalu,” celoteh Pak Toni.
Dengan wajah yang pucat pasi, Selly menjawab dengan penuh keikhlasan. ”Mmaaaafffff Pak, tadi saya buang air besar dulu di toilet, dan saking asiknya saya tak mendengar suara bel, maaf yaa pak?”
Huuuuuuuu , tawapun menggelegar di ruangan kelas. Alasan Selly membuat Pak Toni yang tadinya marah menjadi tersenyum.
“sudah-sudah semuanya tenang, ya sudah Selly cepat kamu duduk dan jangan buat masalah lagi, sekarang kita mulai belajar ya.”
Suasana kelaspun menjadi tenang kembali. Dan Selly masih menanggung malu atas kebohongan yang ia buat kepada pak Toni. Hatinya menangis, tapi raut wajahnya yang cuek tetap saja tak memperlihatkan bahwa ia sedang bersedih. Selly tak menyangka ia akan senekat itu. Pecahan-pecahan kebohongan itu akan menjadi momok dalam keseharian Selly. Selly tetap tak perduli, yang terpenting bagi dirinya adalah bisa mengikuti lomba menulis tingkat sekolah. Ia tak memikirkan hadiah uang tunainya, tapi ia memikirkan hadiah jalan-jalan ke Manado. Itu yang ia kejar. Karena dengan begitu ia bisa bertemu lagi dengan sahabatnya yaitu Kevin.
Bulan mulai menutup diri. Kembali pada surya yang terang benderang berubah menjadi titik-titik krital yang datang tak memakai aturan. Semuanya telah dilalui oleh sebagian masyarakat kecil di kota Jogja. Tanah yang terdampar luas mulai terlihat menguning. Pesta panen akan segera dimulai. Suara-suara mesin dilumbung padi mulai terdengar. Kicauan-kicauan burung pemakan gabah mulai datang berbondong-bondong memenuhi lahan. Walau begitu Selly tetap saja mempersiapkan Tulisan terbaiknya. Tulisan yang akan membawanya ke Kota Manado. Diary Merah Jambu yang slalu ia genggam masih saja melekat. Tak pernah lepas dari genggamannya. Sesibuk apapun dia. Satu persatu Selly coba menggambarkan isi yang ada di dalam Diary Merah Jambunya. Dihalaman pertama terlihat sebuah gambar perempuan dan laki-laki paruh baya, kemdian disamping keduanya ada anak laki-laki dan perempuan muda. Siapa dia ? dia adalah lukisan keluarga Selly. Ada ayah, ibu, dan satu orang kakak laki-laki Selly. Lukisan itu digambar oleh tangannya sendiri. Sangat abstrak, tapi indah jika dilihat dari kacamata seni. Di halaman kedua dan seterusnya menceritakan kisah masa kecil Selly bersama keluarga tercintanya. Selly mengungkapkan bahwa cita-citanya sungguh banyak sekali. Tak hanya satu seperti orang-orang kebanyakan. Cintanya terhadap dunia Tulisan harus segera ia lestarikan.
Kata-kata yang diungkapkan Selly di dalam buku diarynya masih saja penuh tanda Tanya. Cita-cita apa yang sebenarnya paling ia dambakan? Tulisannya mengembangkan satu demi satu arti kehidupan yang Selly rasakan. Tak bosan setiap hari ia mengayunkan jari jemarinya dengan lentur. Seperti layaknya anak muda kebanyakan, yang lebih suka menulis kisah kasihnya disebuah laptop. Tapi berbeda dengan Selly, ia lebih memilih menuangkan imajinasinya lewat buku diary merah jambu.
Pohon-pohon yang rindang kini mulai gugur satu persatu. Pesta panen yang megah telah usai beberapa pekan yang lewat. Di bawah senja yang murung, Selly masih melanjutkan tulisan yang akan ia persemahkan kepada Kevin. ya tulisan yang akan membawanya ke kota Manado. Tulisan yang ada didalam diary Selly. Selly akan memberikan Diary merah jambu itu kepada Kevin. Sebuah tulisan yang akan mengagetkan Kevin. apa itu? Entahlah, semua masih dalam misteri Selly.
Hari yang ditunggu-tunggu Selly pun tiba. Lomba menulis itu dimulai. Selly yang tak ingin ketinggalan necis dengan siswa lain, ia mempersiapkan semua dengan matang. Filosofi yang dipegang Selly “KALAU INGIN BERPERANG, PASTI HARUS ADA SENJATA DAN RAJIN MENEMBAK.” Begitu pula dengan Selly, persiapan yang ia siapkan dengan matang harus benar-benar sempurna dihadapan juri.
Surya kembali menunduk malu, memamerkan senyum sumringah bersama sekawan camar. Tiupan-tiupan syahdu dari kejauhan membelai sedikit demi sedikit rambut yang tergurai panjang. Sosok Selly telah siap untuk berangkat kesekolah. Dengan pakaian yang rapi, disertai dengan parfum yang menyeruak membuat Selly semakin Pede untuk bertanding hari ini. Semua peralatan telah siap disandang Selly.
Ttiiiiitt tiittt, mobil angkutan sekolah telah berteriak-teriak di depan rumah Selly. Selly sibuk berlari keluar rumah.
“bentar pak, aku pakek sepatu dulu.” Teriak Selly lantang. Selesai memakai sepatu ia langsung berlari. “ayoooo jalan pak.” Pinta Selly. Di dalam bus yang besar dan waktu itu Selly duduk dibelakang. “Kok aku jadi deg-degan gini sih, jantung akku rasanya mau lepas. Aduhh udah dong deg-degannya. Takutnya apa yang aku pelajarin bisa lupa lagi pas pertandingan. Aku harus bisa dan pasti bisa, ayo dong biasa aja Sel, jangan gugup gitu.” Gumam Selly dalam hatinya.
APAKAH YANG AKAN TERJADI? APAKAH SELLY BISA MEWUJUDKAN KEINGINANNYA , BERTEMU DENGAN KEVIN? TUNGGU YA TEMAN-TEMAN. BERSAMBUNG