Sabtu, 12 Januari 2013

about my best friends

Bila ingin berbicara tentang karier , aku rasa, karierku masih biasa-biasa aja. Mungkin aku belum menemukan, suatu saat sosokku sendiri yang akan menemukan hal yang paling menakjubkan dalam hidup ku. Tak pernah aku berkhayal dan tak pernah aku bermimpi untuk jadi seperti yang aku rasakan saat ini. Menjadi wanita tangguh dalam segala cobaan hidup yang menerpa. Tak bisa aku jabarkan dan aku kisahkan kepada kalian semua. Terlalu panjang dan terlalu rumit untuk di ungkapkan lewat bahasa tulisan. Aku hanya berbagi kebahagiaan yang aku punya saat ini. Aku bisa menamatkan sekolah dari SD , SMP , SMA itu saja sudah menjadi kebanggan dalam hidupku. Tak pernah aku merasa lelah untuk belajar dan menuntut ilmu. Bukannya sebuah hadist pernah mengatakan “tuntutlah ilmu sampai kenegri Cina dan “tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat”. Aku yakin itu semua sudah diatur oleh yang MAHA  , kita tinggal menjalankannya saja sesuai dengan kemampuan yang kita miliki. Aku mulai belajar mengenal diriku sendiri waktu aku duduk dibangku SMP kelas dua. Sepertinya aku terlalu cepat untuk akhilbaligh. Hahah J Tapi no problem, so now aku bisa menggapai apa yang aku inginkan. Satu keinginan yang masih terbenam mendalam disanubariku adalah menaikkan ayahku Haji. Itu adalah janjiku pada diriku sendiri dan mungkin sampai saat ini ayah dan semua keluargaku tak akan pernah tau akan itu.
Itu berbicara masalah karier. Jika berbicara masalah persahabatan, sepertinya akan beruntun panjang. Di sini akan aku jabarkan cerita saja tentang siapa saja yang pernah singgah menjadi sahabatku dan sampai sekarangpun mereka masih sahabatku. Karena tak ada yang namanya Mantan sahabat, kalau mantan pacar banyak. Haha J aku perkenalkan dari pertama kali aku duduk di bangku SD. Gini nih ceritanya .. ikutin yukk ..
      Suatu pagi, aku duduk sendiri menatap sayup-sayup sendu yang menyibakkan rambutku. Aku bediri seorang diri , menunnggu keramaian datang di celah awan yang tak kunjung bersinar. Awan hitam berarak datang sudut menyudut di tengah-tengah cakrawala. Aku masih sendiri di ruangan gelap yang menyisakan satu papan tulis hitam dan beberapa bangku yang melengkapinya. Seseorang datang menyapa. Hai , kenalin aku Arum. Wah nama yang bagus”hatiku berbicara. Aku jabat tangannya. Namaku Riska. Dan kamipun sepakat untuk menjadi teman yang akrab. Setiap hari, kami selalu bermain bersama. Main lari-larian, kejar-kejaran, kekantin bersama dan banyak haal lain yang kami lakukan demi kebahagiaan yang kami rasakan. Arum teman yang baik. Dia anak yang manja. Karena ibunya Guru di sekolahku. Tapi aku selalu senang berada didekatna, karena waktu itu memang kami tak pernah bertengkar. Aku selalu ingat cerita lucu waktu SD. Waktu itu kami sedang duduk-duduk bermain rumah-rumahan dari tanah. Tetapi ketika kami lengah, rumah-rumahan kami dinjak sengaja oleh geng SEN. Aku singkat aja ya , karena takut tersinggung. Kemudian Arum marah besar ke geng tersebut. Aku juga merasa marah. Akhirnya pengaduan pun terjadi. Arum yang anak manja ini langsung mengadu ke ibunya. Ibu arum hanya tersenyum dan mengatakan “udah biarin aja, tidak usah di layan”. Arumpun mulai reda. Tetapi dendam dihatinya masih saja membara. Cerita kami cukup disini saja ya , sebenarnya masa SD bersama teman-temanku itu tak akan pernah bisa terlupakan. Itu adalah masa yang paling indah yang pernah aku alami. Kemudian semenjak SMP aku mulai renggang sama arum, karena dia sudah mendapat teman baru yang lebih banyak dan lebih baik dari aku pastinya. Tapi inget teman, aku masih bersahabat kok sama dia. Tetapi kali ini beda. Aku memang tak pernah bisa lagi menyeka air matanya dan membalut luka yang ada dihatinya. Satu cara yang membuat aku tak melupakkannya adalah dengan mendoaakannya selalu di saat aku menunaikan sholat. Dia tetap sahabatku J
Itu masih waktu SD. Liat temen, masih SD aja aku udah punya sahabat yang baik. Apalagi SMP yaa , aku memang orang yang beruntuNG mempunyai sahabat-sahabat seperti mereka. Aku selalu sayang sama sahabatku. Karenaa mereka semua yang selalu menyemangati ketika aku sedih dan ketika aku senang. Sahabat SMPku ? dia masih berada di dekatku. Masih berkomunikasi, tetapi tak seperti dulu sih. Ikutin yukk ceritanya…
(Nama yang tertera bukan nama asli)
Kring..kring .. bel berbunyi kuat sekali. Pertanda anak-anak SMP Sinar Bangsa masuk ke dalam kelasnya masing-masing. Aku masih ingat sekali. Waktu itu Dina memakai sepatu berwarna hitam, rambutnya yang panjang terurai diikat setengah. Gayanya angkuh, bawel, dan dekat dengan beberapa lelaki yang ada di kelasku. Aku masih tak mengenalnya begitu dekat. Aku masih biasa-biasa saja. Setiap hari Dina selalu mengikat rambutnya yang panjang. Anak ini memiliki tahi lalat yang manis sekali bila dilihat. Lama kelamaan aku mengenalnya dan aku masih biasa saja. Tak lebih dari seorang teman yang menegur teman sekelasnya.
Hari berganti bulan , bulan beganti tahun, pohon yang gugur mulai berkembang. Musim hujan telah reda dan musim panas pun menerpa. Kini kami duduk dikelas tiga. Aku sekelas lagi bersama Dina. Dina mulai akrab denganku. Suatu sore yang cerah, Dina dan kawan-kawan mengajakku belajar kelompok dirumahnya. Aku senang, dan menerima tawaran Dina. Disitulah dimulai persahabatan kami. Aku mengenal Dina dari sejak aku duduk dibaangku SMP dan dibangku kelas tigalah aku bersahabat dengannya. Tak banyak kenangan manis yang kami ukir. Kami pernah berkelahi tenatang sesuatu hal.. dari situlah kami mulai mengerti betapa berartinya persahabatan disbanding apapun.
Sekarang Dina kuliah di Bandung. Ia mengambil jurusan Tekhnik Industri di UNISBA. Komunikasiku dengan Dina semakin hari semakin memburuk. Mungkin saja dia sedang sibuk dengan tugas-tugasnya. Setiap aku mencoba mengabarkan dan menanyakan kabarnya, taka da balasan apapun. Aku mengerti keadaan dia disana. Aku tak pernah berfikir yang negative. Kita sudah sama-sama dewasa kok, selama kita belum meninggal kita masih tetap sahabat. Banyak cerita yang mungkin tak sempat aku torehkan di blog ini. Banyak kisah yang mungkin masih terbesit di dalam dada. Tapi inilah kenyataannya. Aku dan Dina memng harus salling mengerti keadaan mashing-masing. Ingatlah aku tetap sahabatmu dan kamu tetap sahabatku. Tak ada kata rindu bila tangan masih bersatu .
 Persahabatanku waktu SMA juga ada kok. Bukan aku plin plan dalam memilih temen, hanya saja mereka memang baik sama aku, jadi ya aku pasti bakalan baik sama mereka. Aku sayang kok sama sahabat-sahabat aku. Hanya saja , mungkin karena aku udah kuliah jadi ya pasti dapat teman yang baru lagi  dong ya, seperti kata imam syafi’i, “MERANTAULAH MAKA KAMU AKAN MENDAPAT TEMAN DAN KERABAT YANG JAUH LEBIH BAIK LAGI” , nah walaupun aku gak merantau, aku udah merasakan apa yang imam syafi’I katakan tadi. Aku mendapat sahabat lain lagi yang lebih baik lagi, dan lebih mengerti gimana aku. 
Aku tetap sayang mereka semua, walau waktu yang aku punya hanya bisa aku habiskan bersama sahabat-sahabat ku dibangku Kuliah ini, semua ada julukan masing-masing atau panggilan sayang kalau Rizky Amelia Khairunnisa (bunda), Novi Setiawati (mamah), Nicky Vidia Marlyne (Kak iky) , Yufi adelia (Ucuq), Maya Sagita (Jelek), Rini Ariska (Gembul). Mengapa aku memakai nickname gembul di blog ini, karena aku selalu ingin mengenang apa yang terjadi dikehidupan aku. Alasan mereka memanggil gembul ke aku itu pastia da sejarahnya, tapi cukup aku dan teman-temannku yang tau, terlalu privasi untuk di publikasikan ke semua. Ternyata aku baru menyadari, bahwa selama ini aku pernah yang namanya ALAY. Alay yang aku rasaiin bukan hanya aku duduk dibangku SMA saja, tetapi waktu aku duduk dibangku kuliah tetapnya semester 1 aku juga pernah alay loh. Ternyata Raditya Dika memang gak salah, proses menuju kedewasaan yang hakiki itu adalah ketika kita menjalani proses masa ALAY. Dari bayi, balita, anak-anak, remaja, ALAYYYY, Dewasa. Kalau dibilang bangga sih enggak, malah maluuuu banget. Tapi apalah daya, hal itu memang sudah nyata dan tak bisa dipungkiri. SELAMAT MEMBACA :)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar