Bila ingin berbicara tentang karier , aku rasa,
karierku masih biasa-biasa aja. Mungkin aku belum menemukan, suatu saat sosokku
sendiri yang akan menemukan hal yang paling menakjubkan dalam hidup ku. Tak
pernah aku berkhayal dan tak pernah aku bermimpi untuk jadi seperti yang aku
rasakan saat ini. Menjadi wanita tangguh dalam segala cobaan hidup yang
menerpa. Tak bisa aku jabarkan dan aku kisahkan kepada kalian semua. Terlalu
panjang dan terlalu rumit untuk di ungkapkan lewat bahasa tulisan. Aku hanya
berbagi kebahagiaan yang aku punya saat ini. Aku bisa menamatkan sekolah dari
SD , SMP , SMA itu saja sudah menjadi kebanggan dalam hidupku. Tak pernah aku
merasa lelah untuk belajar dan menuntut ilmu. Bukannya sebuah hadist pernah
mengatakan “tuntutlah ilmu sampai kenegri Cina dan “tuntutlah ilmu dari buaian
sampai ke liang lahat”. Aku yakin itu semua sudah diatur oleh yang MAHA , kita tinggal menjalankannya saja sesuai
dengan kemampuan yang kita miliki. Aku mulai belajar mengenal diriku sendiri
waktu aku duduk dibangku SMP kelas dua. Sepertinya aku terlalu cepat untuk
akhilbaligh. Hahah J Tapi no problem, so now aku bisa menggapai apa yang
aku inginkan. Satu keinginan yang masih terbenam mendalam disanubariku adalah
menaikkan ayahku Haji. Itu adalah janjiku pada diriku sendiri dan mungkin
sampai saat ini ayah dan semua keluargaku tak akan pernah tau akan itu.
Itu berbicara masalah karier. Jika berbicara masalah
persahabatan, sepertinya akan beruntun panjang. Di sini akan aku jabarkan
cerita saja tentang siapa saja yang pernah singgah menjadi sahabatku dan sampai
sekarangpun mereka masih sahabatku. Karena tak ada yang namanya Mantan sahabat,
kalau mantan pacar banyak. Haha J aku perkenalkan dari pertama kali aku duduk di bangku
SD. Gini nih ceritanya .. ikutin yukk ..
Suatu
pagi, aku duduk sendiri menatap sayup-sayup sendu yang menyibakkan rambutku.
Aku bediri seorang diri , menunnggu keramaian datang di celah awan yang tak
kunjung bersinar. Awan hitam berarak datang sudut menyudut di tengah-tengah
cakrawala. Aku masih sendiri di ruangan gelap yang menyisakan satu papan tulis
hitam dan beberapa bangku yang melengkapinya. Seseorang datang menyapa. Hai ,
kenalin aku Arum. Wah nama yang bagus”hatiku berbicara. Aku jabat tangannya.
Namaku Riska. Dan kamipun sepakat untuk menjadi teman yang akrab. Setiap hari,
kami selalu bermain bersama. Main lari-larian, kejar-kejaran, kekantin bersama
dan banyak haal lain yang kami lakukan demi kebahagiaan yang kami rasakan. Arum teman yang baik. Dia anak yang manja. Karena
ibunya Guru di sekolahku. Tapi aku selalu senang berada didekatna, karena waktu
itu memang kami tak pernah bertengkar. Aku selalu ingat cerita lucu waktu SD.
Waktu itu kami sedang duduk-duduk bermain rumah-rumahan dari tanah. Tetapi
ketika kami lengah, rumah-rumahan kami dinjak sengaja oleh geng SEN. Aku
singkat aja ya , karena takut tersinggung. Kemudian Arum marah besar ke geng
tersebut. Aku juga merasa marah. Akhirnya pengaduan pun terjadi. Arum yang anak
manja ini langsung mengadu ke ibunya. Ibu arum hanya tersenyum dan mengatakan
“udah biarin aja, tidak usah di layan”. Arumpun mulai reda. Tetapi dendam
dihatinya masih saja membara. Cerita kami cukup disini saja ya , sebenarnya
masa SD bersama teman-temanku itu tak akan pernah bisa terlupakan. Itu adalah
masa yang paling indah yang pernah aku alami. Kemudian semenjak SMP aku mulai
renggang sama arum, karena dia sudah mendapat teman baru yang lebih banyak dan
lebih baik dari aku pastinya. Tapi inget teman, aku masih bersahabat kok sama
dia. Tetapi kali ini beda. Aku memang tak pernah bisa lagi menyeka air matanya
dan membalut luka yang ada dihatinya. Satu cara yang membuat aku tak
melupakkannya adalah dengan mendoaakannya selalu di saat aku menunaikan sholat.
Dia tetap sahabatku J
Itu masih waktu SD. Liat temen, masih SD aja aku udah
punya sahabat yang baik. Apalagi SMP yaa , aku memang orang yang beruntuNG
mempunyai sahabat-sahabat seperti mereka. Aku selalu sayang sama sahabatku.
Karenaa mereka semua yang selalu menyemangati ketika aku sedih dan ketika aku
senang. Sahabat SMPku ? dia masih berada di dekatku. Masih berkomunikasi,
tetapi tak seperti dulu sih. Ikutin yukk ceritanya…
(Nama yang tertera bukan nama asli)
Kring..kring .. bel berbunyi kuat sekali. Pertanda
anak-anak SMP Sinar Bangsa masuk ke dalam kelasnya masing-masing. Aku masih
ingat sekali. Waktu itu Dina memakai sepatu berwarna hitam, rambutnya yang
panjang terurai diikat setengah. Gayanya angkuh, bawel, dan dekat dengan
beberapa lelaki yang ada di kelasku. Aku masih tak mengenalnya begitu dekat.
Aku masih biasa-biasa saja. Setiap hari Dina selalu mengikat rambutnya yang
panjang. Anak ini memiliki tahi lalat yang manis sekali bila dilihat. Lama
kelamaan aku mengenalnya dan aku masih biasa saja. Tak lebih dari seorang teman
yang menegur teman sekelasnya.
Hari berganti bulan , bulan beganti tahun, pohon yang
gugur mulai berkembang. Musim hujan telah reda dan musim panas pun menerpa.
Kini kami duduk dikelas tiga. Aku sekelas lagi bersama Dina. Dina mulai akrab
denganku. Suatu sore yang cerah, Dina dan kawan-kawan mengajakku belajar
kelompok dirumahnya. Aku senang, dan menerima tawaran Dina. Disitulah dimulai
persahabatan kami. Aku mengenal Dina dari sejak aku duduk dibaangku SMP dan
dibangku kelas tigalah aku bersahabat dengannya. Tak banyak kenangan manis yang
kami ukir. Kami pernah berkelahi tenatang sesuatu hal.. dari situlah kami mulai
mengerti betapa berartinya persahabatan disbanding apapun.
Sekarang Dina kuliah di Bandung. Ia mengambil jurusan
Tekhnik Industri di UNISBA. Komunikasiku dengan Dina semakin hari semakin
memburuk. Mungkin saja dia sedang sibuk dengan tugas-tugasnya. Setiap aku
mencoba mengabarkan dan menanyakan kabarnya, taka da balasan apapun. Aku
mengerti keadaan dia disana. Aku tak pernah berfikir yang negative. Kita sudah
sama-sama dewasa kok, selama kita belum meninggal kita masih tetap sahabat.
Banyak cerita yang mungkin tak sempat aku torehkan di blog ini. Banyak kisah
yang mungkin masih terbesit di dalam dada. Tapi inilah kenyataannya. Aku dan
Dina memng harus salling mengerti keadaan mashing-masing. Ingatlah aku tetap
sahabatmu dan kamu tetap sahabatku. Tak ada kata rindu bila tangan masih
bersatu .
Persahabatanku waktu SMA juga ada kok. Bukan aku plin
plan dalam memilih temen, hanya saja mereka memang baik sama aku, jadi ya aku
pasti bakalan baik sama mereka. Aku sayang kok sama sahabat-sahabat aku. Hanya
saja , mungkin karena aku udah kuliah jadi ya pasti dapat teman yang baru lagi dong ya, seperti kata imam syafi’i,
“MERANTAULAH MAKA KAMU AKAN MENDAPAT TEMAN DAN KERABAT YANG JAUH LEBIH BAIK
LAGI” , nah walaupun aku gak merantau, aku udah merasakan apa yang imam syafi’I
katakan tadi. Aku mendapat sahabat lain lagi yang lebih baik lagi, dan lebih
mengerti gimana aku.
Aku tetap sayang mereka semua, walau waktu yang aku punya
hanya bisa aku habiskan bersama sahabat-sahabat ku dibangku Kuliah ini, semua
ada julukan masing-masing atau panggilan sayang kalau Rizky Amelia Khairunnisa
(bunda), Novi Setiawati (mamah), Nicky Vidia Marlyne (Kak iky) , Yufi adelia
(Ucuq), Maya Sagita (Jelek), Rini Ariska (Gembul). Mengapa aku memakai nickname
gembul di blog ini, karena aku selalu ingin mengenang apa yang terjadi
dikehidupan aku. Alasan mereka memanggil gembul ke aku itu pastia da
sejarahnya, tapi cukup aku dan teman-temannku yang tau, terlalu privasi untuk
di publikasikan ke semua. Ternyata aku baru menyadari, bahwa selama ini aku
pernah yang namanya ALAY. Alay yang aku rasaiin bukan hanya aku duduk dibangku
SMA saja, tetapi waktu aku duduk dibangku kuliah tetapnya semester 1 aku juga
pernah alay loh. Ternyata Raditya Dika memang gak salah, proses menuju
kedewasaan yang hakiki itu adalah ketika kita menjalani proses masa ALAY. Dari
bayi, balita, anak-anak, remaja, ALAYYYY, Dewasa. Kalau dibilang bangga sih
enggak, malah maluuuu banget. Tapi apalah daya, hal itu memang sudah nyata dan
tak bisa dipungkiri. SELAMAT MEMBACA :)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar