Sesampainya di
sekolah, Selly berlari menghampiri Sinta yang sudah duduk di ruang
tunggu peserta. Keduanya langsung berpelukan dan tertawa bersama. “Eh Sell,
tumben lama, cie pasti persiapan buat lomba udah mateng banget dong ya?,” rayu
Sinta. “hahaha, iya dong, aku udah yakin banget kalo aku bisa Sin, aku bisa nemuin Kevin dan jalan-jalan
bareng Kevin ke Manado. Tapi kok akhir-akhir ini Kevin gak pernah ngehubungin
aku ya Sin? Aku jadi binngun, dia udah lupa
ya sama aku?,” Tiba-tiba saja wajah Selly berubah. “Hmm, gak kok Sell,
tenang aja, mungkin Kak Kevin laggi sibuk sama ujian akhirnya. Ngerti aja ya,”
Tanggap Sinta memberikan semangat.
Langit yang tebentang luas diangkasa, dengan dibalut
kapas-kapas mungil berwarna putih membuat sang Raksasa jagat raya terlihat
tampan di atas sana. Mengintip dibalik tirai-tirai putih, dengan paancaran
sinar yang meliuk indah ddibarisan para mahkotra-mahkota pohon. Suara teriakan
bell menandakan bahwa Selly dan teman-temannya siap bertanding dan masuk
keruangan. Satu kertas kosong berada tepat dihadapan Selly. Dag dig dug dag dig
dug, suara dada SASelly bergetar hebat hingga jari jemarinya ikut
terkontaminasi oleh alunan suara itu. Selly menarik nafas panjang dan mulai
menulis. Dengan berdoa khusuk sekali, Selly berharap bahwa ia bisa
menyelesaikan tugasnya dengan baik. Bait bait kata , paragraph demi paragraph
ia selesaikan dengan baik.
Beberapa waktu yang disediakan telah lewat begitu
saja, bagai anak ayam yang laari dikejar elang. Tak terasa detik detik itu
menjadi sedikit doigrogoti oleh raksasa alam. Raksasa alam mulai condong
sedikit kearah tenggelammnya, waktu yang Selly punya tak banyak, tinggal 15
meenit lagi, tanda yang hampir mati. Selly selesai sebelum waktu itu habiss.
Tapi ia mencoba memeriksa kembali tulisan yang ia buat.. Selly senang bisa
menyelesaikan tugasnya dengan bik. Tak ada satupun yang cacat menurut pandangan
Selly, tapi menurut juri? Entahlah hanya pengumuman besok yang bisa membawa
Selly ke hadapan teman-temaannya.
“Hmm , udah siap kan Sell, yuk kita pulang, mata
pelajaran kan udah gak ada lagi hari ini.” Ajak Sinta. “iyaa Sin, aku juga uda
males di sekolah, tapi aku pulang sendiri aja ya? Kamu duluan aja, ada yang mau
aku beli di toko buku.” Tegas Selly. “oke deh kalau gitu, aku duluan yaa Sell,
daaaaaaa.” Sinta pun berlalu bersama Honda kesayangannya. Selly yang tampak tak
bersemangat mencoba memulai hari-harinya dengan pergi ke toko buku. Di sana ia
celingak celinguk sendirian. Ia masih menunggu balasan sms yang ia kirm ke
Kevin. tapi sampai ia pulang ke rumah, pesan singkat itu tak dibalas oleh
Kevin. Selly sangat sedih, apakah ia bisa bertemu dengan Kevin , ketika ia
lolos ke Manado? Entahlah, iaapun masih bingung, masih gundah gulana hatinya.
Ia merasa Kevin sudah jaauh dan melupakkannya. Sedangkan ia masih berharap
Kevin menjadi orang yang dulu pertama kali ia kenal.
Temaram yang indah bersinar terang menggantikan
lampu-lampu taman yang hampir padam ditelan malam. Berlian-berlian masih
berkedap kedip diangkasa luas. Selly duduk ditepi jendela kamarnya, menatap
jauh sekali, pandangannya tetap pada satu objek, kemudian dia menulis beberapa
kata di akhir buku DIARY merah jambunya. Ia menulis bahwa buku itu akan sampai
ke tangan yang lebih berhak daripada ia. Isinya masih menjadi rahasia ia dan Kevin.
hanya Kevin yang boleh membuka dan mebacanya. Dari kegelapan malam, dengan
samar-samar cahaya dari luar, Sellly kembali ke peraduan untuk menyambut hari
esok. Ia berdoa agar esok bisa menggapai mimpi dan memeluk perasaannya.
Suara teriakan ayam mulai berterbangan dipendengaran.
Semut-semut nakal pun mulai berjalan berbaris menuju rumah-rumah persinggahan
untuk mencari makan. Cerita malam tadi cukup dihapus dengan senyuman Selly pagi
ini. Ia bersemangat sekali ke sekolah, karena ia tak sabar menunggu hasil
pengumuman juri pagi ini. Dengan kecepatan yang tinggi sampailah ia pada
gerbang sekolah. Dengan gontai ia ayunkan kakinya penuh keyakinan. Wajahnya
yang cuek, masih saja membuka mata teman-teman untuk menyapanya. Sapaan itupun
ia tanggapi dengaan menaikkan senyumnya semanis mungkin. Ia taak ingin terlihat
kaku dan tak pede hari itu. Satu persatu murid masuk kedalam ruangan juri.
Mereka tak sabar menunggu juri mengumumkan siapa pemenangnya. Tapi kali ini
lain. Juri hanya membagi amplop, dan didalam amplop itu ada satu nama yang akan
dipanggil maju kedepan. Kemudian amplop yang berisi nama-nama itu sudah
dipegang oleh juri. Juripun memanggil satu persatu diantara mereka semua. Suara
yang riuh rendah membuat juri berteriak didepan microfon. Suara yang riuh
rendah tadi kemudian menjadi hening dengan seketika. Dimulailah pengumuman. Nah
suara itu berteriak memanggil nama Selly, Sellyy hampir tak percaya, ini gak
mimpi kan ? tapi, bisa saja yang dipanggil itu juara tiga, bukan juara satu..
perasaan Selly campur aduk, Selly dengan pemegang juara ketiga. Raut wajah
Selly yang kegirangan dan penuh semangat
kin layu bagai bunga yang tak terawat. Wajahnya sedih, tapi ia tak mau menampakkan
itu. Dengan senyum yang dipaksakan, Selly mencium tangan ketiga juri. Ia mengucapkan
terimakasih kepada semua yang telah mendukungnya. Selly bahagia, walau
cita-cita yang ia impikan gagal begitu saja. Diary merah jambu yang akan ia
berikan langsung kepada Kevin sepertinya tak tercapai. Apa yang harus ia
lakukan? Bagaimana caranya? Selly masih bingung. Selly masih kecewa dengan
hasil yang tak ia harapkan.
Ujian semester akhirpun datang. Semua siswa disibukkan
dengan kegiatan dirumah masing-masing. Seminggu itu Selly fixkan untuk focus
keujiann. Tapi pada hari terakhir ujian, Sinta berpamitan, bahwa dirinya akan
berlibur ke Manado. Selly yang bingung menyampaikan Diary merah jambu kepada
Kevin, akhirnya menemukan titik terang. Yaa diary itu iaa titipkan kepada
Sinta. Sinta mengangguk dan bersedia membawa diary merah jambu itu.. sebelumnya
Selly telah membungkus Diary merah jambunya dengan kotak berwarna merah dan
dibalut dengan pita berwarna kecoklatan. Coklat artinya manis, wah pasti manis
dong lly yang isi yang ada didalamnya,” senggol Sinta kepada miss.cuek
tersebut. Selly hanya tersenyum menanggapi ejekan Sinta.
Sinta yang akan terbang besok ke Manado telah
menyiapkan semuanya dengan rapi. Selly merasa sedih bercampur senang. Ia sedih
karena tak bisa merayakan hari ulangtahunnya yang seminggu lagi akan dirayakan.
Sedih karena Sahabatya taka da disampingnya. Ia senang y karena diary merah
jambu iu akan langsung dibaca oleh Kevin.
Beberapa saat kemudian, Sinta telah sampai ditanah
Manado. Tanah kelahiran orangtuanya. Tanah yang baru pertama kali ia pijak.
Waahhhhh sungguh luar biasa kuasa Tuhan. Indah sekali kota Manado ini, aku tak
pernah merasakan suasana yang khusuk seperti ini,” gumam Sinta dalam hatinya.
Mobil yang ditumpanginya kini telah sampai tepat di depan rumah Kevin. Rumah
yang akan menjadi tempat tinggalnya beberapa minggu ini.
Suasana pagi di Manado sungguh indah. Hamparan bukit
yang tinggi dan sungai yang besar sungguh elok jika dilihat melalui kacamata
hati. Sinta yang baru saja terbangun dalam tidurnya yang lelap langsung
teringat pada sebuah bungkusan yang dititipkan Selly kepadanya.
