Minggu, 16 Juni 2013

Bagian 1 LOVE IS MISTERY



Tari masih di kamarnya. Bersiap-siap untuk pergi ke kampus tercinta. Dengan dibalut jilbab berwarna kemerahan, Tari kelihatan anggun. Dipegangnya salah satu foto yang ada dikamarnya. Tari masih mengingat kejadian-kejadian lucu waktu ia masih duduk dibangku SMA. Tari rindu akan kenangan manis dan pahit yang masih terbenam indah dibenaknya. Tak terasa genangan air mata Tari menetes deras membasahi frame foto yang Tari pegang. Cepat-cepat gadis berwajah periang itu mengusapnya. Cuaca diluar cukup bersahabat. Pemandangan indah, apalagi menjelang terbitnya matahari. Cahaya kuning keemasan membias dari ufuk timur. Menunjukan sang raja siang akan muncul dari peraduannnya. Sungguh ini alam ini. Terdengar suara hati Tari setengah berbisik.
Terdengar suara panggilan dari arah luar, tepat dari arah meja makan. “Tariiiiiiii , ayo makan dulu nak, ibu sudah siapkan semua sarapan pagi ini,” teriak ibu Tari dari arah dapur.
“iya bu, bentar, aku masih memakai jilbab,” balas Tari yang masih merapikan jilbab terbarunya.
Suasana makan pagi pun sungguh hikmat. Ayah Tari yang sejak pagi tadi sudah berangkat, tak sempat untuk makan satu meja dengannya. Ayah Tari bekerja sebagai seorang Karyawan di salah satu PT di kota kelahiran Tari, Tanjungpinang. Tari yang sudah selesai makan, langsung berpamitan dengan ibunya. Ia langsung memanaskan motor kesayangannya. Jupiter biru kebanggan Tari tersebut adalah keluarga bahkan pacar setia bagi Tari. Tak ada yang bisa menduakannya dan menggantikannya dihati Tari. Tari bisa saja berubah menjadi puitis jika ditanya tentang motor jupiter biru kesayangannya.
Tujuan utama Tari berangkat pagi-pagi sekali karena ingin membuat tugas kelompok bersama Mery. Perjalanan pun dimulai dengan semangat yang menggebu-gebu dihati Tari. Angin yang menggelayut indah di wajah Tari, membuat Tari bersyukur akan keindahan alam yang Tuhan berikan. Disepanjang perjalanan, Tari merasa senang, melihat rumput-rumput bergoyang. Terhampar luas hijaunya rumput ilalang bagaikan sabana yang indah. Pohon-pohon pun masih kokoh bertengger di kaki-kaki jalanan. Tapi masih sangat disayangkan, daun-daun kering berserakan disana sini. Sungguh tak tersentuh oleh tangan-tangan mulia. Petugas penyapu jalan, hanya merapikan rumput-rumput yang mulai memanjang. Itu saja. Mereka tak ada yang menyapu daun-daun kering yang berterbangan kesana kemari. Tari prihatin sekali dengan keadaan kotanya. Padahal, jika di pandang, kota milik Tari masih termasuk kota yang jarang polusi.
Lamunan Tari diperjalanan membuat Tari cepat sampai di kediaman Mery. Pintu pagar rumah Mery terbuka, sepertinya Mery telah menunggu dirumahnya. Mery anak orang berada. Sayangnya ia tak bisa mengendarai sepeda motor. Sehingga jika pergi kemanapun, Mery selalu bergantung dengan orangtuanya. Rencanya, tugas mereka ini akan diprint di rumah bibi Mery. Maklum bibi Mery adalah pengusaha Fotocopy, Frontal Copy nama tempatnya. Diam-diam mereka berdua sepakat untuk mencari yang gratis. Kaan lagi Mahasiswa pengangguran seperti kami mendapatkan yang gratis,” gumam Tari dalam benaknya. Wajahnya senyum-senyum sendiri.
“Mer, yuk jalan, jadi kita ngerint di rumah bibimu kan?,” tanya Tari menegaskan.
“iya Tar, tenang aja, kamu siap meluncur kan? Ayo jalan,” ajak Mery semangat. Mery sudah bertengger di jok motor Tari. Keduanya melaju ke rumah bibi Mery.
Tepat di depan Fotocopy bibi Mery, terlihat anak-anak bermain-main dengan riang gembira. Memakai baju seragam dan bergaul dengan hangatnya matahari. Tari masih melamun jauh merasakan kegembiraan dan melihat satu persatu sikap kepolosan yang mereka punya. Tari jadi teringat waktu ia kecil dulu. Bermain, bersenda gurau, berkejar-kejaran, tanpa harus memikirkan beban yang mendalam seperti yang ia rasakan saat ini. Umur Tari yang sudah menginjak 20 tahun, membuat ia semakin rindu akan masa kekanak-kanakannya dulu. Lamunan Tari dikejutkan langsung oleh Mery yang sudah beberapa menit berada di dalam.
“Eh Tar, ngapain kamu disitu. Kok mandangin sekolah Djuwita sih? Ada apa emangnya? Ayuk masuk,” Mery menarik tangan Tari dengan cepat. “ hehehe, iya iya maaf, aku jadi kebawa suasana nih,” Tari tersenyum-senyum melihat tingkahnya sendiri.
Di ruangan tak begitu besar, dari pandangan beberapa meter saja, tampak pria bertubuh tegap, berkulit putih, berambut plontos, bermata sayu, seolah melemparkan senyumannya kepada Tari. Tari merasa grogi dan salah tingkah. Tari menjadi malu, wajahnya memerah dan matanya memberitakan bahwa ia sedang tak enak perasaan. Denyut jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Tangannya dingin, akibat darah disekujur tubuhnya memompa lebih cepat. Ada apa ini ? siapa pria itu?. Tari juga tak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang hadir dipikirannya. Akhirnya, Tari mencoba mengalihkan pandangannya ke Mery.
“Mer, udah jam berapa nih? Yuk ah, printnya udah selesai kan? Takutnya bis jemputan udah jalan Mer?,” Tari merengek-rengek minta cepat-cepat pergi dari kediaman bibi Mery.
“iya bentar Tar, aku pamitan dulu, tadi bibiku pesan, kalau mau pulang disuruh pamitan,” sambung Mery sambil merapikan bajunya yang terlipat.
“Meryyyyyyyy,” terdengar suara bibi dari dalam rumahnya, yang bergandengan langsung dengan tempat Fotocopynya. “iya bibi, ada apa?,” Mery menyambutnya dengan senyuman.
Ternyata, printer yang ada dirumah bibi Mery sedang diperbaiki. Kemungkinan besok hari mereka harus datang kembali ke toko tersebut. Bibi Mery menjelaskan panjang lebar. Mery mengangguk dan berpamitan dengan bibinya. Tari pun berlalu bersama senyum simpul yang ia lontarkan ke pria tersebut dan bibi Mery. Tari merasa terbang dan merasa tubuhnya terombang ambing dilautan yang luas. Tari jatuh cinta? Pandangan pertama? Cinta itu buta Tari. Benaknya berbicara.
Motor Jupiter biru milik Tari membawa mereka ke terminal, tempat biasanya para mahasiswa menunggu jemputan untuk ke kampus. Kampus Tari memang cukup jauh bila ditempuh dengan menggunakan kendaraan bermotor. Diperjalanan, Tari menyenggol Mery dan bertanya langsung tanpa basa basi. “eh Mer, itu yang di toko bibimu tadi siapa? Cowok plontos, putih dan bermata sayu tadi loh,” tanya Tari penasaran.
“Yang mana ya Tar?,” Mery mencoba mengibuly Tari. “itu loh Mer, yang main gitar tadi, terus tadi dia senyum sama aku,” tegas Tari meyakinkan.
“Hahaha…. Aku jadi curiga sama kamu Tar! Ayo kamu suka ya?,” Mery menggoda Tari. “Apaan sih kamu Mer, aku kan Cuma pengen tahu, emang salah ya?,” Tari mulai menggerutu dan mengatupkan rangannya dengan keras.
“Hahaha, Mery terbahak lagi. Gak kok. Itu Riko namanya. Dia ponakan pamanku dari Medan. Katanya sih dia  kerja sama bibiku disini,” jelas Mery panjang lebar. Tari hanya mengangguk dan tersenyum. Ada energy yang berbeda dari senyuman Tari. Tari tampak lebih sumringah ketika mendengar penjelasan Mery yang cukup buatnya.
Cerita Mery tadi tepat sekali dengan sampainya mereka di terminal. Keduanya langsung menghampiri sahabat mereka. Adel, Iki, Lia, Amel, dan Vivi. Bis merah dengan berstempel Universitas Kepri, telah bertengger diantara teriknya matahari. Riuh sekali suasana hari itu. Apalagi dahaga mengampiri. Tegukan air mineral membayarkan semua letih hari itu. Mereka semua berhamamburan menaiki bis. Suasana bis yang pengap dan ramai tak membuat hati Tari gelisah. Melainkan bahagia karena masih mengingat senyuman dan paras indah di depan matanya tadi. Tari masih senyum-senyum sendiri jika mengingat kejadian itu.
Bagian dua
Cuaca mendung mebaluti kesejukan rumah Tari. Titik-titik Kristal yang hampir tumpah masih saja tak menggoyahkan langkah Tari untuk mandi. Sebuah kamar kecil, dengan dibalut tirai berwarna merah, menghiasi sudut kamar Tari yang sejak tadi sudah rapi sekali. Baju pun telah dipersiapkannya sejak malam tadi. Disetrika dengan begitu rapi. Tak seperti biasanya Tari semangat untuk bergegas ke rumah Mery. Wajahnya yang sumringah, membuat ayah dan ibunya curiga. Anak keduanya mungkin saja sedang mengalami masa-masa penaikan hormone. Jatuh cinta katanya. Lihat saja, jerawat yang tumbuh tepat di bawah hidung Tari, membuatnya rishi setengah mati. Ayahnya masih diam dan tak bertanya apa-apa. Hanya di suasana makan pagi itu agak sedikit menegangkan.
“Tari pamit ya ayah, ibu,” dengan mencium kedua punggung tangan ibu dan Ayahnya yang tak muda lagi, tari beranjak dari tempat duduknya. Dengan dibalut celana kulot dan kaos khasnya ia berjalan dengan gontai menuju motor kesyangannya. Tari langsung memanaskan motor bergiginyaa. Ia siap meluncur menuju ke rumah Mery. Diperjalanan sosok pria misterius yang ia kagumi itu, masih saja menari-nari dipelupuk matanya. Pria tanpa nama yang ia lihat di toko fotocopy bibi Mery. Ada apa dengan pria itu? Kenapa Tari masih memikirkannya dan tak sabar bertemu dengannya? Entahlah, teka teki dibenak tari semakin menggunung. Bagaikan gunung Everest yang sedang aktif.
Tari sudah sampai saja di kediaman Mery. Mery sampai heran. Mengapa Tari begitu antusias dan bersemangat untuk hari kedua ini. Padahal kan hari ini hanya mengeprint tugas saja. Mery bertanya-tanya tentang sikap aneh sahabatnya ittu.
“Mer, buruan dong. Kok daritadi gak selesai-selesai sih?,” teriak Tari dari pintu pagar Mery. “iya sebentar Tar! Kok buru-buru sih. Kamu duduk dulu sini. Gak capek ya? Perjalanan dari rumahmu kan cukup jauh dengan rumahku. Yuk minum the dulu di dalam,” tegas Mery sambil membereskan makanan yang ada di meja santainya. Mery jadi semakin tak enak hati ditunggu seperti itu. Apalagi Tari yang sudah tak sabar ingin cepat pergi ke toko bibinya. Kecurigaan Mery semakin besar. Mery yakin, sahabatnya sedang jatuh cinta. Dua sahabat itu pun langsung bergegas pergi dari kediaman Mery. Jalan yangtak begitu jauh ditempuh Tari dengan cepat. Sampailah merekaa pada tok tante Mery. Mery hampir tak enak hati pula dengan bibinya. Karena jam Sembilan pagi ini mereka sudah berada dikediaman bibi Mery.
Keduanya langsung masuk dan duduk. Tari menatap disekelilingnya. Pria tanpa nama yang dijuluki Tari belum terlihat batang hidungnya. Diruangan itu tertata rapi buku-buku tulis, map-map berwarna warni, tumpukan kertas disana sini, dan dua buah mesin fotocopy betengger gagah dihadapan kami. Tari masih celingak celinguk. Mery hanya sibuk dengan handphone barunya. Suara tapak sandal bergelayut merdu ditelinga Tari. Akhirnya, apa yang ditunggu Tari datang juga. Pria tanpa nama itu muncul dari dalam rumah bibi Mery. Pria itu melontarkan senyum terindahnya kepada Tari. Tari membalasnya dengan senyum yang paling termanis. Tari masih diam membisu. Perasaannya tak menentu. Tangannya berkeringat, menandakan ia sedang nervous setengah mati. Ia berfikir bahwa wajahnya pasti memerah. Tenang Tari, tenang. Jangan memperlihatkan kegrogianmu didepan pria itu. Karena sama saja kamu membunuh harga dirimu sendiri. Anggap saja dia tidak ada didepanmu Tari. Hati Tari berkicau tak menentu. Wajahnya tampak gelisah tapi ia masih bisa mengalihkan pandangannya ke Mery.
“Mer, lama banget sih bibimu. Aku udah gerah nih, laper lagi pengen nyari makan siang,” rengek Tari kepada Mery yang masih sibuk dengan handphone barunya.
“Iya bentar lagi kok Tar. Sabar ya, tugas kita bakalan selesai kok,” jawab Mery pelan seraya menenangkan Tari.
Pria itu kembali melontarkan senyumannya kepada Tari. Tari kembali berbagi senyum. Ruangan itu sudah seperti taman bunga bagi Tari. Mungkin jika ada suara music india, Tari pasti sudah berjoget ria di dalamnya. Tari menggenggam erat gelas yang ada dihadapannya. Diteguknya es the tersebut untuk menghilangkan segala rasa gugup yang semakin memuncak. Perlahan rasa itu kembali normal dan tak bereaksi lagi ketika Tari mendengar suara teriakan bibi Mery. Sesuatu keajaiban datang dan mereka pun menuju lantai atas. Printan tugas akan segera dilaksanakan. Dan Tari pun tersenyum riang. Dia merasa akan keluar dari jeratan singa jantan yang menjerat jantung serta hatinya.
“Tugasnya udah selesai nih Tar, kita langsung ke kampus aja ya?,” tanya Mery seraya menyususn print out yang tak beraturan.
“Ide bagus itu Mer, aku juga udah mulai males disini. Mau cepat-cepat mnghirup udara kampus. Sekalian melihat cowok kece di sana,” Tari tergelak dan mencoba menghibur hatinya sendiri.
“Hahahaha … oke deh Tar. Siap deh siap. Aku jadi semakin curiga. Kalau lagi kasmaran gak usah dipublik gitu dong,” Mery tertawa dan mencolek Tari.
“udah ah, yuk kita turun. Aku udah laper banget nih Mer. Jangan goda-goda aku gitu deh. Gak lucu tau. Aku gak lagi kasmaran dan gak lagi jatuh cinta. Titik,” tegas Tari sambil berjalan menuju motornya.
Dua sahabat itu pun berlalu tanpa mengenal waktu. Keduanya akan sampai di kampus pukul satu siang. Bis kesayangan mereka sudah beberapa menit yang lalu datang bertengger di tengah teriknya sang surya. Suasana sumpek sudah terasa. Mereka berdiri karena memang tempat duduk terbatas. Tapi itu semua dijalani dengan penuh keikhlasan oleh Tari dan teman-temannya. Tak ada yang enak di dunia ini. Sampai-sampai kuliah pun harus berjuang seperti ini,” gumam Tari seraya menggantungkan tangannya di ujung-ujung besi bis tercinta.

***