“Ya ampun, aku hampir lupa, inikan buat Kak Kevin. ya
Tuhan, kak Kevin kemana ya? Apa dia masih tidur, aku coba taruh aja deh
bungkusan ini dikamarnya.” Pelan-pelan Sinta menyelinap ke kamar Kevin.
kemudian dia menaruh kotak bewarna merah itu disebuah meja. Sepertinya itu meja
belajar Kevin. Sebangun dari tidurnya, Kevin terkejut ada kotak berwarma merah
ada di kamarnya. Punya siapa ini? Tapi tulisan di depannya bertuliskan nama
Kevin. berarti ini buat Kevin dong.”gumamnya dalam hati.
Perlahan ia buka kotak berwarna merah tersebut. Dengan
hati-hati ia melihat ada buku berwarna merah jambu dibalut pita berwarna
coklat. Romantic sekali yang memberi ini. Siapa ya?” Tanya Kevin penasaran.
Satu persatu ia buka dan ia baca buku itu. Gambar abstrak yang ia buka
dihalaman pertama tak dihiraukannya, sehingga ia tak tahu bahwa itu dari Selly.
Tapi ketika lembar demi lembar ia buka dengan hati-hati ia menemukan satu
keganjalan. Dipertengahan buku itu ada tulisan berwarna pink, panjang sekali.
Berbeda dengan tulisan yang lain. Ia kemudian membaca dengan perlahan., begini
bunyi bacaannya.
DEAR DIARY
Kevin Sahabatkku
Kamu ingat aku kan? Aku sahabaatmu. Sahabat yang kau
kenal tak lebih dari dua minggu. aku akan berulang tahun yang ke 17th,
aku berharap, kamu bisa datang membawa pacarmu kepangkuanku, kemudian kamu
perkenalkan padaku. Aku tau dia pasti sangat menyayangimu dengan tulus. Begitu
juga saat kamu tersenyum membaca surat kecil berwarna merah jambu ni dariku.
Kevin Sahabatku
Jauh ketika hujan tak bisa menopang panas, dekat
ketika Tuhan melambaikan tangan untuk mengaambil detik demi detik kehidupan,
jangkauan waktu yang hampir erat dengan kematian, jadikan alasan bahwa berubah
itu yang terbaik, jangan jadikan umur ini kesenangan, melainkan kesedihan yang
tertunda.
Kevin Sahabatku
Dikala lelap menghampiriku, ruh-ruhku memanggil kau
untuk datang kehadapanku. Aku hanya bisa berteriak dalam mimpiku, bisa
bersamamu, memelukmu setulus kisah kasihku waktu kau berada tepat dimataku
Kevin Sahabatku
Sejak kita bertemu, aku sangat nyaman padamu, apatah
lagi ketika kau menjawab semua pertanyaan yang aku bingungkan, kau sungguh
smart, kau cerdas, tapi hatimu tak cerdas menilai perasaanku, perasaan yang aku
bangun sendiri dan aku lawan sendiri untuk tidak mencintaimu.
Kevin Sahabatku
Lihat air mata ini, titik-titik kriput yang kamu lihat
didalam buku diary merah jambu ini, adalah air mataku. Air mata seorang yang
cuek, tapi sesungguhnya butuh, ya aku butuh, hingga sampai saat ini aku masih
butuh kamu untuk menjadi sahabatku. Jangan kau ikut menangis dalam kesedihanku
Kevin. cukup dengan kamu tau perasaanku, aku juga akan mengerti keputusanmu.
Kevin Sahabatku
Aku tak pernah menganggap kamu hilang dalam duniaku,
aku tak pernah menganggap kamu melupakanku, yang aku tahu, sampai saat ini kau
tetap Kevin y6ang dulu, Kevin yang aku kenal dua minggu itu.
TTD
Selly Sahabatmu
Air mata Kevin menetes begitu saja. Ia tak menyangka
bahwa Selly begitu tulus bersahabat dengannya. Walau ia sekarang tahu jikalau
Selly benar-benar mencintainya. Tapi itu tak mungkin, perbedaan keimanan
membuat Kevin enggan dan hanya menganggap Selly sahabatnya. Sampai saat ini
Selly dan Kevin tak pernah bertemu lagi. Selly sudah lega karena ia sudah
mengungkapkan apa yang ia rasa. Dan Kevin juga sudah tak seperti dulu.
Komunikasi tetap lancer dan mereka selalu shering tentang apa yang mereka mau.
Semuanya kembali seperti dulu. Kembali semangat, kembali ceria dan kembali
menjadi diri sendiri.
Note: KETIKA SAHABATMU MELUPAKANMU, ITU BUKAN KARNA IA
TAK SAYANG, MUNGKIN SAJA IA SIBUK DENGAN PEKERJAANNYA. BERFIKIR POSITIF KARENA
DENGAN BEGITU KAMU AKAN MERASA LEBIH BAHAGIA. SO KEEP SMART, KEEP SPIRIT, N
KEEP CALM MY FRIENDS J
THE END